About this blog

TENTANG KOPAJA (KOmunitas Peduli Anak JAlanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) adalah komunitas yang bergerak dalam memanusiakan anak jalanan melalui pendidikan dan program-program pemberdayaan.

Pesantren Kilat Anak Jalanan (KOPAJA)

Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) memiliki salah satu misi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa anak jalanan. Melalui misi KOPAJA yang satu ini kami mengajak dan merangkul seluruh masyarakat .

Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

CATATAN DIARY HATI NAYA

Inilah salahsatu tulisan saya yang belum terpublikasikan, dan belum teredit keseluruhannya.
Silahkan dibaca, dan silahkan dikomentari. terima kasih



     Aku dan Naya memang memliki kesamaan dalam hal menginginkan sesuatu. Baik berupa barang, pakaian, asesoris, dan apa lagi sampai model rambut pun kita samakan. Sejak kecil, aku selalu mengagumi sosok Naya, adikku yang cerdas lagi anggun dalam berpenampilan.

      Banyak prestasi yang telah dia dapatkan. Aku yang sebagai kakaknya begitu bangga. Tidak ada rasa iri di hati ini. Biarlah aku menjadi nomor kedua yang akan disanjung orangtua.

      Di jenjang perkuliahannya pun Naya selalu unggul. Hingga banyak lelaki melirik untuk dijadikan pacar. Tetapi adikku ini sangatlah hati – hati dalam pergaulannya. Apalagi dia sudah menggunakan jilbab setelah lulus Sekolah Dasar. Semakin cantik saja wajah itu. Apalagi daster muslimahnya yang dia kenakan sungguh indah dan anggun di mataku. membuatku makin sayang padanya - adikku yang bak bidadari itu.

      Adikku Naya, dia banyak sekali memberikanku pelajaran berharga. Baik dalam memberikan arahan ilmu agama, sampai berperilaku pun dia selalu mengingatkanku.
      Memang dalam segi keinginan, kita sama. Tetapi dalam segi cara mencintai seorang kita berbeda. Aku yang sebagai perempuan biasa ingin sekali memiliki lelaki untuk menjadi pacar ataupun sebagai pasangan hidup. Namun hingga sekarang belum ada yang pas buatku. Hingga pada akhirnya aku menemukan lelaki yang mungkin pantas untukku. Lelaki itu begitu wibawa. Namun berpenampilan sederhana. Firman, itulah namanya. Ketua ROHIS di kampusku ini memang sudah banyak menarik perhatian gadis – gadis. Dari yang berjilbab, hingga yang tidak berjilbab, semua mengejar untuk mendapatkannya. Luar biasa bukan!,
Sedangkan perasaan Naya terhadap lelaki membuatku bingung. Lelaki seperti apakah yang bisa membuat hati adikku ini luluh. Aku semakin penasaran.

      Di kampus, Naya begitu aktif di organisasi berbasis kerohanian. Begitu juga Firman. Setiap ada kegiatan keagamaan, mereka bedua pastilah menjadi salah satu panitianya. Disetiap kegiatan, Firman selalu membantu pekerjaan Naya. Mengingat Firman merupakan ketua ROHIS, aku yang melihatnya hanya beranggapan biasa saja. Cemburu itu mungkin telah ada, tapi bagiku biasa saja.

     Selama aku bersama dengan Naya, belum pernah aku mendengarnya membahas seorang pasangan hidup. Mungkin adikku ini belumlah siap untuk menjalin kasih dengan seorang.

     Pernah aku menanyakannya“De, perasaan Mbak, kamu belum pernah menyebutkan satu nama pun seorang laki – laki yang mungkin kamu anggap spesial?”

     “Ah Mbak Ifah, biasa aja. Dede belum ada bahasan ke sana” jawabnya sambil membaca sebuah buku novel karya Habiburrahman El-Sirezy.
     “Emangnya kenapa, padahal kamukan cantik loh De, yang pasti banyaklah laki – laki diluar sana yang tertarik dengan kamu. Lagi juga nggak apa – apakan merasakan yang namanya jatuh cinta”
Naya hanya bisa tersenyum padaku. senyumannya itu, membuatku penasaran akan tentang dirinya.
Dulu gadis itu begitu tomboy, berteman dengan laki-laki adalah hal yang sudah terbiasa. Menginjak Sekolah Menengah Pertama, terlihat gadis itu adalah tipe yang periang, dan juga masih saja tomboy. sudah lebih dari lima laki – laki yang di ajaknya berkelahi. luar biasa bukan, tapi itulah Naya semasa kecilnya.

     Pernah ketika di rumah, Naya sempat berkelahi dengan Rudi, anak tetangga sebelah. Aku sendiri melohok saja melihat Naya berkelahi.. Cuma gara – gara kalah main bola dari kelompok Rudi, langsung Naya mengajaknya berkelahi, tapi nyatanya Nayalah yang menang.
    Tapi ketika masuk ke Perguruan Tinggi dan berteman dengan orang – orang yang beragamis, adikku berubah seratus delapan puluh derajat. Dari segi penampilan berbusana, sikap dan tata kramanya, hingga akhirnya Naya memberanikan diri memakai jilbab hingga sekarang.
    Namun apa mungkin, sifatnya yang tomboy itu masih ada hingga sekarang. Atau karena karakter serta penampilan barunya itu membuat adikku Naya belum memikirkan atau merasakan yang namanya jatuh cinta terhadap seorang laki-laki.

***

    Di kampus, Firman membuatku semakin menyukainya saja. Sosok yang taat agama, apalagi rajin ibadahnya. Menjadi idaman banyak perempuan muslimah pada umumnya. Menjadi sosok yang bisa membimbing seorang isteri - Menjadi Imam dalam keluarga.
    Terlintas dalam fikiranku untuk bisa mencoba mendapatkan nomor ponsel Firman, dan akhirnya aku mendapatkannya dari adikku, Naya. Mungkin aku yang sebagai perempuan biasa, tidak mungkin mempunyai harapan untuk bisa mendapatkannya. Minimal berbicara dengannya bagiku adalah hal yang menyenangkan.
    Malam itu, aku tuangkan perasaanku pada adikku, Naya. Dengan semangat bergebu – gebu aku menceritakan perasaanku dengan detail sekali. Adikku ternyata seorang pendengar yang sangat setia. Aku semakin semangat saja. Naya mendengarkan, tersenyum dan mengangguk – ngangguk paham.
    “Ternyata Mbak Ifah sangat mencintainya ya, aku yang sebagai adik mbak akan selalu mendukung” katanya dengan mantap.

     “Benarkah itu de?, duh, Mbak jadi senang banget!” ujarku penuh semangat.
Malam itu, aku memandang langit bertabur bintang penuh harapan bersama adikku, Naya.
     “Cinta itu indah ya De, bagai cahaya rembulan yang begitu romantis dipandang.” Dengan jilbab birunya yang panjang tersibak angin malam dia tersenyum padaku, namun pekatnya malam tidak bisa menipu pandangan mataku. Naya menitikan air mata.

      Aku tidak mengerti dengan kejadian semalam itu. Kenapa adiknya menangis. Hatiku mulai gundah. Takut ada sesuatu yang terjadi dengan Naya.

      Selepas pulang dari kampus, aku langsung menemui Naya. Ingin sekali aku mengajaknya makan bersama, dan saling tukar pikiran. Sekejap, aku langsung menuju ruangan kelasnya, namun tidak ada. Akhirnya aku menuju ruang ROHIS. Ternyata Naya ada di sana, bersama dengan Firman, berdua dalam satu ruang.
     Aku memperhatikan dari luar ruangan. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Sesuatu yang sangat intens. Firman hanya menunduk saja. Sedangkan Naya sedang menjelaskan dengan sangat serius. Hanya beberapa menit saja pembicaraan itu selesai, dan Naya langsung keluar ruangan. Tanpa disadarinya, aku sudah menunggunya di balik pintu luar. Naya langsung kaget melihatku sudah berada di pintu. Begitu juga Firman, dia hanya memandangiku tanpa bergerak sedikitpun.

    Di kantin, aku menanyakan apa yang Naya lakukan di ruangan itu bersama Firman, tapi Naya hanya terdiam sambil menyuapi makanan ke mulutnya, dan tersenyum padaku; Aku semakin penasaran.

***

    Sidang Skripsiku berjalan lancar. Alhamdulillah, aku mendapat predikat Cumload!. Aku begitu besyukur kerja kerasku selama berkuliah tidak sia –sia. Sesampai di rumah, aku langsung memeluk kedua orangtuaku, begitu juga dengan Naya. Dia juga akan disidang tahun depan.
    Kami langsung merayakannya di luar bersama teman – teman, Naya pun aku ajak ikut. Firman juga ada di sana. Lagi – lagi adikku ini sungguh tidak bisa ditebak. Berdiam diri memisahkan diri dari kerumunan teman-temanku hanya untuk melihat – lihat panorama pantai. Aku yang begitu kasihan melihatnya langsung mengajak bergabung kembali.

     Semenjak kelulusan, aku dan Firman ternyata sudah saling berdekatan. Saling berbicara tentang banyak hal. Naya-lah yang mendekatkan aku dengan Fiman. Betapa bahagianya aku memiliki adik sepertinya. Kali ini, aku tidak mau kalah oleh adikku sendiri. aku telah memutuskan memakai jilbab juga. Betapa bangganya aku menggunakannya. Ternyata kehawatiranku tentang mengenakan jilbab hanya pemikiran yang salah. Takut gatallah, gerah, bikin pusing, dan malah hampir terlintas, takut kurang cantik dipandang, tapi kenyataannya sebaliknya, nyaman, dan pasti cantik sekali.

    Setiap kali jalan – jalan dengan Firman, aku selalu mengajak Naya bergabung. Karena aku mulai tahu tentang batasan antara laki –laki dan perempuan di mata Islam itu bagaimana. Berkholwat (berduaan tanpa mahromnya) maka yang ketiganya adalah setan. Naya dan Firmanlah yang mngajarkanku segalanya.

***

   Hari yang aku nantikan akhirnya tiba, sesuatu yang sangat aku tunggu. Bahagianya aku, Firman akan melamarku, hari ini tepatnya ketika dia akan berjanji akan melamarku lima hari yang lalu.
    Aku sudah tidak sabar lagi, dengan wajah yang merona dan mataku yang sudah berpijar pijar bagai bintang kejora. Aku langsung menyuruh kedua orangtuaku mempersiapkan segalanya nanti. Dari penyambutan, hingga acara inti. Harus sudah direncanakan matang – matang. Hari itu aku memang super sibuk. Bagaimana nanti kalau mau nikahnya, lebih sibuk dari sekarang ini.

    Aku mencari Naya, namun belum ketemu. “Kemana adikku ini. Padahal kemarin sudah aku kasih tahu kalau sekarang kakaknya akan dilamar oleh seorang laki – laki yang sejak dulu di idam – idamkan banyak perempuan di kampusnya. Betapa beruntungnya diriku ini.” Batinku terus menyahut kegirangan.
    Di ruangan lain tidak ada, dapur tidak ada., hingga akhirnya di kamarnya pun tidak ada. Kemana dia. Oh Naya, ada apa sebenarnya dengan dirimu. Tiba – tiba mataku tertuju pada sebuah buku diary kecil milik Naya di atas meja belajarnya. Buku itu masih terbuka. Rupanya semalam Naya menulis sesuatu di buku diary-nya. Aku lalu melihat dan membacanya.

    “Apa!?, tidak mungkin….” aku yang membacanya tidak kuat lagi membendung air mata ini. Badanku lemas seketika. Tersungkur duduk bersandar pada lemari pakaian adikku.
     ‘Adikku, adikku Naya……..selama ini mencintai Firman’.

      Aku mulai mengumpulkan tenaga untuk bisa bangkit dari kenyataan ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Naya ternyata mencintai Firman, dan begitu juga sebaliknya, Firman pun mencintai Naya. Jadi selama ini, aku telah memisahkan cinta mereka. Kini sudah jelas sudah, kenapa Naya waktu itu menangis. “Aku telah berbuat jahat, aku telah berbuat jahat!” Jerit hatiku sangat keras. Jilbabku tidak tertata rapih, rambutku terurai bebas. Aku mulai menjabaki rambutku. Aku telah berbuat jahat pada Adikku sendiri. Oh Naya, maafkan kakakmu ini yang telah merebut kebahagiaanmu.

    “Aku, aku harus bagaimana” isakan tangis semakin kencang. Aku harus genggam apapun untuk bisa berdiri.

    Buku diary Naya aku taruh kembali pada tempatnya. Tanganku begitu lemas sekali. Jangan sampai Naya tahu bahwa aku ada di sini apalagi sudah membaca buku diary-nya. Aku pun bergegas keluar dari kamar dan merapihkan pakaian beserta jilbabku.

   Diruang tamu, ternyata Naya sudah ada di sana bercengkrama dengan ayah dan Ibu. Aku langsung cuci muka untuk menghilangkan muka sedihku ini. Aku harus nampak segar, bahagia dihadapan Naya dan orangtua.

    Semua sudah berkumpul, semua sudah disiapkan. Akhirnya yang ditunggu datang juga, Firman beserta kedua orangtuanya dan juga adik perempuannya telah ada didepan pintu rumah. Naya segera mempersilahkan masuk rombongan keluarga tersebut. Firman nampak ganteng sekali dengan pekaian kemeja yang dia kenakan. Sesekali aku mengagumi ketampanannya dan juga wibawanya. Tapi…aku melirik adikku yang dari tadi hanya bisa tersenyum. Sepatah kata pun aku belum dengar dari lisannya. “Ya Allah, tanpa sadar aku telah menyakiti hatinya!.” Batin ini terus menjerit.

    Tibalah pembicaraan antar keluarga dimulai. Awalnya pmbicaraan yang ada hanya basa – basi saja hingga Ayah Firman mulai menyatakan niat kedatangannya pada kedua orangtuaku. Aku mulai gugup. Ada rasa bahagia namun kesedihan yang aku rasakan sangatlah begitu terasa.

    “Saya beserta keluarga berniat atas kedatangan kemari bukan bermaksud bertamu saja, tapi kami ada maksud berniat untuk keperluan lainnya juga, yaitu, mewakili niat anak kami, Firman untuk melamar anak perempuan Bapak yang bernama Afifah Widyanti. Sekiranya Bapak dan Ibu Afifah bisa memaklumi kedatangan kami” tutur Bapak Firman dengan tegas dan tenang - Aku mulai gelisah.

    “Ya, terima kasih atas penuturannya, kami sangat menghormati kedatangan sekeluarga, khususnya Nak Firman yang tampan serta gagah ini untuk melamar putri kami, Afifah. Tapi, kami hanya mendukung kelancaran acara ini, dan selebihnya kami serahkan pada putri kami yang lebih tau jawaban atas apa yang Bapak Firman tuturkan – ayo Nduk” tutur Bapakku dengan santunnya.
    Aku gugup, bingung, hanya diam kaku saja dihadapan mereka yang sedang menantikan jawabanku, khususnya Naya, adikku - akhirnya aku berbicara.

    “Bismillah…a….a..aku. Aku menolak lamaran Firman”

     Bagai Guntur di siang hari, semua terkaget-kaget dan terheran-heran mendengar jawaban atas ajuan pertanyaan lamaran Firman. Apalagi Naya, dia sungguh tidak percaya apa yang barusan aku ucapkan.
    “Apa yang Mbak Ifah ucapkan, Naya, Ibu, dan Bapak sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu Mbak” Naya mengelus-elus dadanya tidak percaya. Sedangkan Firman hanya terdiam saja. Bingung ingin berkata apa.

    “Maaf semuanya telah mengcewakan, khususnya keluarga Firman. Ada hal yang ingin aku tanyakan pada kamu Firman” seketika Firman terkejut.

     “Ya, apa itu, Ifah?”

     “Apa Kamu selama ini mencintai Adikku, Naya. Jawab saja yang jujur. Aku tidak marah? Aku mencoba terus tersenyum dan ikhlas.

      Hening seketika, semua mata tertuju pada Firman.

     “Iya, aku mencintainya” keluargaku dan keluarganya hanya bisa menjadi penonton serta pendengar dari peristiwa yang sedang terjadi ini.

     “Dan, kamu Naya…Mbak tau kamu mencintai Firman, Mbak sudah tahu, sayang. Buku diary-mulah yang telah memberi tahu Mbak. Dan Mbak sudah tahu kenapa waktu itu kamu berdua saja di ruangan kelas. Kamu memaksa Firman untuk mencintai Mbak, bukan” menitilah air mata ini. “Naya, adikku yang Mbak cintai, seharusnya kamu jujur pada Mbak soal kamu mencintai seorang!” aku mencoba tegar.

       Naya hanya bisa terdiam dan menangis, lama kemudian kami berpelukan.

      “Maafkan Naya ya Mbak, Naya sudah tidak jujur pada Mbak” aku menyusutkan air matanya dengan jemariku.
      “Iya tidak apa-apa De, Nah sekarang, kamu harus siap-siap dilamar ya” Aku tersenyum padanya. Dia kaget tapi mampu diredam. “I…iya Mbak”

      Akhirnya Firman melamar Naya. Pernikahannya pun berlangsung lancar. Aku sungguh bahagia melihat Naya begitu cerianya, dia memperlihatkan sosok seorang perempuan yang luar biasa bagi diriku.

***

    “Mbak, aku sudah tidak sabar nih” ujarnya penuh semangat. Aku mencubit pipinya gemas. Kami sedang duduk diatas lonteng rumah orangtua kami. Tempat yang nyaman untuk bisa melihat rembulan sambil bercerita dari hati ke hati.

    “Rembulan malam ini indah sekali ya De”

    “Iya Mbak, lebih bercahaya dari pada sebelumnya. Seperti mbakku ini loh. Besok Mbak sudah siap?”
    “Ah, kamu bisa aja De” aku tertawa sambil bercanda dengan Naya ”Insya Allah sudah De, doakan yang terbaik ya untuk Mbakmu ini” aku tersenyum sambil memandang rembulan.

   Aku sudah menanti akan kedatangan hari esok. Namun hari ini aku akan berpuas diri dengan cahaya rembulan yang telah memberikan semangat baru bagi diriku. Ya, besok aku akan dilamar. Akhirnya akan tiba waktunya untukku. Terima kasih Naya, engkaulah cahaya rembulan itu, sayang.
End.

Penulis : Azmi Syihabuddin Nur.
Nama Pena : Ahmad Khoirul Zulfithor

ENGKAULAH BIDADARI ITU, SAYANG

Alhamdulillah tulisan saya ini Pernah diterbitkan oleh penerbit Hasfa Media dalam antalogi Bunga Serampai - SERINGKUH


berjalan empat tahun kehidupanku sebagai seorang isteri dari seorang suami yang di jodohkan orangtuaku. Dikaruniai tiga orang anak membuatku semakin bekerja keras mengurus segala kebutuhan rumah tangga ini. Suamiku yang hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik belumlah mencukupi segala kebutuhan; apalagi ketiga anak kami semuanya sudah bersekolah.

Akupun bekerja serabutan sebagai tukang cuci pakaian ataupun sebagai buruh cuci piringpun; demi keluarga aku tidak peduli. Aku sangat mencintai suamiku. Walau dijodohkan oleh kedua orang tua kami masing – masing tapi aku sudah belajar untuk mencintainya; hingga kini aku selalu mendukung dan menyemangatinya ketika dia dalam kegundahan maupun kebimbangan dalam mengambil keputusan. Masukan demi masukan aku berikan dengan penuh kasih sayang dan tulus. Anak – anak juga demikian, aku yang sebagai ummu darosah; pendidik sekaligus Ibu bagi mereka di rumah; mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan yang lebih. Dipernikahan kami yang ke empat, terasa kerenggangan di antara aku dan suami.

Tidak seperti awal pernikahan dahulu, kecintaan suamiku begitu sangat terasa. Perhatiannya padaku begitu melekat apalagi dengan sentuhan kata – katanya yang puitis, perempuan mana yang tidak tunduk hatinya. Setiap hari bila keluar selalu bersama – sama. Bergandeng tangan seperti orang yang sedang berpacaran pada umumnya. Bagiku sosoknya adalah tipe yang bertanggung jawab dan komitment terhadap keluarga. Namun ada keraguan muncul begitu saja. Ya Allah, aku mencintainya.

 ***

Ponsel suami tiba – tiba terdengar olehku. “Rupanya suami lupa membawa ponselnya ke tempat kerja” ujar batinku. Sepuluh pesan terlihat belum dibaca oleh suamiku. Aku yang penasaran ingin sekali melihatnya. Takut – takut ada berita penting yang seharusnya suamiku tahu.. Tapi karena penasaran aku membukanya. Betapa terkejutnya aku terbelalak mataku melihat siapa pengirimnya dan begitu juga isinya.

Lima pesan terkirim semalam, sedangkan sisanya subuh tadi.

Hai sayang kamu sudah makan belum?
Aku kangen nih say, kamu kemana sih?
Liburan kita jalan – jalan yuk, sekalian beliin aku baju yang bagus.

Membaca beberapa pesan saja sudah membuat badan ini terkulai lemas. Aku tidak menyangka ada perempuan lain di hati suamiku.

“Kurang apa diriku ini” batinku menjerit.

Aku menyangkal selama empat tahun ini aku sudah memberikan konstribusi lebih banyak kepada suami, dukungan moral dan semangat selalu aku sematkan kepada suami. Pekerjaan tambahan demi menambah pemasukan aku jalani karena aku tidak menyesal menikah dengan dirinya, karena aku tahu suamiku adalah suami yang terbaik dari Allah yang pantas aku cintai. Akupun langsung mempertanyakan tentang pesan tersebut kepada suamiku. Namun jangan sampai anak – anak tahu tentang apa yang terjadi. Yang pasti akan menghancurkan harapan mereka terhadap keluarga ini.

“Mas, apa maksud dari pesan ini?” menyodorkan ponsel padanya. Dia melihatnya, dan hanya bisa menghela nafas panjang dengan masygul.

“Saya tanya sekali lagi Mas, ini maksudnya apa, dan siapa Rani itu? Kekasih Maskah?” tubuh ini bergetar, bulir – bulir air mata ingin rasanya tumpah ruah ingin menangis sejadinya. Tapi demi ketegaran, demi kebenaran, aku ingin mendengarnya terlebih dahulu dari llisan suamiku.

Dia hanya terdiam mematung menatap air mataku yang ingin jatuh. Akhirnya dia angkat bicara.

“Dia mantan pacarku waktu SMA, kami sudah berhubungan sebelum kita menikah” Air mata tumpah seketika, aku menjerit – jerit sejadinya. aku tidak percaya, empat tahun bersama ternyata diam – diam suamiku menghianati cintaku.

Jadi selama ini aku mencintai seorang yang tidak pernah memberikan cintanya dengan tulus. Lalu untuk apa aku mencintainya.

***

Sebulan lebih kami tidak saling berbicara. Menegurpun saja tidak. Ketika makan bersama dengan anak – anakpun hanya menampangkan wajah dingin diantara kami. Aku tahu anak – anak sudah mulai curiga dengan kami; kadang mereka bertanya ada apa dengan kami, aku hanya menjawab, “tidak ada apa – apa” memberikan senyuman bagiku adalah cara tepat untuk mengurangi kecurigaan yang berlebihan dari mereka.

 Aku perhatikan ponselnya masih saja berdering di tangannya. Sambil menyembunyikan ponselnya dia membalas pesan itu. Aku tahu, dia masih berhubungan dengan gadis tersebut. Ini sudah menjadi keputusan bulatku. Tidak ada petimbangan lagi. Hanya saja anak – anak, mereka masih membutuhkan sebuah kasih sayangnya.

Sebuah keluarga yang utuh adalah dambaan mereka, tapi itu mugkin tidak bisa terwujud. Hati ini sudah terkhianati dan tersakiti. Biar aku yang menanggung segalanya tentang anak – anak nantinya. Suamiku sedang duduk di depan teras.

Aku bersiap mengutarakan keputusanku padanya. “Saya ingin cerai Mas” suamiku hanya terdiam sambil tersenyum padaku. Aku yang melihatnya menjadi bingung bercampur kesal. “Kenapa Mas tersenyum begitu, apa mungkin Mas sudah menungu saat ini?” bentakku di hadapannya, namun dia tidak bergeming. Tanpa disadari dia sudah berdiri dihadapanku dan memelukku dengan eratnya.

“Maafkan Mas. Mas sudah mengkhianati cinta Dinda. Tolong, beri Mas kesempatan kedua untuk bisa merajut cinta kita menjadi utuh selamanya.” Dia menangis.

“Lalu bagaimana dengan gadis itu Mas, apakah Mas sudah lupa?”

“Mas sudah tidak berhubungan dengannya lagi, dia hanya masa lalu Mas”

“Mas aku mencintaimu”

“Mas juga Dinda” isakan tangisnya terdengar di telingaku. Aku yang awalnya begitu marah tiba – tiba saja luluh begitu saja mendengarnya. Suamiku berbicara tulus, dari hatinya aku tahu itu. Dia mencium keningku.

“Engkaulah bidadari itu sayang” Aku memandangnya lekat – lekat, ponselnya berdering kembali.

(196 KATA)

Tentang saya : AHMAD KHOIRUL ZUL FITHOR adalah nama pena dari AZMI S.N yang juga merupakan nama Facebooknya. Biasa akrab dipanggil AZZAM oleh teman-teman. Beralamat di Jl. Dewi Sartika Bekasi Timur, Kota Bekasi. Masa SMP pernah dididik di sebuah Ponpes Pesantren Modern di Sumedang bernama Ponpes Modern Al-Aqsha yang bertempatkan di daerah jatinangor. Lulus SMA di Bekasi. Aktifitas sekarang adalah menulis, karena menulis sudah disukai dari waktu masih kecil. Beberapa puisi dan cerpen sudah diikutkan ke beberapa lomba termasuk antologi, dan pada tahun 2010 bergabung dengan FLP Jakarta untuk mengembangkan bakatnya untuk menjadi seoarang penulis Profesional sebagaimana yang dicita-citakannya.

Kamis, 19 April 2012

Puisiku untukmu, Ummi (Nenek)

Hari ini aku kehujanan
Bukan, tapi sengaja kehujanan
Di setiap gemericiknya air hujan, sekilas tenang hati ini
Sambil memunguti sampah dan dedaunan, kenangan itu kembai nampak

Ummi..
Ya, sebutan nama untuk nenekku dari Ibu..
Sejak kecil, aku sering bermain di tempatnya
Kadang membuat kegaduhan bersama teman-teman
Ummi berteriak "Ami, jangan main lagi, hujan!"

Ummi..
Aku mendengar teriakan kasih sayangmu..
Aku tahu kau cuma memanggilku karena tetesan hujan telah turun mengguyur kota hujan itu..
Kala itu senja..
Namun, aku lekas berlari riang ke luar..
Usiaku waktu itu baru menginjak delapan tahunan

Hujan lebat turun disertai angin kencang
Dedaunan dua pohon belimbing berhamburan di pekarangan..
Aku, dan sahabatku Abi bermain hujan-hujanan sesuka hati
Kadang kami berselonjoran di tempat air hujan mengalir ke selokan
Jijik memang, tapi bagiku itu menyenangkan

Setelah hujan reda, Ummi lekas membawaku ke dalam rumah untuk mandi
Aku cucumu yang nakal, hehe.

Kini Usiamu sudah mulai lemah, Bersama Appa (Sebutan untuk kakek) kalian menikmati senja
Aku ke rumahmu, Ummi
kau begitu lemah..
Dalam hati aku menitikan air mata, sebenarnya. Namun aku tahan dalam ketegaran
Kau kaget ketika aku datang, sehingga buru-buru kau berbelanja untuk membeli bahan masakan..

Ummi..
Tubuhmu sudahlah amat lelah..
Aku menemukanmu sedang berbicara dengan Ibu tetangga belakang..
Kau melihatku dengan rasa cinta
Kakimu sudah tak ada daya untuk berjalan lagi, di tanganmu sudah ada kantong plasitik hitam berisi bahan makanan
Kau berjalan, dan aku memapah badanmu yang lemah

Ummi..
Aku tak kuasa lagi melihatmu begini
sudah saatnya dirimu mengurangi aktivitas sehari-hari
Andai aku mampu

Senja sudah mulai tenggelam
Kau masih saja beraktivitas,
Beribadah dalam keremangan lampu kamar
Dalam setiap sujudmu, kau bisikan selalu padaNya
Bisikan yang sering kau utarakan kepadaku
"Jadilah orang yang bijaksana lagi berguna
Taatilah kedua orangtua
Dan jadilah diri sendiri, dan hargailah orang lain
Kelak kau (aku) akan mengerti akan sebuah jalan hidup yang kau tempuh"
Begitulah bisikanmu

Ummi..
Aku sayang padamu
Dari cinta seorang cucu yang menikmati senja, bersamamu.

Tangerang, 19-04-2012
(Azzam)

Rabu, 18 April 2012

Mengenali diri sendiri - Inilah saya apa adanya

Menjadi Diri Sendiri


Saya dibesarkan di kalangan keluarga yang agamis, sebenarnya. Tapi entah kenapa kelakuan saya sejak kecil kurang beruntung. Banyak problema yang terjadi. Mungkin sebagian orang enggan peduli dengan kisah kelam saya. bagi saya tidak apa-apa. karena saya ingin terus belajar mengenal diri saya. menilai kemampuan saya sampai di mana ketahanan fisik dan batin saya dalam berkehidupan. 


Kesabaran saya terus diuji. belajar meredam masa lalu.


Singkat cerita, saya dulu dibesarkan juga oleh Pondok Pesantren di Sumedang. Alasan saya ke sana juga gak tahu kenapa. Tapi dorongan niat yang sangat kuat menyuruh saya untuk ke sana. Walhasil saya adalah lulusan pesantren tersebut. Sayangnya, saya adalah orang yang tidak mau menjadi ustadz atau sebangsanya. Saya ingin menjadi apa yang kehendak diri.


Semenjak masuk SMA, tepatnya kota kelahiran saya di Bekasi. saya mulai menyukai dunia keorganisasian. Entah naluri turunan dari keluarga atau semisalnya. Di ROHIS, saya dulu adalah seorang anggota yang kemudian merangkap ke OSIS. Sebelumnya saya juga ikut PASKIBRA. ROHIS dan OSIS,  organisasi ini saya jalani secara bersamaan. Di ROHIS kedudukan tertinggi saya adalah wakil ketua. Sebenarnya saya yang menjadi ketuanya, namun karena waktu itu di OSIS saya sebagai ketua 1 yang memegang SEKBID Agama dan kesenian, kalau tidak salah. Pembina ROHIS, merasa tidak setuju saya sebagai ketua, karena takut saya adalah mata-mata dari OSIS, atau syaa lebih meniti beratkan pada OSIS. sebenarnya saya enjoy aja menjalankan keduanya. terus berjalan, hingga saya terbang ke organisasi luar bernama FPMB (Forum Pelajar Muslim Se-kota Bekasi). Di sana juga saya menjabat sebagai ketua wilayah 2, memegang sekolah SMA/SMP(Bekasi Timur dan Barat). Alhamdulillah, semua berjalan lancar, hingga LPJ beerlangsung lancar juga.


Setelah kelulusan pun saya tak luput dari dunia organisasi, lagi-lagi saya mendapatkan jabatan yang sangat penting, sebagai ketua umum. Dari situ saya sering mendapat berbagai penilaian dari teman-teman. Banyak yang bilang saya adalah seorang KONSEPTOR, ANALISATOR, TINKer (orang yang mempunyai daya pikir yang kuat), dan juga seorang lapangan. itu juga kalau ada tugas yang jelas. Itulah saya, dan saya merasakan itu. Apalagi saya paling senang menganalisa sesuatu. Apalagi saya kini sudah senang di sebuah kehidupan kepenulisan, walau masih tersendat akbiat problema diri dan keluarga. saya terus berusaha tegar berdiri. Di usia saya yang terbilang masih muda, saya sudah merasakan pahitnya manis kehidupan, jatuh bangun pun sudah dirasai. dan kini berusaha terus berdiri tegak dengan banyak belajar dari orang-orang yang sangat saya kagumi, dan hebat dalam bidangnya.


Akhir:
Ada sebagian orang tidak suka dengan perangai saya yang seperti itu. banyak. Ya, orang-orang itu adalah orang-orang yang mempunyai daya agresif yang sangat tinggi dalam bertindak. Orang-orang yang lebih suka dengan berfikir sederhana dan melakukan sebuah tindakan, dan saya banyak belajar dari mereka, sungguh, banyak orang atau sahabat-sahabat saya yang juga seorang aktivis atau organisasi, saya adalah orang yang mempunyai sifat seorang pemimpin, namun sayangnya saya juga banyak kekurangan. namanya juga manusia, tak luput dari salah dan lupa. Saya bukan orang yang idealis, saya hanya orang yang biasa, orang yang apa adanya menerima masukan kritik dan saran. dari sanalah saya banyak belajar, hingga sekarang.






(Azzam)

Kamis, 29 Desember 2011

Sebuah Ingatan, Sebuah Keinginan (Menikah)


Menjelang subuh tiba-tiba saja saya terusik oleh sebuah ingatan yang membuat saya tersenyum.Begitu gregetnya saya ingin menulisnya hanya untuk sekedar bahan memorial yang tak akan pernah dilupakan.

Menjelang jam 12 malam, saya mendapat Pesan Singkat dari seorang teman dari FLP. katanya dia tidak sengaja meng-add akun facebook yang mengaku bernama 'Azzam' tapi nama akunnya tidak saya kenal sama sekali. dia mengira itu punya saya. Padahal saya hanya mempunyai tiga akun facebook. Yang satu saya sudah tidak pernah memakainya lagi, dan sekarang hanya tinggal dua saja digunakan.

Penasaran. Ya, saya memang penasaran siapa 'Azzam' pemilik akun itu. selanjutnya saya mendapatkan Pesan Singkat kembali. kali ini dia lupa pasword Facebooknya. Sebenarnya saya juga lupa pasword miliknya yang waktu itu saya bantu mencoba membenarkan akun facebooknya. akhirnya saya mencoba dengan mengingatnya dengan menyelusuri alamat Emailnya, dan berhasil. Saya dapat membuka Facebooknya. dari situ saya semakin penasaran. Saya lalu membuka list inboxnya saya tanpa harus melihat isi dari setiap pesan yang masuk. dari deretan nama dan foto yang ada, mata saya tertuju pada sebuah photo laki-laki yang sebenarnya sudah tidak asing lagi siapa dia. dia adalah sahabat satu organisasi dakwah (Saya hanya seorang laki-laki biasa) yang cukup dikenal pada masa SMA. Dari situ saya mulai mengingat kembali pada masa itu.

Dulu, ketika masih masa SMA. Masa di mana saya selalu menempuh hidup serba sibuk. Tipikal saya memang pendiam, tapi kadang ada waktu saya begitu cerewet bila sedang menghadapi sebuah permasalahan. Kuping panas, hati gerah? mungkin itu yang terlintas dari hasil ocehan saya. Sebenarnya saya hanya mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi teman-teman. kita lewati saja.

Jadi, yang saya ingin tulis adalah kisah kekonyolan kita pada masa itu. ketika dari SMA sudah memikirkan jalan masa depan masing-masing yang pastinya berbeda, tapi ada satu perencanaan yang luar biasa kita begitu kompak memikirkannya. Apakah itu? sebuah pertanyaan dari masing-masing dari kita untuk kita sendiri "Kapan kita menikah?" konyol bukan, tapi bagi kita ini penting, hehe.

Setiap kali rapat, dan berkumpul. Pasti ada saja bahan spesial yang selalu kita bahas bersama-sama yaitu tadi, "Kapan kita menikah?", padahal tidak ada di jadwal agenda loh. Siang itu dalam teriknya matahari, di sebuah masjid yang selalu dijadikan tempat kita rapat. Saya dan seorang teman  sedang asyik duduk di teras diiringi sepoinya angin hingga membawa pada rasa kantuk yang amat sangat. tapi mau bagaimana lagi, kita akan mengadakan rapat. Seminggu sebelumnya sudah dapat jarkoman dari tukang jarkom bahwa hari ini kita akan rapat dengan bahasan agenda bla..bla..bla.. yang akan dipimpin oleh bla..bla..bla. 

"Membosankan paling juga ngaret lagi" kata teman saya.

"Tenang aja paling juga setengah jam lagi pada datang semua" padahal biasanya yang datang cuma tiga, atau sampai lima orang saja. Sedangkan anggotanya aja mungkin ada puluhan. kemana tuh.

Ujung-ujungnya kita ngobrol gak karuan, alias curcol. Ketika asyik bincang-bincang tiba-tiba datang seorang akhwat dari sekolah bla..bla..bla.. dengan menggunakan busana muslim super rapi dan menggunakan kerudung panjang sedang berjalan masuk ke dalam masjid. Otomatis kita langsung berpaling darinya sejenak. Si Akhwat berlalu begitu saja, dan kepala kembali di putar pada tempatnya semula.

Mulai deh pembicaan sebenarnya.

"Eh, itu si Fulan yang dari sekolah bla..bla..bla.. itu ya?" kata saya.

"Ya, subhanallah ya, kapan ya kita mendapatkan seorang akhwat seperti itu" balas teman saya dengan sebuah keinginan yang luar biasanya itu. Saya juga ngarep banget.

ketika itu muncul lagi akhwat dengan busana yang hampir sama namun dengan motif yang berbeda sambil memarkirkan motornya di halaman masjid. Lagi-lagi kita memutarkan kepala kita hampir 90 derajat ke arah samping masjid yang hanya ada hamparan rerumputan. Si akhwat masuk begitu saja  sambil menundukan kepala dari kita. Kepala kita kembali diputar pada tempatnya. Capek deh.

"Duh, Subhanallah lagi deh. benar-benar wanita sholehah. Kapan ya kita bisa menikah?" berandai-andai.

"Insya Allah nanti" kata saya, sambil melirik-lirik ke dalam masjid. Kali aja gak sengaja melihat wajahnya hehe. Ada-ada aja.

begitulah kekonyolan yang mungkin hanya sebuah andai-andai, tapi sebenarnya adalah sebuah cita-cita yang cukup luar biasa kita renungkan dan kita impikan, tidak ada yang mustahil selagi kita tetap berusaha.

Selepas masa SMA begitu juga, sama saja topiknya. ketika kita saling bertemu dalam sebuah Forum Alumi  dari organisasi kita yang lama. Hanya saja lebih mendalam kepada pernikahan, dan pekerjaan. Beserta perkuliahan. Tetap saja perbincangan sebuah pernikahan lebih mendominasi. Malah dari kita sudah ada yang menikah. Itupun sepenuhnya akhwat-akhwatnya. tinggal ikhwan-ikhwannya saja yang pada belum menikah. Ada apa gerangan?.

Dulu saya pernah ikut seminar tentang pernikahan yang di bawakan oleh seorang motivator asal Bandung Abi Fahri Nabhan Rabhani yang waktu itu di adakan di gedung Robbani, Rawamangun Jakarta, itu pun saya dapat undangan dari seorang akhwat yang juga dulunya satu organisasi. Di sana kita mendapat binaan bagaimana hati kita untuk bisa memantapkan diri untuk menikah. Yaitu dengan cara keyakinan Illahiyah. keyakinan yang berlandaskan kepada Allah. Pada sebuah seksi acara ke sekian, ada sebuah pertanyaan dari Abi Fahri, "Kamu Siap Menikah?" dan itu ditunjukan kepada semua peserta. Lalu pertanyaan itu ditanyakan satu-satu kepada kita. Yang menyedihkan waktu itu, peserta laki-lakinya hanya saya dan teman saya. Sisanya perempuan semua. Kemudian pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, dan saya hanya bilang "Tidak tahu" hening. Kemudian Abi fahri berkata "Tuh lihat, perempuannya saya kasih pertanyaan ini pada diam. perempuan bila ditanya tapi diam, pasti itu menandakan dia siap. Nah, kamu sudah siap tidak? kalau siap tinggal kamu pilih permpuan mana yang kamu inginkan" lagi-lagi saya hanya bisa menjawab "Tidak tahu" tiba-tiba dari sudut kanan belakang dari barisan perempuan ada yang berdiri dan berkata "Ah, laki-laki gak ada yang berani, ustadz!" lantang jelas dan membuat saya tersindir habis.

Sebenarnya saya sudah menyatakan kepada orangtua untuk berkeinginan menikah. Tapi, ternyata saya belum di izinkan untuk menikah. Ada sesuatu dari orangtua termasuk Ibu mengharapkan saya untuk lebih dan lebih bisa membahagiakan orangtua dulu. Demi berbakti kepada orangtua, saya turuti kemauan mereka hingga sekarang. Akan tetapi, suatu saat nantinya pasti saya akan tanyakan kembali dengan sudah mempersiapkan calon isteri yang tepat. Amin. 







“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)


“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)


“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra 32)


“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)





“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Selasa, 22 Februari 2011

PERGILAH JAUH DARI HATIKU

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku. Seorang wanita yang mampu membuatku terpanah mematung hanya untuk melihat senyuman ceriamu. Mengisi hari-hariku dengan puisi kelembutan sapaanmu. Kau yang selalu hadir dikala malam ditemani rembulan penuh sepi dan gundah. Kau bagaikan sinar bintang yang menyinari disetiap relung langit hatiku. Ku dekap erat dan dalam-dalam perasaan ini, namun akhirnya kau mengetahui keberadaannya. Kau menerima.

Disela-sela keaktivitasan dirimu-aku. Selalu saja hati ini tertaut untuk mengetahui kabar keadaanmu. Kau-aku saling memberi nasihat, memberi harapan agar saling mengerti. Walau kau berada di ujung sana, aku merasakan dirimu begitu dekat disampingku. Tapi, malapetaka itu datang. Sebuah pertengkaran mulut sering terjadi. Kesalahpahaman menimpa, aku cemburu, bagaimana bisa?. Ya, kehidupanmu telah membuatku iri. Aku yang pemalu ini, mencoba untuk berani berhadapan langsung dengan seorang wanita, tapi tetap saja tidak bisa, aku malu. Sedangkan dirimu, berhadapan dengan laki-laki seperti sudah biasa, malah tidak ada rasa canggung sedikitpun, aku bertanya kenapa, dan kau pun menjawab ”Saya tahu batas-batasannya bagaimana, jadi tenang saja ya”. Mungkin bagimu biasa-biasa saja, tapi bagiku, sesuatu yang menyakitkan.

Akhirnya suatu hari kau memutuskan untuk berpisah karena capek akan kecemburuanku. Kau memohon untuk menghilangkan perasaan itu dari hatiku, dan menggantikannya dengan sebatas murni sebagai teman. Sebuah guntur besar menyambar dahsyat pada batinku disiang hari, menjadikan keputus asaan dan keterpurukan yang luar biasa membinasakan keimananku, memporak-porandakan taman bunga yang sedang bersemi indahnya. Sudah tidak ada lagi kesempatan berikutnya bagiku olehmu.

Berbulan-bulan lamanya, komunikasi terputus. Semua pesan singkat yang kau kirimkan, aku hapus, tanda aku harus melupakanmu. Sudah tidak ada lagi kabar darimu yang harus aku ketahui, sapaan pun sudah tidak terbina lagi ketika berjumpa.  Hanya duka akan kenangan pahit akibat kesalahanku membuatmu kecewa.

Hari ini, aku melihatmu begitu ceria, seakan-akan kejadian yang lalu kau tidak hiraukan. Tapi biarkan saja, mungkin kau bukan jodohku. Dulu, kau pernah bilang ”Jodoh itu tidak akan pernah tertukar, jadi pasti semua makhluk sudah ditentukan jodohnya maing-masing” dengan senyumanmu meyakinkanku akan kalimat tersebut.

Sebuah kehawatiran melandaku. Sebuah mimpi buruk hadir membayang-bayangiku dalam keseharianku, kau bepelukan dengan seorang tepat dihadapanku, tanpa aku ketahui apakah dirimu sudah menikah.  Setiap kali berjumpa denganmu, mimpi itu terus hadir membayangiku. Gemetar seluruh tubuhku menahan kesedihan keluar dari rongga kehampaan.

Aku tahu engkau mempunyai cerita lama, dan pastinya cinta lama pula, dan begitu juga diriku ini. tapi, kisah kita berbeda, masa laluku begitu hancur. luluh lantah oleh rasa gejolak akan mencintai seorang wanita. Awal kali mencintai, bagiku adalah anugerah terindah yang dirasakan. Namun sayang, setiap kali aku jatuh cinta, semua berakhir pahit, setiap kali aku mencintai seorang, hanya bisa mampu menyimpan dalam lubuk hati terdalam, karena orang yang aku cintai, tidaklah mencintaiku, dan hanya diriku dan Dia yang lebih tahu, bahwa aku pernah merasakan namanya jatuh cinta terhadap seorang wanita. 

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku. Dengan tekad dan keyakinan, mungkin ini jalan yang baik bagiku, namun butuh berbulan-bulan atau bisa jadi bertahun-tahun untuk bisa menghilangkan perasaan ini. Memang menyesakan bila kenangan usang itu terus hadir terlalu lama, dan mohon pergilah jauh dari hatiku, karena sadar, perasaan itu membuatku tidak bisa tersenyum bebas, dan tidak bisa menikmati kebahagiaan hidup.

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku. Dengan begitu, aku mampu menulis puisi-puisi indah kembali, tapi bukan tentang dirimu, ini tentang diriku, dan masa depanku. Tentang semua orang yang aku sayangi. Maka pergilah jauh dari hatiku. Melupakanmu memang mustahil bagiku, namun menanti belahan jiwa yang kelak mendampingiku selamanya hingga akhir hayat adalah hal yang tidak mustahil, karena Allah sudah menentukan jodoh setiap insan. Itulah janjiNya.


diperbarui di : 
Bekasi, 22 - 2 - 2011
~AKZF~

Kamis, 03 Februari 2011

HANTU POHON PISANG (Pernah diikut sertakan pada ajang Scary Moment)

HANTU POHON PISANG

Ini kisah nyata ketika aku masih menginjak jenjang pendidikan kelas 3 SMP di Pesantren, tepatnya di daerah Jatinagor – Sumedang. Daerah perbatasan antara Bandung dan Sumedang ini terkenal oleh masyarakat akan mistis yang menjalar turun temurun dari leluhur dahulu. Namun warga sudah tidak merasa takut lagi bila melihat atau mendengar hal-hal yang berbau jauh dari nalar manusia. Penampakan sering terjadi, malahan kecelakaan sering terjadi juga dikaitkan dengan hal-hal ghoib. Misal, seperti Cadas Pangeran yang terkenal rawan kecelakaan yang terjadi selalu tidak masuk akal. Mobil yang mundur sendiri, dan akhirnya masuk jurang, kendaraan yang jalan sendiri tanpa pengemudi, dan akhirnya masuk juga kejurang. Aku yang sering lewat situ, merasa ngeri, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi bila melihat patung Cadas pangeran, hiiii, makin takut aku untuk melewatinya. Tapi semenjak berkembangnya zaman, semua cerita itu terasa fiktif belaka, walau kenyataannya begitu.
Kisah yang aku alami berawal dari sebuah persiapan acara sebuah pentas seni yang akan dilaksanakan dua hari lagi tepatnya hari minggu (tanggal dan bulannya lupa). Aku beserta teman-teman yang terdiri dari Rudi, Jajang, dan Maman (nama disamarkan) berencana akan menetap selama satu malam di sebuah lab komputer samping masjid yang semenjak pagi hari sudah dikosongkan ruangannya guna untuk kami membuat spanduk acara. Aku dan teman-teman akan bekerja keras semalaman untuk acara pentas seni besok pagi hari.
Setelah selesai sholat Isya, kami bergegas untuk menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk membuat spanduk yang cukup besar, kira-kira ya, 3 x 1 an. Walau acaranya besok hari, tapi kami kelihatan berleha-leha, maklum, siapa sih yang tidak senang begadang gini hari hingga larut malam menjelang subuh. Tampak kesenangan diraut wajah kami ketika melihat kasur empuk beserta bantal guling dengan beberapa buku bacaan dan sempel contoh spanduk yang sudah dibuat sebelumnya oleh salah satu rekan panitia acara, tergeletak marayu kami untuk bermanja-manja tiduran telengkup sambil membuat guratan kertas menggunakan gunting dan silet membentuk pola tulisan yang akan kami pampang di background spanduk berwarna putih itu.
“Eh, kalian semua, begadang begini mendingan ngopi yuk” ujar Jajang yang dari tadi sudah menyiapkan cangkir dan gelas dari dapur sekolah.

“Ya udah, tapi kopinya belum ada nih… siapa yang mau beli?” Tanyaku yang juga sudah tidak tahan ingin ngopi.

Abdi jeung si Maman we nu ka hareup meuli kopina (Saya dengan Maman aja yang ke depan untuk beli kopinya)” ungkap Jajang menawarkan dirinya bersama Maman dengan menggunakan bahasa sunda sambil meminta uang untuk membeli kopi “Mana duitnya, sini” Akhirnya Jajang dan Maman bergegas ke depan.

Nampak jam sudah menunjukan angka 11 malam lewat. Pekarangan masjid sudah nampak sepi. Aku yang masih beranjak asyik menggunting kertas berwarna yang berpola huruf dan angka bersama Rudi menjadi ngeri, karena tidak ada satupun suara yang terdengar sama sekali. Di depan masjid hanya ada sebuah kolam besar yang konon, penghuninya banyak, dan sering menampakan diri sambil memainkan air. Sedangkan pekarangan masjid yang sering dilewati para santri begitu sepi. Kami berdua hanya bias bergumam sambil memakan cemilan yang sudah dipersiapkan, dan sama sekali tidak pernah memandang jendela mengarah ke belakang gedung  yang begitu gelap. Menyeramkan.
Sudah setengah jam lamanya aku dan Rudi menunggu Jajang dan Maman yang sedang kedepan membeli kopi tidak muncul-muncul juga. Tiba-tiba saja pintu lab komputer terbuka paksa “Brakk!!” tersentak aku dan Rudi ketakutan bukan main. Ternyata itu Jajang dan Maman yang sedang berlari ketakutan karena sesuatu hal yang membuat mereka berlari bukan kepalang. Sambil menghela nafas panjang, Jajang dan Maman pun bercerita apa yang sedang terjadi. Memang, Pesantren kami berada di tengah-tengah pemukiman warga, sedangkan untuk menuju ke jalan raya harus melewati jalan-jalan kecil walau tidak begitu jauh nyatanya. Tapi bila malam hari, penerangan begitu minim, hanya beberapa lampu yang bersinar menyinari jalan-jalan itu, nampak begitu menyeramkan, apalagi kalau ada penampakan, pasti langsung kocar-kacir minta ampun. Nah, begitulah yang dialami Jajang dan Maman, mereka berdua bercerita, bahwa di pertingkungan jalan kecil yang tepat berada tidak jauh dari pesantren atau tepat lab komputer yang kami singgahi ini, terdapat tiga buah pohon pisang yang dimana tingginya kira-kira satu setengah meteran, gelap tanpa penerangan, walau disamping terdapat rumah warga, tapi suasananya sudah cukup membuat bulu roma berdiri.
Ceritanya, Maman dan Ujang sedang melewati jalan setapak menuju jalan raya, dan harus melewati daerah tempat tiga pohon pisang itu berada. Ketika tepat berada di bawah pohon pisang tersebut, Maman merasakan hal yang aneh, seperti ada yang memperhatikan. Menoleh kanan kiri yang ada hanya kegelapan yang menyelimuti ketakutan.
“Pokoknya benar-benar serem, deh” ujar Maman sambil merinding menceritakannya. Aku dan Rudi hanya mendengarkan dan membayangkan saja apa yang sedang diceritakannya. Akhirnya Maman dan Jajang bergegas menuju warung kopi yang berada di ujung jalan seberang. Pas, sudah selesai membeli kopi bungkusan, ternyata mereka berdua harus melewati daerah itu lagi, daerah yang dirasakan Maman seperti ada yang memperhatikan. Jajang waktu itu hanya ingin cepet-cepet sampai ke lab komputer. Pas berada di bawah pohon pisang tersebut, tiba-tiba saja Jajang berhenti mendadak. Maman juga ikut berhenti sambil menyuruh Jajang segera jalan kembali, kalau bisa lari sekalian.

“Man, kamu denger sesuatu tidak, seperti ada suara orang” berkata Jajang dengan nada ketakutan.

“Jang, yang bener napa bicaranya, abdi teh jadi takut mendengarnya, udah jalan aja yuk” ajak Maman untuk segera jalan pada Jajang.

Waktu itu, Maman dan Jajang bercerita katanya suara itu seperti suara perempuan, dan suara itu tepat berada dimana tiga pohon pisang yang berjejer itu berada.

Suara itu begitu jelas sekali, dan akhirnya Jajang menoleh ke atas pohon pisang, dan langsung lari terbirit-birit begitu saja, sambil diikuti Maman dari belakang yang juga ketakutan melihat ekspresi wajah Jajang semrautan. Sampai akhirnya pintu lab komputer dibuka paksa oleh Jajang.

Ternyata, ketika Jajang menoleh ke atas pohon itu, ada sosok katanya putih bertengger di pohon pisang tersebut. Hingga esok harinya, akibat kejadian semalam, kami semua kapok lewat situ malam-malam, dan dengar-dengar daerah situ sudah ada penerangan lampunya, jadi siapa saja yang lewat sudah tidak takut lagi. Sampai sekarang masih berfikir, kok, ada ya, hantu di pohon pisang, tanyaku dalam hati. Tapi itu memang benar-benar terjadi pada kami, dimalam yang sunyi itu.

~Azmi S. N~

Senin, 31 Januari 2011

Syifa Cahyati Nur

Kala itu aku berusia sekisar 2-3 tahun dan belum tahu apa-apa tentang akan sebuah kesedihan. dirimu lahir dengan tangisan pemecah sunyinya kehampaan hati seorang calon kakak. gembiranya waktu itu mendengar bahwa aku telah menjadi seorang kakak bagimu. kau begitu lucu dan imut bagaikan putri salju yang sangatlah lugu. begitu juga dengan mamah dan bapak, mereka bahagia, ternyata adikku seorang perempuan.

Syifa Cahyati Nur, itulah namamu, adikku. masih ingat ketika dirimu masih 1 bulan, aku membelai rambut kepalamu yang tipis namun agak tebal. senyum terukir dari bibir ini menggenggam erat tanganmu yang mungil. engkaulah calon bidadari syurga dunia, dan kakakmu ini akan menjadi pengawal bagimu. Aku memang bersamamu hanyalah sebentar, sekitar 3-4 bulan, dan kau masih bertahan. berjuang keras dalam meniti perihnya hidup. kakakmu juga merasakan kesedihan itu, adikku. ketika penyakit itu menjalar menyerang tubuhmu. sesak nafasmu membuat kedua orangtuaku berjuang keras mempertahankanmu. mencari jalann agar engkau bisa kembali sehat. Kakamu ini hanyalah bisa memandang, tidak tahu apa-apa, apa yang selama ini engkau alami. 

Allah berkehendak lain, segala pengobatan dari Rumah Sakit sudah tidak bisa menyembuhkanmu, penyakit sesak nafas yang engkau alami, sungguh sudah kronis. Akhirnya engkau meninggalkan dunia dimasa engkau masih hanya bisa menggenggam jemari ini. Aku yang belum mengenal kesedihan akan ditinggalkan. hanya bisa memandang dikala engkau dimandikan dan dikafani, beserta mengantarkanmu kepada kepulangan terakhirmu, dipemakaman keluarga yang agak luas. aku ketika itu ikut berdoa, dan mengamini, betapa lugunya juga aku.

Duhai adikku sayang
Namamu indah di hati ini
Andai engkau masih ada 
engkaulah pewaris wajah seorang Ibu
cantik jelita, menawan hati siapa saja yang memandang
engkaulah insan pilihan Allah, janji Allah akan syurga bagimu
Bidadari syurga



(DOWNLOAD SEISMIC) AKHIRNYA KUTEMUKAN LAGI DUA LAGU SEISMIC NASYID.

Semenjak sebelum SMP, aku tidak begitu mengenal secara detail nasyid itu seperti apa, tapi yang jelas waktu itu aku anggap sebagai lagu jadul alias lagu dulu. Namun semenjak aku duduk dibangku SMP di Pondok Pesantren Modern Al-Aqsha Sumedang, baruku sadar, aku jatuh hati dengan lagu-lagu nasyid. Merekalah sahabat-sahabatku yang mengenalkannya. Merekalah yang selalu bersenandung dalam kamar, kelas,  maupun dalam pementasan seni sekolah,  dengan hanya bermodalkan gitar kita semua bernyanyi penuh suka cita. Aku tidak pernah melihat kebahagiaan seperti ini. Lagu-lagu ini membuat kami selalu riang penuh canda. Awal kali nasyid yang aku kenal adalah The Fikr dengan berjudul “Cinta” dari Bandung asuhan Aa Gym yang tersohor dengan metode Qolbunya. Kemudian dari sering mendengar lagu tersebut, menjalarlah ke beberapa lagu nasyid berikutnya, baik itu dari Indonesia hingga sampai Malaysia. Saujana, Robbani, Raihan, Hijjaz, dan lainnya. Semua aku dengar dengan penghayatan menembus hati.

Hingga ada salah satu lagu yang selalu menjadi lantunan setiap kali  kita semua anak-anak bernyanyi, “Adalah Engkau” dari Seismic. Ya Seismic  yang merupakan aliran nasyid Romantic bukan sebuah lembaga gempa bumi atau sebagainya. Ini sebuah team nasyid dari ITB Bandung yang digawangi oleh : 


Dari kiri ke kanan :

M.Aslam,Syamrizal, Abu_rahmah, Dody lesmana, Andri Budianto

Adalah seismic

Adalah Engkau yang kurindu
Yang menjadi penyejuk imanku
Menjadi penghibur hati
di pertemananku, di persahabatanku
tiba saatnya jumpa dengan seismic
tuk mendengar senandung romantis
tlah terbuka kesempatan, pentas tlah di depan mata
mari bernasyid bersama
dinda temanilah aku di detiap detikku dengan do’amu
bila terpisahkan waktu tetaplah di sini di dalam hatiku
Ya Robbi izinkanlah kami untuk terjaga selalu di jalan-Mu
dinda do’amu laksana pelepas dahaga di lelahnya jiwa, lelahnya jiwa.
Seismic temanilah aku di waktu senggangku dengan nasyidmu
Bila kujumpa denganmu kan kuingat slalu semua nasehatmu
Ya Rabbi izinkanlah kami saling mencinta hanya mengharap ridho-Mu
Seismic nasyidmu bagaikan penyejuk hatiku, di rindunya kalbu, 
rindunya kalbu, Amin :)




 adapun ada yang biasa disapa Kang Dan’s atau Kang Dani Setiawan, beliau juga merupakan penyanyi yang karismatik dengan lagu-lagu ciptaannya. "Adalah Engkau" seperti sudah menjadi lagu wajib kita menyanyikannya. Yang sedang kasmaran, atau tidak, lagu ini selalu disenandungkan. Teduh sekali, hingga tergambar dalam benakan kami seorang Wanita solehah yang akan menemani di esok hari. Dari situ, kami sudah memikirkan masa depan, tentang sebuah kebahagiaan keluarga sakinah.

"Adalah Engkau"

Adalah engkau, dia yang ku rindu
Tuk menjadi bunga dihatiku
Menjadi peneduh qolbu diperjalananku, (diperjalananku)
Tibalah waktu yang lelahku rindu
Tuk selalu bersama denganmu
T’lah terbuka pintu itu, akad t’lah terucap sudah
Dinda marilah melangkah

Dinda, temanilah aku disetiap detikku dengan doamu
Bila terpisakan waktu, tetaplah disini di dalam hatiku
Ya Robbi, izinkanlah kami untuk terjaga selalu di jalanMu
Dinda, doamu laksana pelepas dahaga dilelahnya jiwa (dilelahnya jiwa)

Adalah engkau dia yang ku rindu
Tuk selalu hadir dihidupku
Teriringi setiap langkah saat menuju
Acuan hidup ini

(Seismic)

Bukan saja santri-santri yang melantunkan lagu ini, tapi sebagian ustadzpun ikut menyanyikannya. Sungguh lagu ini sudah dianggap sebagai lagu pokok santri, apalagi yang sedang merasaan yang namanya jatuh cinta, sungguh kami memang sangat mengidamkan seorang wanita yang sholehah sesuai apa yang terdapat dilirik lagu atas tersebut.
Selepas masa SMP, sebagai orang baru taubat dari jalan yag salah. Masa SMA aku tetapkan di Bekasi, walau awalnya ini merupakan keputusan yang tidak aku inginkan selama ini, tapi memang aku benci akan keputusan tersebut, namun akhirnya aku menyukai Susana itu, ketika segelintir orang menyukai nasyid. Ada-ada saja, hehe.

Masa SMA, aku mulai mengoleksi kumpulan album nasyid yang sudah dikenal, baik itu dari Toko Buku, hingga toko kaset, aku labuhi semua tanpa terlewatkan semua. Dari situ pula mulai kenal beberapa team nasyid yang baru dikenal lagunya. Dialah hifdziel, salah satu temanku yang sangat suka dengan lagu-lagu Raihan, baginya lagu itu sebuah renungan terindah yang ia punya. Sering kali kami bertukar kaset, untuk saling mendengarkan. Aku tak begitu peduli apa kata orang dengan lagu-lagu ini ketika aku setelkan dalam setiap acara-acara kerohanian di Sekolah, maklum mereka belumlah mengenal lagu-lagu tersebut. Hanya segelintir lagu islami yang diketahui, itupun yang sering muncu di Televisi. Dalam pencarian berikutnya, aku mulai mencari Seismic. Lagi-lagi sebuah keinginan yang sudah lama ingin segera memiliki setiap lagu-lagunya, Romantic, itulah ritme dan aliran lagunya. Sungguh bening bila mendengarkan, dan rasa rindu itulah yang hadir hangat dalam jiwa ini.

Akhirnya dalam sebuah pencarian panjang, satu, dua, tiga lagu terkumpul, namun berupa Mp3 saja.

Lagu Seismic  kedua yang baruku ketahui selain "adalah engkau" ketika itu adalah “Menjemput Bidadari” album Epicentrum milik Dani Setiawan. Di susul dengan “Selamat datang bunga”, dan lainnya

Menjemput Bidadari

Bila yakin tlah tiba, teguh di dalam jiwa. Kesabaran menjadi bunga
Sementara waktu berlalu,
Penantian tak berarti sia-sia saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Zulaikha jalani hari sabar menanti Yusuf sang tambatan hati
Dipenantian mencari diri, bermohonkan ampunan, dipertemukan

Segerakanku jemput engkau bidadari, bila tiba waktu ku temukan aku
Ya Illahi Robbi, kerasku mencari diri sepenuh hati
Teguhkanlahku dilangkah ini dipencarian hakikat diri, dan
Izinkanku jemput bidadari untuk bersama menujuMu mengisi hari

Kini, yakin tlah tiba, teguh di dalan jiwa. Kesabaran adalah permata
Dan waktu terus berlalu, penantian tak berarti sia-sia, saat perjalanan adalah pencarian diri

Laksana Adam, dan Hawa turun ke bumi terpisah jarak waktu dipenantian mencari diri
Bermohonkan ampunan, dipertemukan

Bidadari tlah menyentuh hati, teguhkan nurani
Bidadari tlah menyapa jiwa, memberikan makna.

 (Dan's)
~~~~~~~~~~~~~~~~



“Selamat Datang Bunga”

Selamat datang diperjalananku duhai tambatan jiwa
T’lah terucap akad untuk kita bersama arungi waktu
Kan kita warnai dunia dengan perjalanan penuh makna
Ya Allah teduhilah cinta ini diteduhnya cintaMu

Selamat datang bunga, bersemilah di hatiku
Kunantikan doamu, selalu temani aku
Selamat datang bunga, teduhkan dahaga jiwa
Bersama saling menjaga, agar tak lepas dari jalanNya

Kan kita warnai dunia dengan perjalanan penuh makna
Ya Allah teduhilah cinta ini diteduhnya cintaMu

(Dan's)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



“Keluarga Sakinah”

Duhai pasangan jiwaku, marilah satukan asa kita
Ciptakan keluarga sakinah di dalam merentas jalanNya

Duhai pasangan jiwaku, binalah kelak  anak-anak kita
Menjadi berjiwa kesatria, menjunjung tinggi kehormatanNya
Menjadi merindu Tuhannya, di dalam setiap langkah mereka

Hidupkan malam dengan do’a, jalani hari sepenuh asa
Semoga Allah beri cahaya, terangi setiap langkah kita

Duhai Ibu dan Ayah tercinta, restumu selalu kami tunggu
Menjadi teman diperjalanan, di dalam menjemput ridhoNya
Menjadi teman diperjalanan, di dalam setiap langkah kan dilalui

Do’amu adalah lentera, terangi setiap sudut jiwa
Do’amu adalah cahaya sinari setiap relung jiwa

Pasangan jiwaku, mari satukan asa
Kesaatu harapan, harapan atas ridhoNya

Hidupkan malam dengan do’a
Jalani hari sepenuh asa
Semoga Allah berikan cahaya
Terangi setiap langkah kita (setiap langkah kita)

(Dan's)

Lirik – lirik di atas adalah sebagian lagu Seismic yang aku temukan, itupun juga dari beberapa informasi teman-teman, dan suatu ketika saat berkunjung ke suatu Toko di Jakarta, tepatnya daerah Senen Jakarta bernama Wali Songo, aku menemukan album kaset Seismic yang berjudul “Syukur (Episode perjalan)” di sanalah lagu-lagu yang belum pernah aku dengar, dan langsung dibeli saat itu juga.

“Syukur (Episode Perjalan)”

Biduk masih berlayar
Kita selalu bersama arungi lautan kehidupan ini
Tiada terbilang sudah untaian suka cita
T’lah kita lalui penuh kedamaian

Syukurku kepada Tuhan atas indahnya
Ikatan suci diantara kita
Ingatkan kebenaran dan kesabaran, menuju cinta Illahi yang hakiki

Detik terus berlalu, kita semakin mengerti jalani lintasan kehidupan ini
Tiada terbilang sudah hembusan peristiwa
T’lah kita lalui penuh kesejukan
Ku berdoa selalu disetiap waktu, semoga ini berlanjut hingga akhir nanti
Berharapkan engkau menjadi bidadariku
Dalam naungan yang penuh akan ridhoNya

Semoga Allah berkenan merahmatinya

 (Seismic)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hanya Karena Mu”


Robbi hati ini telah bertemu
Robbi hati ini telah bersatu
Robbi hati ini telah terhimpun
Satukan padukan hanya karenaMU

Allah cinta t’lah hadir karenaMU
Allah kasih t’lah tumbuh karenaMU
Allah sayang t’lah bersatu karenaMU
Eratkan kekalkan hanya karena MU

Bahtera hidup tlah mulai di bina
Janji tlah di ikat karenaMU
Hidup tlah di ‘azzamkan buat MU
Terangkan Lapangkan hati dengan cahaya MU

Indah bertawakkal kepadaMU
Syahdu hati berma’rifat padaMU
Syahid tujuan akhir kepadaMU
Hidupkan Matikan kami karenaMU

 (Seismic)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



“Belahan jiwa”

Belahan jiwa
Engkau mentari pelita hati ini
Tersenyumlah bahagiakanku
Dengan tulusmu dengan cintamu

Belahan jiwa ingatkanlahku
Jika terlupa dalam menuju
Tersenyumlah bahagiakanku
Dengan beningmu dengan kasihmu

Engkau kurindu sepanjang waktu
Teguhlah memandu aku
Kudoakan engkau selalu
Di kala malam tengah menjelang

Menjadilah setegar karang 
Sesejuk pagi seindah rembulan
Sejernih hati sebening embun
Sepeka nurani seperkasa mentari pagi

Tuhan teduhilah belahan jiwaku
Berikan cahya-Mu dekap teguh dijalan-Mu
Tuhan teduhilah kami di jalan-Mu
Berikan cahya-Mu dekap teguh dijalan-Mu

(Seismic)

Ketika semester terakhir tepatnya dimasa SMA, menjelang kelulusan, aku tidak sengaja menemukan salahsatu lirik nasyid Seismic yang sungguh menggugah hati. Lirik dan nadanya membuatku berangan-angan sedang dalam sebuah perjalanan yang sangat teduh nan indah, dalam setiap perjalanan terdapat pohon-pohon pinus berjejer dengan rapihnya dan sangatlah nikmat dipandang. Ya, Penantian, itulah judul lagunya. Dari potongan video yang dibuat oleh seorang di Youtube membuatku sering mendengarkannya. Kemudian selepas kelulusan, aku semakin mencari lirik lengkap beserta Mp3/kasetnya, dan Alhamdulillah, lagu itu ditemukan, dalam sebuah download lagu dalam tema “Pernikahan” betapa senangnya hati ini.

“Penantian”

Penantian adalah satu ujian,
tetapkanlah ku selalu dalam harapan,

karena keimanan tak hanya diucapkan,
adalah ketabahan menghadapi cobaan,

sabarkanlah ku menanti pasangan hati,
tulus kan kusambut sepenuh jiwa ini,
di dalam asa diri menjemput berkahMu,
tibalah ijinMu atas harapan ini,

Robbi teguhkanlah ku dipenantian ini,
Berikanlah cahaya terangmu selalu,

Robbi hanya padamu ya doaku ini,
Duhai tempat mengadu segala rasa diri.

(Seismic)

Sekian lamanya, aku kira lagunya semua sudah aku punya, namun tiba-tiba SMS datang menghampiriku. Dari adik kelasku. Dia mengatakan bahwa mempunyai dua lagu baru yang ternyata selama ini hanya segelintir yang tahu, sepertinya, lagu itu sudah lama, dan berada di antara bebrapa album yang sebenarnya kebanyakan orang tidak mengetahui. Semakin girangnya hati ini.akhirnya komplit sudah lagu nasyid ini di dalam komputerku. Dan semakin rindu untuk menanti sebuah kata, “Pernikahan”, itupun sedang dalam perjalanan mencari. 

>>>>>>>>>“Permata Terindah” 


DOWNLOAD DI SINI...

Duhai engkau yang tengah mencari hakikat diri, Menggenapi hari
Mengurai makna dibalik sebuah yang tercipta, yang menggetar jiwa

Duhai engkau wanita suci sederhana menyapa semesta
Adakah engkau ia yang disampaikan Rosul tercinta tentang yang terindah di dunia

Engkau tegar menyongsong masa
Menjaga diri, menata hati

Engkau teguh menjemput cinta
Tak hendak terlupa walau sekejap saja

Duhai permata terindah di dunia
Adakah engkau berkenan hati
Atas asas suci dari relung jiwa
Tuk temani diri menggapai illahi

(Dan’s)


>>>>>>>>>>>“Kita Sampaikan pada Mereka dengan Cinta” 


DOWNLOAD DI SINI.......

Kitakan sampaikan pada mereka dengan cinta
Tuhan adalah Allah semata
Tak ada satupun yang menyamai, Dialah pencipta semesta

Kitakan sampaikan pada mereka dengan cinta
Allah tiada sekutu bagiNya
Maha Suci dari yang menyerupai, Ia tak berputra, iak beribu Bapak

Isteriku inilah buah cinta kita
Amanah tak ternilai dariNya
Kan tibalah saat Allah bertanya
Kemana mereka t’lah kita bawa

Kitakan sampaikan pada mereka dengan cinta
Tentang teladan hidup mereka
Disambut insan utama Rosul tercinta
 Sampaikan Sholawat salam kepadanya

Isteriku inilah buah cinta kita
Amanah tak ternilai dariNya
Kan tibalah saat Allah bertanya
Kemana mereka t’lah kita bawa

Kitakan sampaikan pada mereka dengan cinta
Berbaktilah kepada Ayah Bunda
Hadirkanlah mereka disetiap do’a
Sebagai tanda syukur kepadaNya

(Dan's)

Maka, sudah lengkaplah kumpulan lagu seismic ini. Dan akan menjadi renungan diri. Dan juga banyak berterima kasih kepada teman-teman angkatan Struggler Pondok Modern Al-Aqsha Sumedang Jatinagor Asuhan Pak Ade (Mukhlis Alyudin ) yang tak sungkan-sungkan memberikan semangat juang, dalam segala ujian dariNya ketika masih berkumpul bersama, dan juga untuk Ustadz Asep Awalludin yang selalu memberikan sokongan nasihatnya beserta isteri dan Nawwaf,  dan juga seluruh asatidz, dan asatidzah yang dahulu membesarkanku dengan keikhlasan, Insya Allah. Untuk saudaraku Anwar, semoga kita bertemu lagi,. lagu "adalah engkau bagiku begitu banyak menyimpan kenangan indah bersama di Pondok :)
 …Wallahu A'lam...

Silahkan Download sebagian lagu Seismic Nasyid & Dan's di bawah ini :

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rindu Tuhan





>>>>>>>>>“Permata Terindah” 






>>>>>>>>>>>“Kita Sampaikan pada Mereka dengan Cinta” 

WEB KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

Recent Coment

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)
Bagi yang ingin mengulurkan tangan sebagai donatur, silahkan kunjungi grup dan bergabung (Klik Gambar)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More