About this blog

TENTANG KOPAJA (KOmunitas Peduli Anak JAlanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) adalah komunitas yang bergerak dalam memanusiakan anak jalanan melalui pendidikan dan program-program pemberdayaan.

Pesantren Kilat Anak Jalanan (KOPAJA)

Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) memiliki salah satu misi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa anak jalanan. Melalui misi KOPAJA yang satu ini kami mengajak dan merangkul seluruh masyarakat .

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

CATATAN DIARY HATI NAYA

Inilah salahsatu tulisan saya yang belum terpublikasikan, dan belum teredit keseluruhannya.
Silahkan dibaca, dan silahkan dikomentari. terima kasih



     Aku dan Naya memang memliki kesamaan dalam hal menginginkan sesuatu. Baik berupa barang, pakaian, asesoris, dan apa lagi sampai model rambut pun kita samakan. Sejak kecil, aku selalu mengagumi sosok Naya, adikku yang cerdas lagi anggun dalam berpenampilan.

      Banyak prestasi yang telah dia dapatkan. Aku yang sebagai kakaknya begitu bangga. Tidak ada rasa iri di hati ini. Biarlah aku menjadi nomor kedua yang akan disanjung orangtua.

      Di jenjang perkuliahannya pun Naya selalu unggul. Hingga banyak lelaki melirik untuk dijadikan pacar. Tetapi adikku ini sangatlah hati – hati dalam pergaulannya. Apalagi dia sudah menggunakan jilbab setelah lulus Sekolah Dasar. Semakin cantik saja wajah itu. Apalagi daster muslimahnya yang dia kenakan sungguh indah dan anggun di mataku. membuatku makin sayang padanya - adikku yang bak bidadari itu.

      Adikku Naya, dia banyak sekali memberikanku pelajaran berharga. Baik dalam memberikan arahan ilmu agama, sampai berperilaku pun dia selalu mengingatkanku.
      Memang dalam segi keinginan, kita sama. Tetapi dalam segi cara mencintai seorang kita berbeda. Aku yang sebagai perempuan biasa ingin sekali memiliki lelaki untuk menjadi pacar ataupun sebagai pasangan hidup. Namun hingga sekarang belum ada yang pas buatku. Hingga pada akhirnya aku menemukan lelaki yang mungkin pantas untukku. Lelaki itu begitu wibawa. Namun berpenampilan sederhana. Firman, itulah namanya. Ketua ROHIS di kampusku ini memang sudah banyak menarik perhatian gadis – gadis. Dari yang berjilbab, hingga yang tidak berjilbab, semua mengejar untuk mendapatkannya. Luar biasa bukan!,
Sedangkan perasaan Naya terhadap lelaki membuatku bingung. Lelaki seperti apakah yang bisa membuat hati adikku ini luluh. Aku semakin penasaran.

      Di kampus, Naya begitu aktif di organisasi berbasis kerohanian. Begitu juga Firman. Setiap ada kegiatan keagamaan, mereka bedua pastilah menjadi salah satu panitianya. Disetiap kegiatan, Firman selalu membantu pekerjaan Naya. Mengingat Firman merupakan ketua ROHIS, aku yang melihatnya hanya beranggapan biasa saja. Cemburu itu mungkin telah ada, tapi bagiku biasa saja.

     Selama aku bersama dengan Naya, belum pernah aku mendengarnya membahas seorang pasangan hidup. Mungkin adikku ini belumlah siap untuk menjalin kasih dengan seorang.

     Pernah aku menanyakannya“De, perasaan Mbak, kamu belum pernah menyebutkan satu nama pun seorang laki – laki yang mungkin kamu anggap spesial?”

     “Ah Mbak Ifah, biasa aja. Dede belum ada bahasan ke sana” jawabnya sambil membaca sebuah buku novel karya Habiburrahman El-Sirezy.
     “Emangnya kenapa, padahal kamukan cantik loh De, yang pasti banyaklah laki – laki diluar sana yang tertarik dengan kamu. Lagi juga nggak apa – apakan merasakan yang namanya jatuh cinta”
Naya hanya bisa tersenyum padaku. senyumannya itu, membuatku penasaran akan tentang dirinya.
Dulu gadis itu begitu tomboy, berteman dengan laki-laki adalah hal yang sudah terbiasa. Menginjak Sekolah Menengah Pertama, terlihat gadis itu adalah tipe yang periang, dan juga masih saja tomboy. sudah lebih dari lima laki – laki yang di ajaknya berkelahi. luar biasa bukan, tapi itulah Naya semasa kecilnya.

     Pernah ketika di rumah, Naya sempat berkelahi dengan Rudi, anak tetangga sebelah. Aku sendiri melohok saja melihat Naya berkelahi.. Cuma gara – gara kalah main bola dari kelompok Rudi, langsung Naya mengajaknya berkelahi, tapi nyatanya Nayalah yang menang.
    Tapi ketika masuk ke Perguruan Tinggi dan berteman dengan orang – orang yang beragamis, adikku berubah seratus delapan puluh derajat. Dari segi penampilan berbusana, sikap dan tata kramanya, hingga akhirnya Naya memberanikan diri memakai jilbab hingga sekarang.
    Namun apa mungkin, sifatnya yang tomboy itu masih ada hingga sekarang. Atau karena karakter serta penampilan barunya itu membuat adikku Naya belum memikirkan atau merasakan yang namanya jatuh cinta terhadap seorang laki-laki.

***

    Di kampus, Firman membuatku semakin menyukainya saja. Sosok yang taat agama, apalagi rajin ibadahnya. Menjadi idaman banyak perempuan muslimah pada umumnya. Menjadi sosok yang bisa membimbing seorang isteri - Menjadi Imam dalam keluarga.
    Terlintas dalam fikiranku untuk bisa mencoba mendapatkan nomor ponsel Firman, dan akhirnya aku mendapatkannya dari adikku, Naya. Mungkin aku yang sebagai perempuan biasa, tidak mungkin mempunyai harapan untuk bisa mendapatkannya. Minimal berbicara dengannya bagiku adalah hal yang menyenangkan.
    Malam itu, aku tuangkan perasaanku pada adikku, Naya. Dengan semangat bergebu – gebu aku menceritakan perasaanku dengan detail sekali. Adikku ternyata seorang pendengar yang sangat setia. Aku semakin semangat saja. Naya mendengarkan, tersenyum dan mengangguk – ngangguk paham.
    “Ternyata Mbak Ifah sangat mencintainya ya, aku yang sebagai adik mbak akan selalu mendukung” katanya dengan mantap.

     “Benarkah itu de?, duh, Mbak jadi senang banget!” ujarku penuh semangat.
Malam itu, aku memandang langit bertabur bintang penuh harapan bersama adikku, Naya.
     “Cinta itu indah ya De, bagai cahaya rembulan yang begitu romantis dipandang.” Dengan jilbab birunya yang panjang tersibak angin malam dia tersenyum padaku, namun pekatnya malam tidak bisa menipu pandangan mataku. Naya menitikan air mata.

      Aku tidak mengerti dengan kejadian semalam itu. Kenapa adiknya menangis. Hatiku mulai gundah. Takut ada sesuatu yang terjadi dengan Naya.

      Selepas pulang dari kampus, aku langsung menemui Naya. Ingin sekali aku mengajaknya makan bersama, dan saling tukar pikiran. Sekejap, aku langsung menuju ruangan kelasnya, namun tidak ada. Akhirnya aku menuju ruang ROHIS. Ternyata Naya ada di sana, bersama dengan Firman, berdua dalam satu ruang.
     Aku memperhatikan dari luar ruangan. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Sesuatu yang sangat intens. Firman hanya menunduk saja. Sedangkan Naya sedang menjelaskan dengan sangat serius. Hanya beberapa menit saja pembicaraan itu selesai, dan Naya langsung keluar ruangan. Tanpa disadarinya, aku sudah menunggunya di balik pintu luar. Naya langsung kaget melihatku sudah berada di pintu. Begitu juga Firman, dia hanya memandangiku tanpa bergerak sedikitpun.

    Di kantin, aku menanyakan apa yang Naya lakukan di ruangan itu bersama Firman, tapi Naya hanya terdiam sambil menyuapi makanan ke mulutnya, dan tersenyum padaku; Aku semakin penasaran.

***

    Sidang Skripsiku berjalan lancar. Alhamdulillah, aku mendapat predikat Cumload!. Aku begitu besyukur kerja kerasku selama berkuliah tidak sia –sia. Sesampai di rumah, aku langsung memeluk kedua orangtuaku, begitu juga dengan Naya. Dia juga akan disidang tahun depan.
    Kami langsung merayakannya di luar bersama teman – teman, Naya pun aku ajak ikut. Firman juga ada di sana. Lagi – lagi adikku ini sungguh tidak bisa ditebak. Berdiam diri memisahkan diri dari kerumunan teman-temanku hanya untuk melihat – lihat panorama pantai. Aku yang begitu kasihan melihatnya langsung mengajak bergabung kembali.

     Semenjak kelulusan, aku dan Firman ternyata sudah saling berdekatan. Saling berbicara tentang banyak hal. Naya-lah yang mendekatkan aku dengan Fiman. Betapa bahagianya aku memiliki adik sepertinya. Kali ini, aku tidak mau kalah oleh adikku sendiri. aku telah memutuskan memakai jilbab juga. Betapa bangganya aku menggunakannya. Ternyata kehawatiranku tentang mengenakan jilbab hanya pemikiran yang salah. Takut gatallah, gerah, bikin pusing, dan malah hampir terlintas, takut kurang cantik dipandang, tapi kenyataannya sebaliknya, nyaman, dan pasti cantik sekali.

    Setiap kali jalan – jalan dengan Firman, aku selalu mengajak Naya bergabung. Karena aku mulai tahu tentang batasan antara laki –laki dan perempuan di mata Islam itu bagaimana. Berkholwat (berduaan tanpa mahromnya) maka yang ketiganya adalah setan. Naya dan Firmanlah yang mngajarkanku segalanya.

***

   Hari yang aku nantikan akhirnya tiba, sesuatu yang sangat aku tunggu. Bahagianya aku, Firman akan melamarku, hari ini tepatnya ketika dia akan berjanji akan melamarku lima hari yang lalu.
    Aku sudah tidak sabar lagi, dengan wajah yang merona dan mataku yang sudah berpijar pijar bagai bintang kejora. Aku langsung menyuruh kedua orangtuaku mempersiapkan segalanya nanti. Dari penyambutan, hingga acara inti. Harus sudah direncanakan matang – matang. Hari itu aku memang super sibuk. Bagaimana nanti kalau mau nikahnya, lebih sibuk dari sekarang ini.

    Aku mencari Naya, namun belum ketemu. “Kemana adikku ini. Padahal kemarin sudah aku kasih tahu kalau sekarang kakaknya akan dilamar oleh seorang laki – laki yang sejak dulu di idam – idamkan banyak perempuan di kampusnya. Betapa beruntungnya diriku ini.” Batinku terus menyahut kegirangan.
    Di ruangan lain tidak ada, dapur tidak ada., hingga akhirnya di kamarnya pun tidak ada. Kemana dia. Oh Naya, ada apa sebenarnya dengan dirimu. Tiba – tiba mataku tertuju pada sebuah buku diary kecil milik Naya di atas meja belajarnya. Buku itu masih terbuka. Rupanya semalam Naya menulis sesuatu di buku diary-nya. Aku lalu melihat dan membacanya.

    “Apa!?, tidak mungkin….” aku yang membacanya tidak kuat lagi membendung air mata ini. Badanku lemas seketika. Tersungkur duduk bersandar pada lemari pakaian adikku.
     ‘Adikku, adikku Naya……..selama ini mencintai Firman’.

      Aku mulai mengumpulkan tenaga untuk bisa bangkit dari kenyataan ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Naya ternyata mencintai Firman, dan begitu juga sebaliknya, Firman pun mencintai Naya. Jadi selama ini, aku telah memisahkan cinta mereka. Kini sudah jelas sudah, kenapa Naya waktu itu menangis. “Aku telah berbuat jahat, aku telah berbuat jahat!” Jerit hatiku sangat keras. Jilbabku tidak tertata rapih, rambutku terurai bebas. Aku mulai menjabaki rambutku. Aku telah berbuat jahat pada Adikku sendiri. Oh Naya, maafkan kakakmu ini yang telah merebut kebahagiaanmu.

    “Aku, aku harus bagaimana” isakan tangis semakin kencang. Aku harus genggam apapun untuk bisa berdiri.

    Buku diary Naya aku taruh kembali pada tempatnya. Tanganku begitu lemas sekali. Jangan sampai Naya tahu bahwa aku ada di sini apalagi sudah membaca buku diary-nya. Aku pun bergegas keluar dari kamar dan merapihkan pakaian beserta jilbabku.

   Diruang tamu, ternyata Naya sudah ada di sana bercengkrama dengan ayah dan Ibu. Aku langsung cuci muka untuk menghilangkan muka sedihku ini. Aku harus nampak segar, bahagia dihadapan Naya dan orangtua.

    Semua sudah berkumpul, semua sudah disiapkan. Akhirnya yang ditunggu datang juga, Firman beserta kedua orangtuanya dan juga adik perempuannya telah ada didepan pintu rumah. Naya segera mempersilahkan masuk rombongan keluarga tersebut. Firman nampak ganteng sekali dengan pekaian kemeja yang dia kenakan. Sesekali aku mengagumi ketampanannya dan juga wibawanya. Tapi…aku melirik adikku yang dari tadi hanya bisa tersenyum. Sepatah kata pun aku belum dengar dari lisannya. “Ya Allah, tanpa sadar aku telah menyakiti hatinya!.” Batin ini terus menjerit.

    Tibalah pembicaraan antar keluarga dimulai. Awalnya pmbicaraan yang ada hanya basa – basi saja hingga Ayah Firman mulai menyatakan niat kedatangannya pada kedua orangtuaku. Aku mulai gugup. Ada rasa bahagia namun kesedihan yang aku rasakan sangatlah begitu terasa.

    “Saya beserta keluarga berniat atas kedatangan kemari bukan bermaksud bertamu saja, tapi kami ada maksud berniat untuk keperluan lainnya juga, yaitu, mewakili niat anak kami, Firman untuk melamar anak perempuan Bapak yang bernama Afifah Widyanti. Sekiranya Bapak dan Ibu Afifah bisa memaklumi kedatangan kami” tutur Bapak Firman dengan tegas dan tenang - Aku mulai gelisah.

    “Ya, terima kasih atas penuturannya, kami sangat menghormati kedatangan sekeluarga, khususnya Nak Firman yang tampan serta gagah ini untuk melamar putri kami, Afifah. Tapi, kami hanya mendukung kelancaran acara ini, dan selebihnya kami serahkan pada putri kami yang lebih tau jawaban atas apa yang Bapak Firman tuturkan – ayo Nduk” tutur Bapakku dengan santunnya.
    Aku gugup, bingung, hanya diam kaku saja dihadapan mereka yang sedang menantikan jawabanku, khususnya Naya, adikku - akhirnya aku berbicara.

    “Bismillah…a….a..aku. Aku menolak lamaran Firman”

     Bagai Guntur di siang hari, semua terkaget-kaget dan terheran-heran mendengar jawaban atas ajuan pertanyaan lamaran Firman. Apalagi Naya, dia sungguh tidak percaya apa yang barusan aku ucapkan.
    “Apa yang Mbak Ifah ucapkan, Naya, Ibu, dan Bapak sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu Mbak” Naya mengelus-elus dadanya tidak percaya. Sedangkan Firman hanya terdiam saja. Bingung ingin berkata apa.

    “Maaf semuanya telah mengcewakan, khususnya keluarga Firman. Ada hal yang ingin aku tanyakan pada kamu Firman” seketika Firman terkejut.

     “Ya, apa itu, Ifah?”

     “Apa Kamu selama ini mencintai Adikku, Naya. Jawab saja yang jujur. Aku tidak marah? Aku mencoba terus tersenyum dan ikhlas.

      Hening seketika, semua mata tertuju pada Firman.

     “Iya, aku mencintainya” keluargaku dan keluarganya hanya bisa menjadi penonton serta pendengar dari peristiwa yang sedang terjadi ini.

     “Dan, kamu Naya…Mbak tau kamu mencintai Firman, Mbak sudah tahu, sayang. Buku diary-mulah yang telah memberi tahu Mbak. Dan Mbak sudah tahu kenapa waktu itu kamu berdua saja di ruangan kelas. Kamu memaksa Firman untuk mencintai Mbak, bukan” menitilah air mata ini. “Naya, adikku yang Mbak cintai, seharusnya kamu jujur pada Mbak soal kamu mencintai seorang!” aku mencoba tegar.

       Naya hanya bisa terdiam dan menangis, lama kemudian kami berpelukan.

      “Maafkan Naya ya Mbak, Naya sudah tidak jujur pada Mbak” aku menyusutkan air matanya dengan jemariku.
      “Iya tidak apa-apa De, Nah sekarang, kamu harus siap-siap dilamar ya” Aku tersenyum padanya. Dia kaget tapi mampu diredam. “I…iya Mbak”

      Akhirnya Firman melamar Naya. Pernikahannya pun berlangsung lancar. Aku sungguh bahagia melihat Naya begitu cerianya, dia memperlihatkan sosok seorang perempuan yang luar biasa bagi diriku.

***

    “Mbak, aku sudah tidak sabar nih” ujarnya penuh semangat. Aku mencubit pipinya gemas. Kami sedang duduk diatas lonteng rumah orangtua kami. Tempat yang nyaman untuk bisa melihat rembulan sambil bercerita dari hati ke hati.

    “Rembulan malam ini indah sekali ya De”

    “Iya Mbak, lebih bercahaya dari pada sebelumnya. Seperti mbakku ini loh. Besok Mbak sudah siap?”
    “Ah, kamu bisa aja De” aku tertawa sambil bercanda dengan Naya ”Insya Allah sudah De, doakan yang terbaik ya untuk Mbakmu ini” aku tersenyum sambil memandang rembulan.

   Aku sudah menanti akan kedatangan hari esok. Namun hari ini aku akan berpuas diri dengan cahaya rembulan yang telah memberikan semangat baru bagi diriku. Ya, besok aku akan dilamar. Akhirnya akan tiba waktunya untukku. Terima kasih Naya, engkaulah cahaya rembulan itu, sayang.
End.

Penulis : Azmi Syihabuddin Nur.
Nama Pena : Ahmad Khoirul Zulfithor

ENGKAULAH BIDADARI ITU, SAYANG

Alhamdulillah tulisan saya ini Pernah diterbitkan oleh penerbit Hasfa Media dalam antalogi Bunga Serampai - SERINGKUH


berjalan empat tahun kehidupanku sebagai seorang isteri dari seorang suami yang di jodohkan orangtuaku. Dikaruniai tiga orang anak membuatku semakin bekerja keras mengurus segala kebutuhan rumah tangga ini. Suamiku yang hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik belumlah mencukupi segala kebutuhan; apalagi ketiga anak kami semuanya sudah bersekolah.

Akupun bekerja serabutan sebagai tukang cuci pakaian ataupun sebagai buruh cuci piringpun; demi keluarga aku tidak peduli. Aku sangat mencintai suamiku. Walau dijodohkan oleh kedua orang tua kami masing – masing tapi aku sudah belajar untuk mencintainya; hingga kini aku selalu mendukung dan menyemangatinya ketika dia dalam kegundahan maupun kebimbangan dalam mengambil keputusan. Masukan demi masukan aku berikan dengan penuh kasih sayang dan tulus. Anak – anak juga demikian, aku yang sebagai ummu darosah; pendidik sekaligus Ibu bagi mereka di rumah; mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan yang lebih. Dipernikahan kami yang ke empat, terasa kerenggangan di antara aku dan suami.

Tidak seperti awal pernikahan dahulu, kecintaan suamiku begitu sangat terasa. Perhatiannya padaku begitu melekat apalagi dengan sentuhan kata – katanya yang puitis, perempuan mana yang tidak tunduk hatinya. Setiap hari bila keluar selalu bersama – sama. Bergandeng tangan seperti orang yang sedang berpacaran pada umumnya. Bagiku sosoknya adalah tipe yang bertanggung jawab dan komitment terhadap keluarga. Namun ada keraguan muncul begitu saja. Ya Allah, aku mencintainya.

 ***

Ponsel suami tiba – tiba terdengar olehku. “Rupanya suami lupa membawa ponselnya ke tempat kerja” ujar batinku. Sepuluh pesan terlihat belum dibaca oleh suamiku. Aku yang penasaran ingin sekali melihatnya. Takut – takut ada berita penting yang seharusnya suamiku tahu.. Tapi karena penasaran aku membukanya. Betapa terkejutnya aku terbelalak mataku melihat siapa pengirimnya dan begitu juga isinya.

Lima pesan terkirim semalam, sedangkan sisanya subuh tadi.

Hai sayang kamu sudah makan belum?
Aku kangen nih say, kamu kemana sih?
Liburan kita jalan – jalan yuk, sekalian beliin aku baju yang bagus.

Membaca beberapa pesan saja sudah membuat badan ini terkulai lemas. Aku tidak menyangka ada perempuan lain di hati suamiku.

“Kurang apa diriku ini” batinku menjerit.

Aku menyangkal selama empat tahun ini aku sudah memberikan konstribusi lebih banyak kepada suami, dukungan moral dan semangat selalu aku sematkan kepada suami. Pekerjaan tambahan demi menambah pemasukan aku jalani karena aku tidak menyesal menikah dengan dirinya, karena aku tahu suamiku adalah suami yang terbaik dari Allah yang pantas aku cintai. Akupun langsung mempertanyakan tentang pesan tersebut kepada suamiku. Namun jangan sampai anak – anak tahu tentang apa yang terjadi. Yang pasti akan menghancurkan harapan mereka terhadap keluarga ini.

“Mas, apa maksud dari pesan ini?” menyodorkan ponsel padanya. Dia melihatnya, dan hanya bisa menghela nafas panjang dengan masygul.

“Saya tanya sekali lagi Mas, ini maksudnya apa, dan siapa Rani itu? Kekasih Maskah?” tubuh ini bergetar, bulir – bulir air mata ingin rasanya tumpah ruah ingin menangis sejadinya. Tapi demi ketegaran, demi kebenaran, aku ingin mendengarnya terlebih dahulu dari llisan suamiku.

Dia hanya terdiam mematung menatap air mataku yang ingin jatuh. Akhirnya dia angkat bicara.

“Dia mantan pacarku waktu SMA, kami sudah berhubungan sebelum kita menikah” Air mata tumpah seketika, aku menjerit – jerit sejadinya. aku tidak percaya, empat tahun bersama ternyata diam – diam suamiku menghianati cintaku.

Jadi selama ini aku mencintai seorang yang tidak pernah memberikan cintanya dengan tulus. Lalu untuk apa aku mencintainya.

***

Sebulan lebih kami tidak saling berbicara. Menegurpun saja tidak. Ketika makan bersama dengan anak – anakpun hanya menampangkan wajah dingin diantara kami. Aku tahu anak – anak sudah mulai curiga dengan kami; kadang mereka bertanya ada apa dengan kami, aku hanya menjawab, “tidak ada apa – apa” memberikan senyuman bagiku adalah cara tepat untuk mengurangi kecurigaan yang berlebihan dari mereka.

 Aku perhatikan ponselnya masih saja berdering di tangannya. Sambil menyembunyikan ponselnya dia membalas pesan itu. Aku tahu, dia masih berhubungan dengan gadis tersebut. Ini sudah menjadi keputusan bulatku. Tidak ada petimbangan lagi. Hanya saja anak – anak, mereka masih membutuhkan sebuah kasih sayangnya.

Sebuah keluarga yang utuh adalah dambaan mereka, tapi itu mugkin tidak bisa terwujud. Hati ini sudah terkhianati dan tersakiti. Biar aku yang menanggung segalanya tentang anak – anak nantinya. Suamiku sedang duduk di depan teras.

Aku bersiap mengutarakan keputusanku padanya. “Saya ingin cerai Mas” suamiku hanya terdiam sambil tersenyum padaku. Aku yang melihatnya menjadi bingung bercampur kesal. “Kenapa Mas tersenyum begitu, apa mungkin Mas sudah menungu saat ini?” bentakku di hadapannya, namun dia tidak bergeming. Tanpa disadari dia sudah berdiri dihadapanku dan memelukku dengan eratnya.

“Maafkan Mas. Mas sudah mengkhianati cinta Dinda. Tolong, beri Mas kesempatan kedua untuk bisa merajut cinta kita menjadi utuh selamanya.” Dia menangis.

“Lalu bagaimana dengan gadis itu Mas, apakah Mas sudah lupa?”

“Mas sudah tidak berhubungan dengannya lagi, dia hanya masa lalu Mas”

“Mas aku mencintaimu”

“Mas juga Dinda” isakan tangisnya terdengar di telingaku. Aku yang awalnya begitu marah tiba – tiba saja luluh begitu saja mendengarnya. Suamiku berbicara tulus, dari hatinya aku tahu itu. Dia mencium keningku.

“Engkaulah bidadari itu sayang” Aku memandangnya lekat – lekat, ponselnya berdering kembali.

(196 KATA)

Tentang saya : AHMAD KHOIRUL ZUL FITHOR adalah nama pena dari AZMI S.N yang juga merupakan nama Facebooknya. Biasa akrab dipanggil AZZAM oleh teman-teman. Beralamat di Jl. Dewi Sartika Bekasi Timur, Kota Bekasi. Masa SMP pernah dididik di sebuah Ponpes Pesantren Modern di Sumedang bernama Ponpes Modern Al-Aqsha yang bertempatkan di daerah jatinangor. Lulus SMA di Bekasi. Aktifitas sekarang adalah menulis, karena menulis sudah disukai dari waktu masih kecil. Beberapa puisi dan cerpen sudah diikutkan ke beberapa lomba termasuk antologi, dan pada tahun 2010 bergabung dengan FLP Jakarta untuk mengembangkan bakatnya untuk menjadi seoarang penulis Profesional sebagaimana yang dicita-citakannya.

Kamis, 10 Februari 2011

DIA


DIA

Dia masih berdiri dan memandang laut luas, sambil mengelus-elus perutnya yang yang sedang mengandung bayi, seperti sedang menunggu kedatangan seorang yang sangat dinanti-nantikan. Hanya segelintir orang yang sedang bermain di pantai putih, bermain dengan derunya ombak bersama anak dan sanak keluarga, hanya dia saja seorang diri dengan perasaan cemas. Sore ini, pasak laut akan menaik tinggi, ombak akan semakin ganas, sepertinya akan ada badai. Para nelayan tidak ada yang berani melaut, takut terjadi sesuatu pada diri mereka masing-masing. Seorang menghampirinya.

“Nyai, kenapa masih berdiri di sini, apa suamimu belum juga pulang dari melaut?” Tanya Kang Rojak padanya.

“Belum, Saya sangat mencemaskannya. Biasanya, jam lima sore sudah selesai melaut. Tapi kali ini suami saya belum juga muncul ke tepian.” Tangannya meremas erat selendang hijau yang menyelimuti leher dan rambutnya.

“Kalau gitu, saya mau pulang dulu ya, moga saja tidak ada apa-apa dengan suamimu, kalau tidak salah dia melaut bersama si Ujang, jadi kayaknya akan aman bila bersama. Mari Nyai,” Lalu meninggalkannya, dan hilang dalam pandangan.

Sore itu, angin laut begitu kencang menerpa kebaya, dan menyibak selendang yang dia kenakan. Dari ujung lautan, terlihat hidung perahu kecil dengan layar yang mengembang kecil. Dayuhan tangan cepat mendayung menuju daratan. Salah seorang tersebut berdiri di ujung perahu dan melihat daratan, kemudian melambaikan tangan seraya berteriak memanggil namanya. Hatinya kini tenang, Suaminya tidak apa-apa.

Sesampai di ketepian sambil menarik perahu ke daratan, Ujang yang sedari terlihat lelah mendayung, hanya bisa mengeluh kecapaian. Sedangkan suaminya mengambil sesuatu dari dalam perahu berupa jala ikan beserta tangkapannya yang sudah dimasukan ke dalam ember hitam tertutup.

“Kang, capek ya? Tumben sore menjelang maghrib baru pulang?” Sambil menyusutkan keringat suaminya. Namun hanya diam yang didapatkan dari sang suami. Diapun bertanya kepada Ujang yang sedang duduk di atas pasir, dan kemudian merebahkan kaki untu menghilangkan pegal.

“Jang, kok pada diam, ada apa?” heran.

“Nyai, minggu-minggu ini laut lagi tidak bersahabat dengan kita. Ikan-ikan entah para kemana, yang jelas tangkapan hari ini semakin sedikit saja, yang ada hanya ikan kecil saja. Kalau terus begini, penghasilan penjualan ikan semakin turun. Terus mau makan apa anak-anak kami”

Suaminya hanya bisa menarik nafas panjang, dan mengeluarkannya berat. Wajah itu, bukanlah wajah suaminya yang dulu. Hilang entah dimana. Dulu, sejak masih bagus keadaannya, perhari melaut bisa mendapatkan 200 ton ikan laut, suaminya selalu tersenyum bahagia, dan semangat yang tiada henti. Anak-anak nelayan pun berlarian menghampiri dan kemudian merauk sebagian tangkapan untuk dijadikan makanan keluarganya. Setiap datang, suaminya selalu disambut hangat oleh senyuman mungil yang menghiasi wajah yang kumal ini akibat terjemur sinar matahari. namun semenjak cuaca yang tidak menentu, sehari hanya bisa mendapatkan 2 ton ikan laut saja, dan hari ini yang terparah bagi para nelayan.

Sesampai dirumah, suaminya hanya bisa merebahkan badannya pada kursi bambu yang sudah tertelan usia, membayangkan masa depan keluarganya.

Hari berganti hari, dia tidak lagi berdiri menunggu suaminya. Orang yang biasa melihatnya, bertanya-tanya ‘kemana ia?’ Kang Rojak yang biasanya menyapa, heran akan hilangnya sosok perempuan itu beserta suaminya.

Disudut perkampungan, orang-orang sedang berkumpul sambil berteriak-teriak sedang menyemangati sesuatu. “Ayo, Jalu! Kalahkan si brokokok itu! Jangan sampai kalah.” Sedangkan yang lainnya berteriak membela yang satunya.  Ternyata mereka sedang sabung ayam, dan mereka juga sedang taruhan besar-besaran.



“kang, masih ada duit gak?”

“Ada, masih banyak, tenang aja. Kita bakalan menang kali ini. Lihat aja nanti, ayammu Jang, pasti menang! Penuh semangat dan ambisi.
“Tapi, Kang, nanti kalau nanti kalah bagaimana? Kasihan Nyai Ijah, beserta anak Akang yang sedang dikandung itu”

“Tenang aja Jang, gak bakal kalah. Tapi kalau nanti kalah kan bisa nyari lagi duitnya”

Berjam lamanya akhirnya pertandingan tersebut usai dengan membawa kekalahan yang tidak berarti apa-apa. Ternyata akibat jarang mendapatkan tangkapan ikan, suaminya mengadakan sabung ayam, sekaligus menjadi pekerjaan barunya. Sedangkan di rumah, dia yang seorang diri mengasuh anaknya yang masih satu tahun itu, hanya bisa pasrah melihat kelakuan suaminya yang sudah berubah total begitu juga sikap padanya. Kadang-kadang wajahnya menjadi sasaran tamparan amarah suaminya ketika sedang menasehati kalau perbuatan yang selama ini dilakoninya adalah salah. Yang ada hanyalah menghambur-hamburkan uang saja. Sedangkan anak dan dirinya lebih membutuhkan makanan yang halal dibanding makanan yang dihasilkan perbuatan yang haram, dan hari ini dia tidak makan sama sekali. Badannya sudah luluh lantah akibat terjangan amarah suaminya, yang ada dalam dirinya hanyalah kesabaran sebagai isteri yang selalu berusaha menasihati suaminya. Apalagi banyak sebagian warga kampung yang bergunjing tentang ketidak harmonisan keluarganya.

***
“Jang, malam ini kita beraksi lagi, kali ini sasarannya adalah rumah Rojak”

“Duh, Kang, bahaya ah! Nanti kalau ketahuan nanti berabeh urusannya, apalagi sasarannya Kang Rojak, diakan udah kayak saudaranya Akang sendiri,” cemas dan gundah yang ada dipikiran Ujang.

“Ah, peduli amat! Dia juga gak pernah memberikan bantuannya pada saya”

Tengah malampun tiba, senyap, yang ada hanyalah suara deburan ombak yang semakin ganas, perahu-perahu nelayan tergeletak begitu saja tak terurus oleh pemiliknya. Derap langkah kaki begitu cepat menuju rumah yang sudah dijadikan incaran, hanya bermodalkan linggis, dan penutup kepala, mereka membobol rumah tersebut secara paksa.


“Kang, kita sudah masuk. Sepertinya pemilik rumah ini sedang tidur pulas”

“Baik, Jang, kamu cari barang yang bagus untuk bisa kita jual” sambil menyelinap dalam kegelapan.

Mereka berpencar mencari setiap sudut ruangan yang ada untuk mencari barang berharga. Rumah Kang Rojak memang terbilang lumayan mewah, walau berpenampilan sederhana, namun penghasilan lumayan cukup.

Ketika sedang mencari harta benda, tiba-tiba saja lampu menyala, dan segerombolan orang sudah berkumpul di depan rumah Kang Rojak. Dengan amarah yang besar, sang pemilik rumah langsung menyeret dua orang yang tertutup oleh penutup kepala dengan kasar. Sesampai di depan rumah, penutup kepala tersebut dibuka.

“Ternyata benar, kalian ingin mencuri rumahku. Benar-benar keterlaluan kamu Kang, apalagi kamu Jang, terlalu lugu untuk diajak yang tidak baik. Mau jadi apa kamu! Kasihan isteri dan anakmu Jang,”

Warga yang sudah berkumpul kemudian menyaksikan sendiri siapa sebenarnya pencuri itu, langsung mencaci maki dengan membabi buta. Ada yang berkata “Hajar aja ampe mati!”, “Bakar aja, pencuri dikampung kita ini dan jangan diampuni!” dan hujatan lainnya yang tidak pantas diucapkan.

“Kami, semua warga sudah jengah dengan tingkah lakumu Kang, yang sudah berubah, padahal kamu adalah orang sangat dihormati oleh kami. Seorang yang mampu membuat anak-anak kampong nelayan ini sangat bergembira, menantikan ikan-ikanmu yang melimpah luah. Tapi sekarang lihat, engkau sudah menjadi orang

lain. Menjadi seorang sabung ayam liar, dan kini menjadi pencuri. Aku jadi kasihan melihat Nyai Ijah dan anakmu semata wayang itu.” Ujar Rojak sambil menenteng balok panjang ukuran besar.

Dua pencuri itu hanya bisa menunduk malu, dan tidak menoleh kemana-mana, karena semua mata tertuju pada mereka. Kapanpun,  warga bisa jadi menghabisi mereka sekejap saja.

“Kang,” suara lembut tiba-tiba mengheningkan suasana. Semua terdiam memandangnya.

“Nyai, maafkan kami yang sudah bertindak kasar pada suamimu ini” Ucap Rojak yang sudah tahu akan kedatangannya.

“Kang, aku sebagai isterimu, sangatlah kecewa. Melihatmu berbuat demikian. Aku takut, anak kita semata wayang yang ada dalam kandungan ini akan membencimu kelak akibat ulamu sendiri. Taubatlah Kang. Jadilah suami Ijah yang dulu, yang selalu menyenangkan warga” tanpa terasa meneteskan air mata.

Suaminya yang hanya tertunduk hanya bisa memandangi tanah yang basah. Tangannya menggenggam erat rerumputan yang pendek, dengan susunggukan air matanya mengalir deras membasahi bumi. Ujang yang hanya terdiam ikut-ikutan menangis. Menyesal atas perbuatan yang selama ini adalah salah. Warga hanya bisa memandang.

***
Terhempas badan dari rebahan serta berteriak memanggil namanya. “Ijah!” Keringat bercucuran begitu saja, Nyai Ijah yang sedang menyiapkan makanan keheranan, sekaligus ketakutan.

“Ada apa Kang, kenapa berteriak seperti itu, Ijah ada disini” sambil menyuguhkan air hangat.


“Akang, menyesal Ijah”

“Menyesal kenapa? Memang apa yang Akang lakukan?”

“Entahlah Ijah, sepertinya Akang bermimpi” langsung memeluknya penuh kehangatan. dengan kesadaran hati, tidak akan pernah seperti itu, masih ada kata iman dalam diri untuk merubah masa depan.
“Entahlah apa yang terjadi padanya, namun dia tetaplah suamiku”
~end~

~akzf~

Kamis, 03 Februari 2011

HANTU POHON PISANG (Pernah diikut sertakan pada ajang Scary Moment)

HANTU POHON PISANG

Ini kisah nyata ketika aku masih menginjak jenjang pendidikan kelas 3 SMP di Pesantren, tepatnya di daerah Jatinagor – Sumedang. Daerah perbatasan antara Bandung dan Sumedang ini terkenal oleh masyarakat akan mistis yang menjalar turun temurun dari leluhur dahulu. Namun warga sudah tidak merasa takut lagi bila melihat atau mendengar hal-hal yang berbau jauh dari nalar manusia. Penampakan sering terjadi, malahan kecelakaan sering terjadi juga dikaitkan dengan hal-hal ghoib. Misal, seperti Cadas Pangeran yang terkenal rawan kecelakaan yang terjadi selalu tidak masuk akal. Mobil yang mundur sendiri, dan akhirnya masuk jurang, kendaraan yang jalan sendiri tanpa pengemudi, dan akhirnya masuk juga kejurang. Aku yang sering lewat situ, merasa ngeri, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi bila melihat patung Cadas pangeran, hiiii, makin takut aku untuk melewatinya. Tapi semenjak berkembangnya zaman, semua cerita itu terasa fiktif belaka, walau kenyataannya begitu.
Kisah yang aku alami berawal dari sebuah persiapan acara sebuah pentas seni yang akan dilaksanakan dua hari lagi tepatnya hari minggu (tanggal dan bulannya lupa). Aku beserta teman-teman yang terdiri dari Rudi, Jajang, dan Maman (nama disamarkan) berencana akan menetap selama satu malam di sebuah lab komputer samping masjid yang semenjak pagi hari sudah dikosongkan ruangannya guna untuk kami membuat spanduk acara. Aku dan teman-teman akan bekerja keras semalaman untuk acara pentas seni besok pagi hari.
Setelah selesai sholat Isya, kami bergegas untuk menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk membuat spanduk yang cukup besar, kira-kira ya, 3 x 1 an. Walau acaranya besok hari, tapi kami kelihatan berleha-leha, maklum, siapa sih yang tidak senang begadang gini hari hingga larut malam menjelang subuh. Tampak kesenangan diraut wajah kami ketika melihat kasur empuk beserta bantal guling dengan beberapa buku bacaan dan sempel contoh spanduk yang sudah dibuat sebelumnya oleh salah satu rekan panitia acara, tergeletak marayu kami untuk bermanja-manja tiduran telengkup sambil membuat guratan kertas menggunakan gunting dan silet membentuk pola tulisan yang akan kami pampang di background spanduk berwarna putih itu.
“Eh, kalian semua, begadang begini mendingan ngopi yuk” ujar Jajang yang dari tadi sudah menyiapkan cangkir dan gelas dari dapur sekolah.

“Ya udah, tapi kopinya belum ada nih… siapa yang mau beli?” Tanyaku yang juga sudah tidak tahan ingin ngopi.

Abdi jeung si Maman we nu ka hareup meuli kopina (Saya dengan Maman aja yang ke depan untuk beli kopinya)” ungkap Jajang menawarkan dirinya bersama Maman dengan menggunakan bahasa sunda sambil meminta uang untuk membeli kopi “Mana duitnya, sini” Akhirnya Jajang dan Maman bergegas ke depan.

Nampak jam sudah menunjukan angka 11 malam lewat. Pekarangan masjid sudah nampak sepi. Aku yang masih beranjak asyik menggunting kertas berwarna yang berpola huruf dan angka bersama Rudi menjadi ngeri, karena tidak ada satupun suara yang terdengar sama sekali. Di depan masjid hanya ada sebuah kolam besar yang konon, penghuninya banyak, dan sering menampakan diri sambil memainkan air. Sedangkan pekarangan masjid yang sering dilewati para santri begitu sepi. Kami berdua hanya bias bergumam sambil memakan cemilan yang sudah dipersiapkan, dan sama sekali tidak pernah memandang jendela mengarah ke belakang gedung  yang begitu gelap. Menyeramkan.
Sudah setengah jam lamanya aku dan Rudi menunggu Jajang dan Maman yang sedang kedepan membeli kopi tidak muncul-muncul juga. Tiba-tiba saja pintu lab komputer terbuka paksa “Brakk!!” tersentak aku dan Rudi ketakutan bukan main. Ternyata itu Jajang dan Maman yang sedang berlari ketakutan karena sesuatu hal yang membuat mereka berlari bukan kepalang. Sambil menghela nafas panjang, Jajang dan Maman pun bercerita apa yang sedang terjadi. Memang, Pesantren kami berada di tengah-tengah pemukiman warga, sedangkan untuk menuju ke jalan raya harus melewati jalan-jalan kecil walau tidak begitu jauh nyatanya. Tapi bila malam hari, penerangan begitu minim, hanya beberapa lampu yang bersinar menyinari jalan-jalan itu, nampak begitu menyeramkan, apalagi kalau ada penampakan, pasti langsung kocar-kacir minta ampun. Nah, begitulah yang dialami Jajang dan Maman, mereka berdua bercerita, bahwa di pertingkungan jalan kecil yang tepat berada tidak jauh dari pesantren atau tepat lab komputer yang kami singgahi ini, terdapat tiga buah pohon pisang yang dimana tingginya kira-kira satu setengah meteran, gelap tanpa penerangan, walau disamping terdapat rumah warga, tapi suasananya sudah cukup membuat bulu roma berdiri.
Ceritanya, Maman dan Ujang sedang melewati jalan setapak menuju jalan raya, dan harus melewati daerah tempat tiga pohon pisang itu berada. Ketika tepat berada di bawah pohon pisang tersebut, Maman merasakan hal yang aneh, seperti ada yang memperhatikan. Menoleh kanan kiri yang ada hanya kegelapan yang menyelimuti ketakutan.
“Pokoknya benar-benar serem, deh” ujar Maman sambil merinding menceritakannya. Aku dan Rudi hanya mendengarkan dan membayangkan saja apa yang sedang diceritakannya. Akhirnya Maman dan Jajang bergegas menuju warung kopi yang berada di ujung jalan seberang. Pas, sudah selesai membeli kopi bungkusan, ternyata mereka berdua harus melewati daerah itu lagi, daerah yang dirasakan Maman seperti ada yang memperhatikan. Jajang waktu itu hanya ingin cepet-cepet sampai ke lab komputer. Pas berada di bawah pohon pisang tersebut, tiba-tiba saja Jajang berhenti mendadak. Maman juga ikut berhenti sambil menyuruh Jajang segera jalan kembali, kalau bisa lari sekalian.

“Man, kamu denger sesuatu tidak, seperti ada suara orang” berkata Jajang dengan nada ketakutan.

“Jang, yang bener napa bicaranya, abdi teh jadi takut mendengarnya, udah jalan aja yuk” ajak Maman untuk segera jalan pada Jajang.

Waktu itu, Maman dan Jajang bercerita katanya suara itu seperti suara perempuan, dan suara itu tepat berada dimana tiga pohon pisang yang berjejer itu berada.

Suara itu begitu jelas sekali, dan akhirnya Jajang menoleh ke atas pohon pisang, dan langsung lari terbirit-birit begitu saja, sambil diikuti Maman dari belakang yang juga ketakutan melihat ekspresi wajah Jajang semrautan. Sampai akhirnya pintu lab komputer dibuka paksa oleh Jajang.

Ternyata, ketika Jajang menoleh ke atas pohon itu, ada sosok katanya putih bertengger di pohon pisang tersebut. Hingga esok harinya, akibat kejadian semalam, kami semua kapok lewat situ malam-malam, dan dengar-dengar daerah situ sudah ada penerangan lampunya, jadi siapa saja yang lewat sudah tidak takut lagi. Sampai sekarang masih berfikir, kok, ada ya, hantu di pohon pisang, tanyaku dalam hati. Tapi itu memang benar-benar terjadi pada kami, dimalam yang sunyi itu.

~Azmi S. N~

Jumat, 21 Januari 2011

JODOH TIDAK AKAN TERTUKAR. Episode 2

Aku sudah berada di masjid Al-Falaq guna menunaikan sholat dzuhur, sekaligus menghadiri undangan  tersebut.  Jam dinding masjid sudah menunjukan setengah dua lewat. Aku tidak tahu kenapa negaraku begitu unik. Cuma di negaraku saja yang ada istilah jam karet. Atau memang masih ada Negara yang mengusung istilah itu. Tapi kali ini tidak ada istiah yang namanya jam karet, panitia ternyata sudah bersiap-siap dari sebelum dzuhur. Aku duduk dipelantaran depan masjid menunggu panitia memanggil para undangan. Udin yang sudah berganti model, sudah ada di depan masjid Al-Falaq.

“Man, penampilan gue gemana, bagus gak?” dengan menampilkan muka mesemnya percis kayak bempernya bajaj.

“Emang kenapa Din, bagus kok. Ternyata kalau kamu pakai kemeja, apalagi warnanya kuning, mecing juga penampilannya. Tuh lihat ada gambar bunga mawar juga dikantongnya. Udah deh, habis itu tinggal lamar tuh si Romlah pujaan hatimu itu”

“Ah, lo Man, giliran nyindir aja paling bisa. Malu gue nih. Masa gue kayak orang tujuh puluhan aja. Mending Kalau Romlah suka, yang ada gue diputusin. Ntar kata Romlah begini ‘Ih, si abang genit minta ampun dandanannya. Lagi juga Romlah paling gak suka dengan penampilan kayak gitu, norak! Kita putus! Titik.’” dengan gaya perempuan dan dengan wajah miris membayangkan apa yang akan terjadi dengan Romlah terhadap dirinya. “Kejam lo Man”

“Udah-udah, aku cuma becanda doang. Jangan ngambek, nanti ketahuan Romlah lagi”

“Ketahuan apaan Man?” Penasaran.

“Ketahuan kalau si Udin yang paling macho dikampus ini, ternyata orangnya cengeng, haha” Aku berdiri mengambil kerah kemeja Udin kemudian menyusutkan ujung kerah tersebut ke bibirnya, dan langsung lari menjauh melihat Udin yang sepertinya sedang kesal.

“Man, wah lo kebangetan jangan kabur. Sini!” Akhirnya Udin mengejarku menuju gedung aula pertemuan. Sambil berlari, aku hanya bisa tertawa geli. Tiba-tiba….

******

“Kenapa Man, kok berhenti sih, kan gak asyik ngejitak pala lo jadinya, kayak pasrah aja. Kasihan jadinya gue” Pasang muka mesem lagi.

“Din, lihat pukul 13 arah barat deh, subhanallah ya.” Senyum seketika.

Udin yang tidak ngeh, malah lihat jam tangannya yang metal. “Ah, lo Man, kata siapa sekarang jam 13, yang ada sekarang udah mau jam 14. Ckckck, makanya Man, lo beli jam yang agak bagusan napa. Apa jangan – jangan baterai jam lo abis ya?”

“Duh, Din, Din, kapan sih bisa merespon perkataan orang dengan benar. Bukan jam aku yang rusak din, tapi coba lihat pandangan arah jam 13 barat. Perempuan berjilbab merah jambu itu lagi, Din” mematung.

“Oouh, itu toh, kenapa, lo jatuh hati ya ama perempuan itu. Hayoo….” Sambil melihat raut wajah Firman yang masih terpesona oleh perempuan berjilbab itu.

“Siapa namanya ya, jadi pengen kenalan”

“Kenalan aja, terus, ajak dia jadi pacar lo. Gampangkan”

“Siapa yang jadiin pacar Din”

“Terus dijadiin apaan dong, masa dijadiin perkedel ya gak mungkin lah. Lo ada-ada aja Man”

“Ngaco kamu, Din”

“Lah, terus mau dijadiin apa, kenalan doang ya ga asyik, dijadiin isteri?”

“Ya, pengen dijadikan isteri, Din”

“Buset!, apa gak salah denger gue” tercengang kaget. Sambil memegang keningku “Lo demam ya?” keheranan.

“Aku gak demam Din, malah sehat bugar. Tadi pagi aja lari-lari pagi. serius, Din. Aku gak main-main. Din, tolong Bantu aku untuk bisa berkenalan dengannya”

“Wadduh, gue aja kagak kenal tu cewe, mau dibantu deketin gemana. Pake pelet gitu?”

“Ya nggak lah, sekiranya pacarmu Din kenal dengan ntu perempuan. Kan law gak salah pacarmu itu juga bisa ngemacomblangin orang”

“Masa sih, kok gue kagak tau kalau pacar gue berprofersi sebagai macomblang, lagi juga ya Man, kalau lo serius sama itu perempuan, datang aja ke rumahnya”

“Ngapain?”

“Bujubuneng  dah ni orang. Ya ngelamarlah”

“haha, tumben kamu bener ngomongnya, Din. Belajar dari mana”

“Wah, wah, kebangetan lo Man, sama teman sendiri. Emang selama ini kalau gue ngomong kagak bener apa. Jangan salah Ariel Peterpen nih, Cuma lagi pake kemeja butut si Somad tahun tujuh puluhan aja” bergaya vokalis band.

“Ariel apaan, Arielontong yang ada! Haha. Kabur!!!” Lari ke dalam aula pertemuan yang ternyata sudah agak ramai.

“Heh, Man, tunggu gue, jangan kabur”

Suasana langit mulai berubah menjadi kelabu. Seiring angin bertiup kencang, dedaunan berterbangan mengikuti alur derasnya waktu. Sudah jam dua, Aula sudah terisi penuh oleh peserta undangan. Acarapun akan segera dimulai. Semua mata terpaku kearah moderator laki-laki yang sedang berdiri di depan bersiap membuka acara. Aku dan Udin duduk paling depan bertatakan meja dengan taplak putih bergambar bunga hias berjejer memisahkan tempat moderator dengan peserta. Semuanya duduk dengan sangat khidmat.

Pembukaan, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an sudah dilantunkan. Kini pada inti persoalan, moderator memanggil pembicara untuk memberikan maksud kenapa mereka para peserta harus hadir. Siti Mutmainnah, ya itulah nama pembicaranya sekaligus dia adalah ketua ROHIS kampus ini. Semua mata terpesona dengan keanggunannya, Busana muslim daster merah jambu dengan renda putih pada lengan baju membuat semakin wibawa yang mengenakannya. Wajah ayu yang terselimuti jilbab merah jambu itu sudah tidak asing lagi buatku. Ternyata dia, bidadari itu. Udin hanya bisa memandangku mematung, kemudian menyadarkanku dengan sekali sentakan.

“Man!” sentaknya agak keras, hampir semua peserta memandang kearah kami.

“E, e..ya Din, ada apa??” Linglung.
“Lo jangan malu-maluin sebagai ketua kelas napa, pake etika dikit kek, jatuh cinta boleh-boleh aja, tapi jangan ampe segitunya memandang. Buset dah” Udin mengingatkan.

“Din, namanya Siti Mutmainnah, baru tau aku” bisikku pada Udin.

“Iya, gue juga udah tau, kan moderatornya yang ngasih tau, ah lo gemana sih”

“Iya ya, kenapa aku jadi begini ya, jadi kayak orang kikuk aja”

“Wajarlah Man, namanya juga lagi jatuh cinta, gue juga ngerasain”

“Ya sudah, dengarkan saja dia berbicara, dengerinnya aja udah sejuk banget, hehe”

“Ah, lebay lo Man”

Aku harus dapatkan perempuan itu untuk jadi isteriku, aku memang sedang jatuh hati padanya. Siapa namanya ya. Hati ini sungguh berdegup kencang. Sudikah dia berkenalan denganku. Aku harap demikian. Batin hatiku kini begitu gelisah. 

******
 Bersambung....

Rabu, 19 Januari 2011

JODOH TIDAK AKAN TERTUKAR. Episode 1

Ku sadari usiaku sudah menginjak mendekati kepala tiga. Ibu sudah memberi isyarat kepadaku untuk segera menikah. Dalam usiaku kini, kesibukan kuliah sudah menjadi rutinitas keseharian. Tiada kenal lelah bila sudah menjalaninya. Bagiku, menggapai cita-cita menjadi nomor satu. Belum terfikirkan untuk mencari pasangan hidup. Apalagi Ayah sudah tidak ada lagi, dan aku lah yang sekarang menggantikan tugas Ayah untuk menafkahi keluarga ini.

Sudah puluhan calon isteri disodorkan oleh Ibu kepadaku, namun semuanya aku tolak. Entah apa karena sedang fokus menyelesaikan S1 di salah satu Fakultas kedokteran Negeri Jakarta, atau karena tidak ada dari salah satu calon yang aku sukai. Tapi semua aku terima apa yang Ibu usahakan kepadaku. Walau kenyataanya tidak ada hasil bahwa aku suka dengan salah satu calon yang Ibu ajukan padaku.

Setiap hari sebelum aku lekas berangkat kuliah, pasti Ibu selalu mengingatkanku untuk segera mencari pasangan hidup. Aku hanya tersenyum sambil mengiyakannya saja.

“Firman, kamu sudah dewasa..cepat-cepat kamu cari calon pendamping. Biar disisa waktu ibu tidak khawatir akan keadaan kamu yang segalanya penuh dengan kesibukan kuliah. Ibu takut kamu napa-napa, nak”. Getir suara Ibu  membuat hatiku terenyuh.

“Insya Allah Bu, Ibu tenang aja...bukankah Jodoh itu sudah ada yang ngatur, bukankah begitu Bu,?  Ibu mau yang bagaimana,? Mau yang pintar masak biar Ibu selalu mendapatkan hidangan yang lezat, atau ingin yang bisa mengurus segala kebutuhan rumah tangga?” sambil merayu dengan tersenyum manis agar hati Ibu tenang.

Mendengar ucapanku Ibu mulai reda akan gelisahnya.
“iya, Nak... moga kamu mendapatkan apa yang memang pantas buatmu, Ibu hanya mendoakan yang terbaik. Tapi ingat nak, jodoh memang sudah ada yang mengatur, tetapi kalau tidak dicari ya.....”

“Ya apa Bu?”

“Ya tidak dapat dapat,!” Ibu menasehati.

“Hm,, Firman tau itu Bu, Ibu doakan saja ya. Sudah, Firman mau berangkat dulu Bu,”

  Aku langsung meraih tangan kanan Ibu, menyalami dan mengecup keningnya dengan cinta kasih sayang dari anak kepada Ibunya, dan lekas pergi mengucapkan salam.

Sudah pertengahan semester akhir, Ibu selalu mengharapkan calon pendamping untukku. Aku merasa khawatir melihat kondisi Ibu yang sedang sakit. Aku tidak mau kehilangan seorang yang sudah memberikan curahan kasih sayangnya padaku dalam kondisi seperti ini. Benar kata Ibu, sudah waktunya aku untuk segera mencari belahan jiwa yang mampu mendampingi hidupku. Mulai menit dan detik ini, aku akan mencari. Sudah tidak ada waktu untuk menunda-nunda. Yang jadi permasalahan, di mana aku harus mencari. Tidak mungkin kampusku, perempuan disana terlalu bebas pergaulannya. Ibu pasti tidak suka dengan calon isteri yang seperti itu.

Di setiap tengah malam dalam sholat tahajjudnya, Ibu selalu merintih memohon kepada Allah agar diriku ini mendapatkan jodoh yang terbaik di mata Ibu dan di mata Allah. Aku yang hanya mendengar dan mengaminkan, hanya bisa bersimpuh dibalik pintu kamar Ibu sambil menetes air mata.

“Ya Allah wahai Tuhanku, aku mohon bimbinglah diriku untuk menemukan arti cinta, karena kesibukan telah melalaikan diriku. Kiranya berkenankanlah kabulkan setiap doa malam seorang Ibu kepada anaknya, Ya Robb, aku memohon,,Amin”

*****

“Man, lo mau kemana?” tanya Udin padaku.

“Nggak Din Cuma mau ke Perpustakaan kampus aja, emang ada apa?” aku langsung berhenti tepat di depan pintu perpustakaan.

“Man, ada surat undangan. Nih dari anak ROHIS (Rohani Islam) Masjid Al-Falaq,!” langsung memberikannya padaku, “Tadi pagi anak – anak kelas kita menerima undangan itu, disitu dikatakan harap datang pada jam 2 siang selepas sholat dzuhur nanti, nah dikatakan pula hanya dua orang saja perwakilan dari setiap masing-masing kelas.” 

“ah, kamu Din udah seperti moderator saja, langung ke intinya napa Din,” aku hanya tertuju pada amplop undangan itu  yang dimana tulisan alamat surat itu sangat indah. Sepertinya tulisan perempuan.

“ya elah! Kan lo ketua kelas kita, kirim siapa kek yang nanti datang ke sana? maksud gue, Man, Man?! Denger nggak?!” jengkel “Buset ini bocah, gue lagi ngomong, malah ngeliatin amplop” Udin dengan logat betawi yang sangat kental.

“Sorry Din. Habis bagus tulisan tangan alamatnya. Baik, aku dan kamu Din yang akan menjadi perwakilan kelas. Kamu jangan kemana-mana, oke!”

“Waduh! kebangetan lo Man,? Masa kesana pake pakaian beginian?!” aku melihat tampilannya yang hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans cokelat belang yang lututnya sudah mau bolong, membuatku ingin tertawa di depannya. Tertahan hingga hanya membuat simpul kecil senyuman diiringi suara cekikikan.

“Pinjam baju sana, ama Somad! Biasanya dia bawa salinan ke kampus. Terus juga celana jangan lupa,,,” terputus.

“Pinjam juga kan?!” Celetuk Udin, “iye gue tau!” dengan raut muka cemberut terpasang, semakin jelas sudah jeleknya muka Udin. Membuatku makin menjadi-jadi. Udin tidak menghiraukanku.

Tiba-tiba, sosok perempuan berjilbab panjang merah jambu keluar dari pintu perpustakaan, dan melintas dengan senyuman yang menawan. Membuatku mematung sekian detik malah terasa berabad lamanya. Yang tadinya ingin tertawa karena mukanya Udin, kini  beralih senyum berkembang di bibirku melihat wajah yang teduh itu. Ingin sekali aku menyapanya, tapi susah !.
Udin yang dari tadi juga memperhatikan perempuan jilbab itu, langsung menoleh ke arahku “Masya Allah Man, sadar, insaf!” Perempuan itu sudah sirna dari pandangan, tapi mata ini masih ada senyumannya. Lamunanku berlanjut.

“Wah, parah nih. Kudu panggil ambulan!” aku yang tersadar mendengar ucapan Udin, “Apa? Ambulan? Emang aku sakit apa Din?!”

“Sakit Jiwa Lo Man,!”

“Din, tadi bidadari atau malaikat ya?” Tanyaku tanpa memperhatikan ucapan Udin.

“Wah tambah sarap!, udah Man, tadi katanya mau ke perpustakaan!” Udin mendorongku masuk ke perpustakaan. Disana tampak tidak ada seorangpun, yang ada hanya dua, tiga orang yang sedang mencari buku. Aku bersandar diantara rak-rak buku yang berjajar. Wajah itu masih menyapaku, walau sedang membaca buku, namun yang terbaca hanya senyuman teduh perempuan berjilbab itu. apakah ini yang namanya jatuh cinta?.  Sebuah pertanyaan untuk hatiku yang sedang berdegup kencang. Udin pergi meninggalkanku. Dia menuju ke kelas untuk meminjam pakaian pada Somad, guna persiapan memenuhi undangan anak ROHIS di Masjid Al-Falaq. Masjid Kampus. Amplop undangan itu masih aku simpan.

*****

Bersambung....
~Ahmad Khoirul Zul Fithor~

Selasa, 18 Januari 2011

SENJA


Ketika  berada di luar kota, mendadak sebuah berita mengejutkanku sehingga mengharuskan kembali ke Jakarta. Sebuah mobil sedan oleng, hingga akhirnya menabrak dirimu, Ninda.
Di Rumah Sakit, dirimu selalu saja termenung memandang jendela dengan tatapan kosong. Aku tidak kuasa melihatmu terkulai tersiksa begini. Pasca kecelakaan itu, rencana pernikahan kita dibatalkan oleh pihak keluargaku yang mana mereka memandang sebelah mata pada dirimu. Kaki kananmu diamputasi karena radang infeksi pada retakan tulang, dan tidak bisa lagi disembuhkan. Orang tuaku malu mempunyai menantu yang cacat fisiknya. Namun aku juga malu atas sikap orangtuaku yang hanya mementingkan kesempurnaan. Aku malu padamu.
*****
“Ninda merindukan kembali melihat indahnya laut biru bersamamu. Bisakah keinginan Ninda tercapai, Mas.?” memandang  kearah luar jendela.
Aku hanya bisa menahan tangisan melihat keadaanmu seperti ini. ingin aku katakan padamu, ‘sudahi saja cinta kita selama ini, biarkan tersapu angin masa lalu’.
Dalam peraduan aku bermunajat kepadaMu, Tuhan. Untuk memberikan jalan yang terbaik bagi kami berdua. Deraian air mataku memohon untuk melunakan hati  kedua orangtuaku. Aku pasrah.
*****
Lihatlah burung-burung camar itu, senja,
Berterbangan di atas perahu sang nelayan,
Mengiringi kepergian ke tengah laut badai menerjang malam,
Rasa syukur bila ikan-ikan di laut menari menanti rembulan,
Bergulat lelah hanya pelampiasan membawa hasil,
Begitulah cinta, dia selalu mengiringi manusia,
Nampak kepermukaan disinari cahaya kasih sayang,
Tak akan hilang kerinduan menjelma bidadari,
Memperjuangkannya segenap ketulusan hati,

Di bibir pantai memandang deburan ombak laut biru, aku menyimak puisi darimu. Tentang perumpamaan cinta. Siapa sangka hati ini terlarut oleh denyutan syair  yang memukau.
Sambil mendorong kursi roda mengitari indahnya pantai yang memutih, aku melihat didekapan tanganmu masih tersimpan kenangan lama kita, sebuah cincin pertunangan melingkar erat di jari manismu. Ternyata selama ini dirimu masih menjaga cinta itu dilubuk hatimu. Aku kagum dan bangga andai mempunyai isteri sepertimu, Nanda. Sebuah permata tak ternilai harganya, dan tidak tergantikan. Rugi aku bila kehilanganmu.
Baiklah, ini keputusanku dan tidak ada keraguan. Aku akan menikahimu! Walau kursi roda menjadi tumpuan langkah bersama dirimu yang selalu tersenyum menikmati hari-hari  hingga  tenggelamnya senja.  janjiku padamu, dan orangtuaku. 

Sebuah Penantian



Siang ini hujan mengguyur Ibu kota Jakarta dengan derasnya. Rerumputan di taman mulai tergenangi air yang semakin lama semakin meninggi. Kendaraan bermotor berlalu lalang mencari tempat berteduh menghindari rintikan hujan yang kian tak berhenti.

Disudut pemukiman Ibu Kota yang semakin padat penduduknya. Aku, Ikbal Mahasiswa di sebuah Fakultas kecil Swasta sedang memandang langit mendung pekat di jendela kamarku dari dalam. Ditambahnya rembasan air hujan jatuh dari langit-langit bertandangkan ember untuk menampungnya. Sebuah ruangan kamar Kost yang hanya berukuran sekitar kurang lebih panjang dan lebarnya empat kali empat meter saja, cukup terisikan dua orang, tempat tidur, dan ruang belajar. Itupun kalau memang muat. Tempat Kostan yang terletak tak jauh dari keramaian Ibu Kota itu berlantaikan dua. aku tinggal di lantai dua yang pemandangannya langsung tertuju kepada keramaian jalan, dan juga letaknya tak jauh dari tempat aku kuliah. 

Tiga bulan lagi sidang Tugas Akhirku akan dimulai, persiapan bahan materi sudah terkumpul semua. Tinggal menyusun kembali bahan-bahan, dan kemudian mencoba untuk mempelajarinya lagi. Bukan itu saja, mental pun harus dipersiapkan matang-matang, karena biasanya penguji akan benar-benar mengoreksi dengan ketat dan tegas.

Namun suasana hati yang dirasakan olehku hari ini ternyata berbeda, ada kegundahan dan kesedihan yang berkecambuk di relung hatiku. Memandang ke luar jendela melihat pemandangan langit sekaligus arus kepanikan orang-orang menghindari curah hujan yang belum juga berhenti. 

Mata sembab berlinang air mata telah menemaniku dikesendirian. Menambah desiran pilu yang menggores keimanan. Kemudian kebimbangan telah menyelimuti hati, dan merambah menuju ambang keputus asaan. 

Dalam lamunan kesedihanku, terlintas bayangan sosok perempuan melayang-layang di hatiku, menambah derasnya linangan air mata jatuh ke lantai. Sudah berhari-hari lamanya bayangan itu tak pernah sirna, walau kenyataanya ingin sekali menyingkirkan dan melupakannya. Tapi sangatlah susah.

Perempuan yang sudah mengisi ruang hatiku penuh kebahagiaan, dan menghiasi celah-celah hari penuh dengan warna-warni keceriaan. Dengan memandangnya, sudah cukup bagiku tersenyum penuh takzim, dan kehadirannya saja membuat hatiku tentram.

Sejak lama, ingin sekali melamarnya kelak, menunggu waktu yang tepat mengungkapkan perasaan ini. namun kenyataanya malah sebaliknya, keinginan itu hanya angan-angan saja. Aku melirik ke atas meja, sebuah secarik kertas undangan Pernikahan merah jambu dengan sebuah pita terpajang di ujung kertas dengan sangat rapih. Di dalamnya tercantum sepasang nama yang akan segera melangsungkan akadnya hari ini, Nanda dan Bayu. 


Undangan itu sendiri datang tiga hari yang lalu, dan yang memberi undangan tersebut adalah Nanda sendiri. Betapa terpukulnya aku ketika melihat sebuah kertas undangan itu di tanganku. Ingin seketika itu menangis, tetapi aku mencoba tetap tegar dihadapannya. Raut wajah Nanda tidak secerah sebelumnya, seperti ada masalah yang sedang dihadapinya. setelah memberikan Undangan, Nanda berlalu begitu saja. di matanya terlihat butiran-butiran bening menetes. Tapi cukuplah Allah yang tau apa yang terjadi. 

“Ya Allah, apa yang terjadi, mungkin dia bukan cintaku, dan bilakah ini kehendak-Mu, aku memasrahkan diriku pada-Mu, .” bisik doaku pada-Nya.

Tiba-tiba tersentak tersadar dari lamunanku, Suara ketokan pintu terdengar keras berulang-ulang, sepertinya sudah lama. Rupanya kesedihan itu seakan-akan melenyapkan nyawaku pelan-pelan, dan membawaku ke alam kehampaan hingga suara ketokan pintu pun tak terdengar. Dengan spontan aku berdiri, seraya mengucakan Istighfar berkali-kali sambil mengusap air mata yang berlinang, dan mulai menenangkan diri sejenak sebelum membuka pintu tersebut. 

Langkahku terbata – bata akibat kesemutan di kaki. Ternyata sudah lama aku duduk termenung di lantai menghadap jendela. Aku melihat jam, ternyata sudah jam dua siang. Cuaca tak berubah, masih mendung pekat, sepekat kesedihan yang ku rasa saat ini.

“Assalamu’aalaikum, Nak Ikbal?” suara salam di balik pintu.

“Walaikum Salam,, iya,,,” jawabku sambil membukakan pintu.

Ketika membukakan pintu, aku terkejut siapa yang ada dihadapanku ini. Orang tua Nanda.

*****

Hujan sudah mulai mereda. Suara ribut kendaraan mulai terdengar kembali. Pejalan kaki sudah melangkahkan ke tujuan arahya. Langit tak begitu pekat lagi, bersilih waktu memudar memperlihatkan seberkas cahaya mentari menyorot bagaikan sebuah penerang kembali hati yang dirundung gelisah. siang ini, terasa begitu misterius akan kehadiran kedua orangtua Nanda. 

Ketika mengetahui siapa yang datang, dengan rasa terheran – heran dan gugup aku persilahkan mereka duduk di atas lantai yang hanya beralaskan tikar usang di samping tempat tidurku.

“Maaf, Pak, Bu, bila susana ruangan kurang berkenan di hati” risihku dengan rasa malu akan ruangan kostan yang agak sempit.

“Ada apa gerangan Bapak dan Ibu berkunjung ke Kostan saya yang sempit ini? bukankah Bapak dan Ibu seharusnya hadir dalam akad nikahnya Nanda?” sambil menundukkan kepala. Bekas tangisan masih membekas memerah di matanya. 

“Begini Nak Ikbal,” Kata Bapak Nanda sambil membenarkan posisi duduknya “Apa Nak benar-benar mencintai Nanda anak kami?”

Sebuah kalimat pertanyaan yang menggelegarkan hati Ikbal. Ada rasa senang, bingung dan penasaran. 

“Memang ada apa Pak?” penasaran.

“e,, Begini nak Ikbal, ini semua salah kami,,” sambung Ibu Nanda dan langsung menitihkan air mata tak tertahankan, tak bisa berkata apa-apa.

“Sebenarnya ada apa Pak, Bu,,? tolong jelaskan ke saya,,!!”

“Semenjak anak kami Nanda kenal dengan nak Ikbal, sikapnya di lingkungan kami selalu ceria, tak pernah luput dari pandangan kami akan senyumannya. Nanda selalu menceritakan kehidupan nak Ikbal yang berjuang dalam kehidupan yang serba kesusahan. Semua ia ceritakan. Sampai bagaimana membiayai keluarga nak Ikbal. Baik dari adik-adik nak Ikbal, sampai kepada orangtua nak Ikbal di Semarang. Kami hanya sebagai pendengar saja.” Jawab Bapak Nanda sambil tunduk sedih 

Dan melanjutkan kembali ceritanya, “kami tidak tahu bahwa Nanda diam – diam menyukai Nak Ikbal, sampai saat perjodohannya dengan Bayu membuatnya berubah total”

“Maksud Bapak,?” semakin penasaran, tetapi perkataannya tentang Nanda menyukainya membuat hati Ikbal kian berbunga-bunga tapi tak terlalu berharap.

“Iya, sikap Nanda seratus delapan puluh derajat berubah total, keceriaan yang lalu, kini mulai memudar. Senyumannya kini tak lagi mengembang mesra dihadapan kami, seakan Nanda membenci kami. Dua hari belakangan ini Nanda mulai sakit-sakitan, Nanda mengunci dirinya di dalam kamar, sampai sekarang.” Bapak Nanda yang sedari sedih mulai menitih air matanya “ini semua salah kami, kami orang tua yang terlalu egois.”

“Terus, bagaimana Akad nikahnya Pak?” Tanya Ikbal.

“Perjodohan itu sebenarnya karena keinginan kami dengan kedua orang tua Bayu. Saya adalah karyawan di perusahaan Bapaknya Bayu. Semenjak Nanda kami perkenalkan kepada pihak keluarga Bayu, kami bersama ingin menjodohkan mereka. Tapi, kini kami sadar, kami terlalu memaksakan kehendak, tidak memikirkan perasaan Nanda, Akad itu tak akan terwujudkan, bila dari salah satu kedua belah tak saling mencintai, tak akan pernah ada kebahagiaan di hati Nanda” diam sejenak.

“Lalu,,” lirihku pelan.

“Maka kami memutuskan untuk membatalkan pernikahan itu. Sekarang, apakah nak Ikbal benar – benar mencintai Nanda, anak kami.?” 

Tanpa dirasa, hati ini berbunga-bunga. Kian kencang gemuruh kebahagiaan yang dirasakan kini. Tak percaya apa yang terjadi. 
“Mimpikah aku,” lalu dengan spontan mencubit paha dengan keras, terasa sakit, “berarti ini bukan mimpi” ucapku dalam hati.

“Apa Jawaban nak Ikbal,? Menunggu.

“Iya, Insya Allah saya mencintai Nanda, sebagaimana Nanda mencintai saya, dan sebagaimana lebihnya cinta saya kepada Sang Pencipta Cinta dan Rosul-Nya.” Tunduk tersipu malu.

“Subhannallah, Walhamdulillah, Wala Illa ‘haillallah,,” Bapak dan Ibu Nanda langsung berpelukan bahagia seraya terus bedzikir. Tak ada perasaan yang lebih bahagia selain melihat anaknya berbahagia. 

“Tapi sebelumnya, kami mau meminta maaf kepada nak Ikbal, ada satu hal kabar yang belum tersmpaikan ke nak Ikbal”

“Berita apa itu Pak,?” sambil mengusap matanya yang sejak lama memerah karena bekas menangis, kini harus sembab kembali, tapi yang ini berbeda, menangis bahagia.

“Nanda kini di Rumah Sakit Umum Jakarta, Nanda terkulai pingsan karena lemas jarang makan. Maafkan kami Nak Ikbal, ini semua salah kami sebagai orangtuanya atas tindakan kami yang seronoh, tak memperhatikan keinginan sebenarnya.

“Subhannallah,, Allahu Akbar,,” pekik Ikbal, “Pak, Bu,, sebaiknya kita segera bergegas ke Rumah Sakit,” sambil terbangun dari duduknya.

“Baiklah nak Ikbal, kami tunggu di bawah, sekali lagi kami minta maaf” bangkit dari duduknya.

“Bapak dan Ibu nggak usah meminta maaf, minta maaflah kepada Nanda,”

“Ya nak Ikbal”

Akhirnya kami berangkat menuju Rumah Sakit Jakarta dengan menaiki kendaraan umum, dengan rasa gundah di hati orangtua Nanda berharap kedatangan nak Ikbal membawa suatu keajaiban terhadap anaknya.

*****

Sesampai di Rumah Sakit, kami langsung bergegas menuju kamar 108 bunga di lantai tiga gedung Rumah Sakit Umum Jakarta, tempat di mana Nanda dirawat kini. 

Pintu dibuka pelan-pelan olehku, dan terlihat di depan mataku Nanda terbaring tak sadarkan diri, infus terpasang di lengan kirinya. Wajahnya pucat, menandakan Nanda tak sehat. Sejurus kemudian Bapak Nanda memegang tangan kanan Nanda dan duduk sambil menangis. 

“Maafkan Bapak dan Ibu duhai anakku, kami telah salah langkah dalam membuatmu bahagia. Sadarlah anakku, kami ingin kau bahagia sesuai keinginanmu, kami sekarang mengerti. Duhai anakku sadarlah,!” Lirih suara Bapak akan ucapannya sambil mencium tangan Nanda.

Sang Ibu hanya bisa pasrah melihat anaknya terbaring tak sadarkan diri, menangis pilu, dan tak kuat menahan rasa bersalahnya. “Maafkan kami anakku” bisiknya di hati.

Sedangkan diriku bingung harus berbuat apa, tak ada yang bisa ku lakukan. Berdiri mematung disamping Bapak Nanda.

Tiba-tiba ada respon yang terjadi pada Nanda, tangannya mulai begerak, matanya mulai terbuka. Bibirnya menggumam menyebut nama Ikbal berkali-kali.

Aku pun tersentak kaget, lalu segera memanggil dokter untuk dipriksa keadaannya. Tapi bibir Nanda terus memanggil namaku. Dan aku pun membalas panggilannya. 

“Nanda, aku disini, disamping Bapakmu,” Balasku pelan.

Akhirnya Ibu Nanda yang memanggil Dokter.

Nanda lalu melirik ke arah samping Bapaknya yang dari tadi terus memegang tangan dengan erat. Sebuah senyuman mengembang kembali di bibirnya. 

“Assalamua’alaikum Ikbal,” 

Wa’alaikum salam, Nanda, bagaimana perasaan kamu sekarang?” sambil menjaga jarak.

“Alhamdulillah, rasa sakitnya sudah hilang kini,” sambil tersenyum.

“Sakit apa emangnya?” Balasku.

“Ah, biasa aja habis jatuh dari tempat tidur” jawabnya dengan canda.

Aku hanya tersenyum, aku tahu bahwa dia berbohong atas apa yang terjadi selama tiga hari menjelang akad nikahnya.

Bapak yang dari tadi bahagia melihat anaknya sadar kembali, lalu bermaksud ingin membicarakan sesuatu kepada Nanda. Namun sepertinya Nanda tak suka melihat Bapaknya. Nanda hanya ingin memandang langit-langit ruangan yang tak lagi memutih karena tertelan usia.

“Bapak dan Ibu tau, Nanda tak suka atas perjodohan itu. Bapak dan Ibu hanya ingin meminta maaf atas tindakan yang selama ini yang membuat Nanda menjadi begini. Sudikah memafkan Bapak dan Ibu,,,jawablah anakku” menangis kembali.

Sejenak sunyi, tak ada sepotong kata apa-apa yang terlontarkan dari lisan Nanda. Ikbal lalu menyarankan untuk memafkan. Di mata Nanda mulai terlihat samar-samar butiran bening bergelayut di kelopak matanya. Sekian lamanya akhirnya sepotong kalimat keluar dari lisan Nanda.
“Iya, Nanda sudah memaafkan Bapak dan Ibu sudah lama, tapi Nanda belum terima atas perjodohan itu” Nanda tidak tahu bahwa pernikahannya dengan Bayu dibatalkan.

Langsung sang Bapak mendekap dan mencium tangan Nanda dengan senangnya dan bahagia. 

“Anakku, sebagai gantinya Bapak dan Ibu membatalkan pernikahanmu dengan Bayu. Menit dan detik ini, kamu bebas anakku”

“apa,!!” teriak Nanda bahagia “yang benar Pak, pernikahan Nanda dibatalkan, Allahu Akbar!!” betapa senangnya Nanda mendengarnya, lalu kembali melirik Ikbal yang dari tadi tersenyum melihatnya. 

“Oya, anakku, ada satu lagi yang ingin Bapak sampaikan kepadamu,”

“apa itu Pak,?”

“Bapak akan menjodohkan kamu dengan seorang laki-laki yang selama ini mencintaimu,?”

Nanda kembali muram.

“Siapa Pak,?” sambil berpaling dari wajah Ikbal.

“Nak Ikbal” dengan lantangnya tak tertahankan lagi kebahagiaan itu.

Serentak Nanda tak percaya apa yang dikatakan Bapaknya. “Ikbal, dia,,,”

“Iya anakku, Ikbal akan menjadi calon suamimu,”

Mendengar ucapan itu wajah Nanda memerah malu. 

“Ikbal, apa benar apa yang dikatakan Bapakku?” serasa tak percaya. 

“Betul Nanda, aku akan melamarmu, tapi sehabis masa kuliahku dulu diselesaikan. Wisudaku masih lama, tiga bulan ini baru akan melaksanakan sidang Tugas Akhir.”

“Tidak apa-apa Ikbal, Nanda akan menunggumu,” tersenyum dalam pembaringan.

Hati Nanda berbunga-bunga, raganya terasa melayang – layang bahagia. Cintanya akan terlabuhkan. Nanda langsung bersyukur kepada Sang Pencipta. Ruang hatinya kini terisi akan rindu. Menunggu hingga batas waktu. Nanda kembali semangat.

Dokter pun datang bersama Ibu Nanda. Mereka tak mengetahui apa yang terjadi barusan. Yang terjadi hanyalah gelak tawa dan canda diantara mereka bertiga.

Suara adzan berkumandang dari Masjid Al-Falaq yang terletak disamping Rumah Sakit, menandakan Sholat Ashar telah tiba. Mengalun bergema mengitari ruang hati para hamba-Nya untuk bersegera melaksanakan kewajiban seorang muslim. Hujan pun sudah mereda, dibalik jendela terlihat pelangi terpampang jelas mengukir menghiasai langit. segerombolan burung layang-layang menari – nari mengikuti alunan tasbih. Senja akan tiba, sang mentari akan terbenam. Namun kebahagiaan itu akan abadi tak tertelan masa, selamanya.



~ Ahmad khoirul ZF. ~










WEB KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

Recent Coment

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)
Bagi yang ingin mengulurkan tangan sebagai donatur, silahkan kunjungi grup dan bergabung (Klik Gambar)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More