About this blog

TENTANG KOPAJA (KOmunitas Peduli Anak JAlanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) adalah komunitas yang bergerak dalam memanusiakan anak jalanan melalui pendidikan dan program-program pemberdayaan.

Pesantren Kilat Anak Jalanan (KOPAJA)

Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) memiliki salah satu misi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa anak jalanan. Melalui misi KOPAJA yang satu ini kami mengajak dan merangkul seluruh masyarakat .

Tampilkan postingan dengan label Puisi cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2013

Gejolak hati (puisi)

Tidur terlelap menanti,
Senang rasa hati termakan waktu,
Kumenunggumu dipelisir pantai impian, sayang

Adakah kau merasakannya jua,
Rindu purnama menyinari relung jiwa,
Kaulah segala-galanya bagiku.

Ya Robb, lindungilah ia dari fitnah juga kesedihan,
Kuatkanlah ketaqwaannya padaMu,
Aku menunggu sabar di balut mega purnama.


Sungguh indah langit itu,
Kugapai mimpi-mimpimu, sayang,
Mahligainya takdir cinta dipenghujung masa.

Bekasi,
di atas doa dan harapan

Langit biru (puisi)

Hanya bisa memandang langit, ingin kutiupkan angin berlalu bersma kenangan,

Aku memandang langit, begitu tenang, ingin rasanya hati setenang awan biru, terbang 
bebas tanpa hambatan, bersama angin aku ingin berbagi cerita kehidupan di bawah sana.

Mentari hanya bisa tersenyum menyambut impianku, dia hanya mengatakan, "sabar".

Ya Allah ke mana lagi aku harus mencari, setitik embun pagi menyejukan keimananku,
Ke mana lagi kudapati ketentraman hati,

Cobaan badai itu pasti terjadi
Awan mendung penuh kilat menghiasi kehidupan ini.

Ke mana lagi aku mesti berlindung ketika badai itu terjadi, hanya udara dingin menyelimuti diri.

Aku berpasrah akan semua ini, menunggu badai berhenti di persimpangan hidup,

Bunga-bunga pun kembali segar, langit begitu cerah, kehidupan kembali semula.

Di atas bebatuan, menunggu impian,
Bekasi,



Puisi, Belum tau judulnya....

Kata "Selamat tinggal " adalah kata yang tidak pantas seharusnya terlontar,
Bersama Angin berlalu hati ini terbawa suasana pantai,
Deburan ombak itu sedang bercerita mengenai kerasnya kehidupan,
Datang perlahan namun keras menerpa bebatuan hingga terkikis,
Hanya bebetuan yang kokoh saja yang mampu mempertahankan bentuknya,

Aku berdiri tegap, kadang ole
Sekali ku tengok kanan dan kiri, ada beberapa orang bermain ombak dengan cerianya,
Ya, orang tua dan anak-anaknya sedang asik menikmati pantai ini, tepatnya menjelang matahhari terbenam,
Tak seharusnya aku berkata kasar padanya, memorial senja berkelabut di pikiranku,
Aku menunduk, tepian ombak megikis pasir seakan menenggelamkan kakiku dalam,

Senyumannya membuat diriku merasa bersalah, bentakan kata-kata dari lisanku menyapu keceriaanya,
Andaikan waktu bisa kembali mundur, tak akan aku melakukannya,
Kali ini cipratan air laut mengenai wajah; dingin namun ada rasa hangat disetiap sentuhannya-ini bukan air laut,
Laut mulai mengganas, ombak semakin kencang menerpa bebatuan, laut mulai pasang...
Aku berteriak sekencang-kencangnya hingga tak ada satu orang pun mendengarkannya.

Aku yang salah, tak seharunya aku menyakitinya; aku merebahkan diri di atas pantai tak peduli air laut menenggelamkan,

Satu-satu orang mulai pulang, tapi ada yang masih menikmati moment indah meatahari terbenam,
Pasir yang lembut serta gemuruh ombak menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk menentramkan hati,
Aku mulai merenung, bermuhasabah kepada-Nya.. memandang banyak kesalahan tlah diperbuat.
Sedih juga bersalah,

ng oleh terpaan angin laut,
Hujan bisa jadi tidak pernah mengajarkan apa-apa, hanya terus menurun.Selalu, dan pada saat yang sama di kereta terakhir, orang yang sedang didampingi oleh Isterinya,Perasaan dan keinginan yang terus menumpuk tidak memudar di antara keduanya,Meskipun waktu telah berlalu, awan tidak akan jelas dan air mata dari langit masih belum akan berhenti jatuh.

Kusimpan perasaanku padaMu
Walau ingin sekali banyak yang ingin kuungkapkan lebih kepadamu,
tapi mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saat ini,
Aku hanya bisa bercerita dalam diam, ingin sekali aku memperbaiki semuanya,
Matahari sudah terbenam,
Cukup waktu akan menyatakannya, menjadikannya pagi yang sangat indah

Langkah-langkah kecil kita membuat banyak pembelajaran dalam hidup ini,
bersabar dalam pilihan saat ini,
Besok adalah pagi yang sangat cerah yang kunantikan, ku harapkan dirimu juga demikian,
Aku sedang berbicara pada hamparan laut yang sangat luas, begitulah NikmatMu yang tlah Kau berikan,

Aku kembali pulang, meninggalkan pantai yang tenang ini, kembali untuk menyiapkan hari esok,
meninggalkan ukiran senyuman di atas pantai,
suatu saat aku akan kembali lagi, bertemu dengan suasana yang jauh lebih baik

16:00
(Bekasi, 28 April 2013)

Kamis, 19 April 2012

Puisiku untukmu, Ummi (Nenek)

Hari ini aku kehujanan
Bukan, tapi sengaja kehujanan
Di setiap gemericiknya air hujan, sekilas tenang hati ini
Sambil memunguti sampah dan dedaunan, kenangan itu kembai nampak

Ummi..
Ya, sebutan nama untuk nenekku dari Ibu..
Sejak kecil, aku sering bermain di tempatnya
Kadang membuat kegaduhan bersama teman-teman
Ummi berteriak "Ami, jangan main lagi, hujan!"

Ummi..
Aku mendengar teriakan kasih sayangmu..
Aku tahu kau cuma memanggilku karena tetesan hujan telah turun mengguyur kota hujan itu..
Kala itu senja..
Namun, aku lekas berlari riang ke luar..
Usiaku waktu itu baru menginjak delapan tahunan

Hujan lebat turun disertai angin kencang
Dedaunan dua pohon belimbing berhamburan di pekarangan..
Aku, dan sahabatku Abi bermain hujan-hujanan sesuka hati
Kadang kami berselonjoran di tempat air hujan mengalir ke selokan
Jijik memang, tapi bagiku itu menyenangkan

Setelah hujan reda, Ummi lekas membawaku ke dalam rumah untuk mandi
Aku cucumu yang nakal, hehe.

Kini Usiamu sudah mulai lemah, Bersama Appa (Sebutan untuk kakek) kalian menikmati senja
Aku ke rumahmu, Ummi
kau begitu lemah..
Dalam hati aku menitikan air mata, sebenarnya. Namun aku tahan dalam ketegaran
Kau kaget ketika aku datang, sehingga buru-buru kau berbelanja untuk membeli bahan masakan..

Ummi..
Tubuhmu sudahlah amat lelah..
Aku menemukanmu sedang berbicara dengan Ibu tetangga belakang..
Kau melihatku dengan rasa cinta
Kakimu sudah tak ada daya untuk berjalan lagi, di tanganmu sudah ada kantong plasitik hitam berisi bahan makanan
Kau berjalan, dan aku memapah badanmu yang lemah

Ummi..
Aku tak kuasa lagi melihatmu begini
sudah saatnya dirimu mengurangi aktivitas sehari-hari
Andai aku mampu

Senja sudah mulai tenggelam
Kau masih saja beraktivitas,
Beribadah dalam keremangan lampu kamar
Dalam setiap sujudmu, kau bisikan selalu padaNya
Bisikan yang sering kau utarakan kepadaku
"Jadilah orang yang bijaksana lagi berguna
Taatilah kedua orangtua
Dan jadilah diri sendiri, dan hargailah orang lain
Kelak kau (aku) akan mengerti akan sebuah jalan hidup yang kau tempuh"
Begitulah bisikanmu

Ummi..
Aku sayang padamu
Dari cinta seorang cucu yang menikmati senja, bersamamu.

Tangerang, 19-04-2012
(Azzam)

Rabu, 07 Desember 2011

Rona Rembulan


Pada siapa lagi harus aku akui rasa cinta ini
Terbilang rindu namun hambar rasanya
Merona wajahnya hadir dalam benakku,

Singkirkan penghalang dari semak belukar rimba
Mendengarkan lagu alam berdendang
Tapi rindu ini terasa hambar
Aku lah si alam rimba
Yang sedang dirundung gelisah

Duduk termangu pada sebuah batu kehidupan
Awan malam pekat menidurkan makhluk terlelap
Namun aku tetap terbangun

Malam semakin sunyi segelintir lampu perdesaan sebagian tetap menyala
Takut sebuah langkah bayangan tak terlihat masuk ke relung ketenangan

Malam ini aku berbisik
Pada sebuah batu aku bersandar demi menenangkan hati
Hanya seorang diri belum terlelap melepas lelah

Malam ini aku berbicara
Pada Rembulan bersinar terang dibalik awan
Indahnya bak kerinduan yang sedang melanda penantian
Akankah di mampu memahami perasaanku

Sunyi hanya terdengar cicitan burung malam beterbangan mencari mangsa
Ilalang tersibak kesana kemari mengikuti gerak arah angin malam yang tak beratuaran
menerpa badanku yang lunglai membayangi seorang yang dirindu

Rembulan malam ini terang sekali
Terangnya begitu romantis bila ada dua hati yang saling tertaut padu
Aku memandangnya
Di sana yang sedang berlabuh berjuang
Ingin ku titipkan kerinduanku ini padamu, rembulan
Untuk disampaikan pada seorang di seberang sana

Entah apa dia akan membalas titipanku ini
Rona rembulan membuatku tersenyum
Dia malu
Bersembunyi kembali di balik awan
Namun t'lah ku titipkan salamku padanya
Pada seseorang


Ahmad Khoirul Zulfithor
Bekasi, 07-12-2011
Diantara penantian dan harapan
5:15 AM

Selasa, 11 Oktober 2011

"KETIKA CINTA HADIR KEMBALI MENEMANI"



Aku menyesal

Tentang malam yang menyakitkan itu
Kau memandang bintang penuh derai air mata
diam membisu sambil terisak tangisan

Aku menyesal
Tentang malam yang menyakitkan itu
Ucapanku padamu tiada guna
Lirih pedih hati yang hanya dirasa olehmu

Sayang, bila waktu bisa berjalan mundur
Aku akan memperbaiki keadaan
Pertengkaran diantara kita, hanya buram kertas semata
Semua hanya membekas begitu saja
Aku menyesal


Dalam lamunanku terus memikirkanmu
Gejolak hati membayangkan kesedihanmu
Disetiap sembahyang ada sesuatu yang hilang tentang dirimu
Lemah pandanganmu melihat diriku

Hari ini, aku melihatmu menulis sesuatu
Goresan demi goresan kau perlihatkan kekesalan padaku
Bencikah kau padaku?



Hari ini, aku memberanikan diri datang padamu
Tentang malam yang menyakitkan itu
Aku terdiam mellihat kisah lalu
Kau masih saja melihat bintang
Seakan teman berbagi cerita

Aku menyesal
Dalam terangnya bulan kau menangis memandangku
Maafkanlah aku yang telah membuatmu terluka
Sungguh, aku tidak bermaksud, hanya khilaf hadir membawa bencana diantara kita


Sayang, aku mencintaimu
Marilah genggam jemariku
Bersama kita sembahyang kembali


Malam ini, cinta telah hadir menemani bersama
Sayang, aku mencintaimu, bidadariku



Bekasi, 09-10-2011


08:16 AM

Selasa, 22 Februari 2011

KISAH USANG

Membalut mimpi indah di hamparan pasir pantai memutih
Jejak langkah harapan indah masa lalu
Lentik gemulai tangan memainkan angin berlalu
Menari buaian goresan kenangan tersimpan dalam bisu

Buku harianku telah usang
Di hamparan gurun pasir gersang
Memandang langit malam terhiasi bintang-bintang
Tak mampu lagi ku ingat untuk mengenang

Duhai malam merona memikat rembulan
Mengendap-endap masuk ke celah bilik hati peraduan
Simpuh malu mengangkat wajah kesendirian
Di penghujung tengadah mengharapkan ampunan

Kisah  yang tak usai
terhapus kenangan rindu menderai
Perpisahan menjadi bahan titian hati
Mendewasakan diri melewati hari
Dan
dibatas waktu kelak berjumpa kekasih
dikisah usang terukir ridho Illahi

(puisi ini pernah diikutkan dalam lomba cipta puisi KPS “Waktu, usia dan perjalanan hidup manusia”)

~AKZF~

Minggu, 23 Januari 2011

Akankah aku dapat mendekap hatinya kembali

Akankah aku dapat mendekap hatinya kembali
Hadir dihati ini dengan senyuman terindahnya
Menghiasi langit jiwaku yang penuh kerinduan.
Terbatasi sebuah keyakinan, bukanlah halangan untuk bisa mendapatkannya
Keyakinan bahwa Allah sudah menggariskan ini sejak lama
Bukan andai-andai akan sebuah tulisan tertuang begitu saja
Kalau memang tidak ada keyakinan sedikitpun tentang sebuah janji suci itu

Tapi akankah aku mampu dan bisa mendapatkannya
Kisah itu sudah begitu lama terlewatkan oleh waktu
masih adakah kesempatan itu hadir buatku
Hanya genggaman keyakinan padaNya aku bersimpuh
Tabahkanlah hati ini bila ternyata Engkau berkehendak lain
Sabarkanlahku menerimanya
Bila ia dengan yang lain

Menangislah hatiku
teruslah menangis
Bukan kesedihan tertumpahkan
Hanya sekedar doaku padanya
Yang disana, penuh keceriaan
Bunga-bunga bermekaran dalam keindahan
Bidadari itu

~Ahmad Khoirul Zul Fithor~

Yang sedang merindu akan sebuah takdir indah,

Sabtu, 22 Januari 2011

ALUNAN CINTA JIWAKU

I. 
Dalam alunan jiwaku
Mengalir arus raut wajahmu
Tersimpan rapih dalam qolbu

Mengapa terjadi begitu saja
Hadirnya dilemah lembutnya jiwa
Mengarungi derasnya badai dunia

Jika sudi engkau menerima
Inginlah kuucapkan kata-kata hati tentang sebuah cinta
Tentang sebuah ikatan suci yang segera terbina

Namunku pasrah adanya
Bila tak sudi menerima
Bukan tak sudi, hanya tidak bisa
Mungkin itu yang ada dibenaknya

Ya Allah, tetapkan hati ini pada jalanMu
Janganlah membuatku kufur padaMu
Janganlah diri ini jauh dariMu
Teduhkan hati ini selalu dalam CintaMu



II.

Simponi cinta bersemayam di hati
Mengelus batin memanjakan dalam lamunan
Sepi memandang langit hanya bintang bertaburan tinggi
Rembulan menoleh mendekap dalam kedamaian

Rindu aku menanti tiba saatnya
Meski menunggu berabad-abad lamanya menunggu
Hanya dia yang mampu mengisi kekosongan jiwa
Yang selama ini terbelenggu

Akan tiba masanya bahagia itu menjemput
Dengan kereta kencana turun bidadari syurga
Menghayalkah atau hanya mimpi bergelayut erat
Pada keyakinan disetiap Niat yang tertahan asa

Mencari sudah disejatinya diri
Menggapai hati tak akan pernah terlepaskan lagi
Aku berharap demikian padamu
....................................
Doaku selalu ada untukmu dalam setiap tengadahnya tangan ini
Bermohonkan keindahan hati pada dirimu
Yang telah mengisi jiwaku dengan sejuknya

Duhai yang mendambakan ketenangan
DijalanNya aku pasrah...

~AKZF~

Senin, 17 Januari 2011

SENYUMAN BIDADARI

Senyuman itu hadir dalam lembayungnya senja
mengukir romantisnya hari-hari dijalani
Awan itu ingin mengutarakan maksud padamu
:"Siapakah  yang dibalik kerudung malu itu
Ingin sekali mengenal namanya"

Begitu sejuknya senyuman itu
burung-burung bertengger meresapi kenangan
masa-masa yang  akan menemui sebuah arti
hakikat diri, dan akan tiba waktu untuk kembali
Sudikah dia memperkenalkan diri
disanjungnya mentari hati menyinari cakrawala luas terbentang
Mungkin akan tiba masanya, kita akan berkenalan lebih dari sekedar umpatan mata saja
Berlanjut dalam sebuah nafas kehidupan sejatinya hamba-hambaNya

Tertoreh raga ini terpaku pada cinta
larutkan batin ini dengan syahdunya benderang LafadzNya
Uraian kata-katanya menarik hati untuk sebuah senyuman
Senyuman bidadari yang dinanti
Dalam kehidupan berikutnya dinanti
Bagi setiap insan yang merindu sebuah kerinduan PadaNya

Selama-lamannya menunggu
Dirimu tersenyum padaku
Disebuah Ikatan janji suci ku menanti.....

~Ahmad Khoirul Zul Fithor~

#Untuk siapa yang kelak berjumpa dalam ikatan Suci....

WEB KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

Recent Coment

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)
Bagi yang ingin mengulurkan tangan sebagai donatur, silahkan kunjungi grup dan bergabung (Klik Gambar)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More