About this blog

TENTANG KOPAJA (KOmunitas Peduli Anak JAlanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) adalah komunitas yang bergerak dalam memanusiakan anak jalanan melalui pendidikan dan program-program pemberdayaan.

Pesantren Kilat Anak Jalanan (KOPAJA)

Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) memiliki salah satu misi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa anak jalanan. Melalui misi KOPAJA yang satu ini kami mengajak dan merangkul seluruh masyarakat .

Kamis, 10 Februari 2011

DIA


DIA

Dia masih berdiri dan memandang laut luas, sambil mengelus-elus perutnya yang yang sedang mengandung bayi, seperti sedang menunggu kedatangan seorang yang sangat dinanti-nantikan. Hanya segelintir orang yang sedang bermain di pantai putih, bermain dengan derunya ombak bersama anak dan sanak keluarga, hanya dia saja seorang diri dengan perasaan cemas. Sore ini, pasak laut akan menaik tinggi, ombak akan semakin ganas, sepertinya akan ada badai. Para nelayan tidak ada yang berani melaut, takut terjadi sesuatu pada diri mereka masing-masing. Seorang menghampirinya.

“Nyai, kenapa masih berdiri di sini, apa suamimu belum juga pulang dari melaut?” Tanya Kang Rojak padanya.

“Belum, Saya sangat mencemaskannya. Biasanya, jam lima sore sudah selesai melaut. Tapi kali ini suami saya belum juga muncul ke tepian.” Tangannya meremas erat selendang hijau yang menyelimuti leher dan rambutnya.

“Kalau gitu, saya mau pulang dulu ya, moga saja tidak ada apa-apa dengan suamimu, kalau tidak salah dia melaut bersama si Ujang, jadi kayaknya akan aman bila bersama. Mari Nyai,” Lalu meninggalkannya, dan hilang dalam pandangan.

Sore itu, angin laut begitu kencang menerpa kebaya, dan menyibak selendang yang dia kenakan. Dari ujung lautan, terlihat hidung perahu kecil dengan layar yang mengembang kecil. Dayuhan tangan cepat mendayung menuju daratan. Salah seorang tersebut berdiri di ujung perahu dan melihat daratan, kemudian melambaikan tangan seraya berteriak memanggil namanya. Hatinya kini tenang, Suaminya tidak apa-apa.

Sesampai di ketepian sambil menarik perahu ke daratan, Ujang yang sedari terlihat lelah mendayung, hanya bisa mengeluh kecapaian. Sedangkan suaminya mengambil sesuatu dari dalam perahu berupa jala ikan beserta tangkapannya yang sudah dimasukan ke dalam ember hitam tertutup.

“Kang, capek ya? Tumben sore menjelang maghrib baru pulang?” Sambil menyusutkan keringat suaminya. Namun hanya diam yang didapatkan dari sang suami. Diapun bertanya kepada Ujang yang sedang duduk di atas pasir, dan kemudian merebahkan kaki untu menghilangkan pegal.

“Jang, kok pada diam, ada apa?” heran.

“Nyai, minggu-minggu ini laut lagi tidak bersahabat dengan kita. Ikan-ikan entah para kemana, yang jelas tangkapan hari ini semakin sedikit saja, yang ada hanya ikan kecil saja. Kalau terus begini, penghasilan penjualan ikan semakin turun. Terus mau makan apa anak-anak kami”

Suaminya hanya bisa menarik nafas panjang, dan mengeluarkannya berat. Wajah itu, bukanlah wajah suaminya yang dulu. Hilang entah dimana. Dulu, sejak masih bagus keadaannya, perhari melaut bisa mendapatkan 200 ton ikan laut, suaminya selalu tersenyum bahagia, dan semangat yang tiada henti. Anak-anak nelayan pun berlarian menghampiri dan kemudian merauk sebagian tangkapan untuk dijadikan makanan keluarganya. Setiap datang, suaminya selalu disambut hangat oleh senyuman mungil yang menghiasi wajah yang kumal ini akibat terjemur sinar matahari. namun semenjak cuaca yang tidak menentu, sehari hanya bisa mendapatkan 2 ton ikan laut saja, dan hari ini yang terparah bagi para nelayan.

Sesampai dirumah, suaminya hanya bisa merebahkan badannya pada kursi bambu yang sudah tertelan usia, membayangkan masa depan keluarganya.

Hari berganti hari, dia tidak lagi berdiri menunggu suaminya. Orang yang biasa melihatnya, bertanya-tanya ‘kemana ia?’ Kang Rojak yang biasanya menyapa, heran akan hilangnya sosok perempuan itu beserta suaminya.

Disudut perkampungan, orang-orang sedang berkumpul sambil berteriak-teriak sedang menyemangati sesuatu. “Ayo, Jalu! Kalahkan si brokokok itu! Jangan sampai kalah.” Sedangkan yang lainnya berteriak membela yang satunya.  Ternyata mereka sedang sabung ayam, dan mereka juga sedang taruhan besar-besaran.



“kang, masih ada duit gak?”

“Ada, masih banyak, tenang aja. Kita bakalan menang kali ini. Lihat aja nanti, ayammu Jang, pasti menang! Penuh semangat dan ambisi.
“Tapi, Kang, nanti kalau nanti kalah bagaimana? Kasihan Nyai Ijah, beserta anak Akang yang sedang dikandung itu”

“Tenang aja Jang, gak bakal kalah. Tapi kalau nanti kalah kan bisa nyari lagi duitnya”

Berjam lamanya akhirnya pertandingan tersebut usai dengan membawa kekalahan yang tidak berarti apa-apa. Ternyata akibat jarang mendapatkan tangkapan ikan, suaminya mengadakan sabung ayam, sekaligus menjadi pekerjaan barunya. Sedangkan di rumah, dia yang seorang diri mengasuh anaknya yang masih satu tahun itu, hanya bisa pasrah melihat kelakuan suaminya yang sudah berubah total begitu juga sikap padanya. Kadang-kadang wajahnya menjadi sasaran tamparan amarah suaminya ketika sedang menasehati kalau perbuatan yang selama ini dilakoninya adalah salah. Yang ada hanyalah menghambur-hamburkan uang saja. Sedangkan anak dan dirinya lebih membutuhkan makanan yang halal dibanding makanan yang dihasilkan perbuatan yang haram, dan hari ini dia tidak makan sama sekali. Badannya sudah luluh lantah akibat terjangan amarah suaminya, yang ada dalam dirinya hanyalah kesabaran sebagai isteri yang selalu berusaha menasihati suaminya. Apalagi banyak sebagian warga kampung yang bergunjing tentang ketidak harmonisan keluarganya.

***
“Jang, malam ini kita beraksi lagi, kali ini sasarannya adalah rumah Rojak”

“Duh, Kang, bahaya ah! Nanti kalau ketahuan nanti berabeh urusannya, apalagi sasarannya Kang Rojak, diakan udah kayak saudaranya Akang sendiri,” cemas dan gundah yang ada dipikiran Ujang.

“Ah, peduli amat! Dia juga gak pernah memberikan bantuannya pada saya”

Tengah malampun tiba, senyap, yang ada hanyalah suara deburan ombak yang semakin ganas, perahu-perahu nelayan tergeletak begitu saja tak terurus oleh pemiliknya. Derap langkah kaki begitu cepat menuju rumah yang sudah dijadikan incaran, hanya bermodalkan linggis, dan penutup kepala, mereka membobol rumah tersebut secara paksa.


“Kang, kita sudah masuk. Sepertinya pemilik rumah ini sedang tidur pulas”

“Baik, Jang, kamu cari barang yang bagus untuk bisa kita jual” sambil menyelinap dalam kegelapan.

Mereka berpencar mencari setiap sudut ruangan yang ada untuk mencari barang berharga. Rumah Kang Rojak memang terbilang lumayan mewah, walau berpenampilan sederhana, namun penghasilan lumayan cukup.

Ketika sedang mencari harta benda, tiba-tiba saja lampu menyala, dan segerombolan orang sudah berkumpul di depan rumah Kang Rojak. Dengan amarah yang besar, sang pemilik rumah langsung menyeret dua orang yang tertutup oleh penutup kepala dengan kasar. Sesampai di depan rumah, penutup kepala tersebut dibuka.

“Ternyata benar, kalian ingin mencuri rumahku. Benar-benar keterlaluan kamu Kang, apalagi kamu Jang, terlalu lugu untuk diajak yang tidak baik. Mau jadi apa kamu! Kasihan isteri dan anakmu Jang,”

Warga yang sudah berkumpul kemudian menyaksikan sendiri siapa sebenarnya pencuri itu, langsung mencaci maki dengan membabi buta. Ada yang berkata “Hajar aja ampe mati!”, “Bakar aja, pencuri dikampung kita ini dan jangan diampuni!” dan hujatan lainnya yang tidak pantas diucapkan.

“Kami, semua warga sudah jengah dengan tingkah lakumu Kang, yang sudah berubah, padahal kamu adalah orang sangat dihormati oleh kami. Seorang yang mampu membuat anak-anak kampong nelayan ini sangat bergembira, menantikan ikan-ikanmu yang melimpah luah. Tapi sekarang lihat, engkau sudah menjadi orang

lain. Menjadi seorang sabung ayam liar, dan kini menjadi pencuri. Aku jadi kasihan melihat Nyai Ijah dan anakmu semata wayang itu.” Ujar Rojak sambil menenteng balok panjang ukuran besar.

Dua pencuri itu hanya bisa menunduk malu, dan tidak menoleh kemana-mana, karena semua mata tertuju pada mereka. Kapanpun,  warga bisa jadi menghabisi mereka sekejap saja.

“Kang,” suara lembut tiba-tiba mengheningkan suasana. Semua terdiam memandangnya.

“Nyai, maafkan kami yang sudah bertindak kasar pada suamimu ini” Ucap Rojak yang sudah tahu akan kedatangannya.

“Kang, aku sebagai isterimu, sangatlah kecewa. Melihatmu berbuat demikian. Aku takut, anak kita semata wayang yang ada dalam kandungan ini akan membencimu kelak akibat ulamu sendiri. Taubatlah Kang. Jadilah suami Ijah yang dulu, yang selalu menyenangkan warga” tanpa terasa meneteskan air mata.

Suaminya yang hanya tertunduk hanya bisa memandangi tanah yang basah. Tangannya menggenggam erat rerumputan yang pendek, dengan susunggukan air matanya mengalir deras membasahi bumi. Ujang yang hanya terdiam ikut-ikutan menangis. Menyesal atas perbuatan yang selama ini adalah salah. Warga hanya bisa memandang.

***
Terhempas badan dari rebahan serta berteriak memanggil namanya. “Ijah!” Keringat bercucuran begitu saja, Nyai Ijah yang sedang menyiapkan makanan keheranan, sekaligus ketakutan.

“Ada apa Kang, kenapa berteriak seperti itu, Ijah ada disini” sambil menyuguhkan air hangat.


“Akang, menyesal Ijah”

“Menyesal kenapa? Memang apa yang Akang lakukan?”

“Entahlah Ijah, sepertinya Akang bermimpi” langsung memeluknya penuh kehangatan. dengan kesadaran hati, tidak akan pernah seperti itu, masih ada kata iman dalam diri untuk merubah masa depan.
“Entahlah apa yang terjadi padanya, namun dia tetaplah suamiku”
~end~

~akzf~

Apalah Arti Dari Kesendirian

Sendiri Menyepi

Sendiri Menyepi..

Tenggelam dalam renungan

Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan

perlahan kucari, mengapa diriku hampa…

mungkin ada salah, mungkin ku tersesat,

mungkin dan mungkin lagi…

Oh Tuhan aku merasa

sendiri menyepi

ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi

sampai kapan ku begini

resah tak bertepi

kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala

benderang di hidupku..
(Edcoustic)

Senin, 07 Februari 2011

(Album Photo kenangan FLP JAKARTA 2010-2011)




NILAI CINTA 
(ALGINAT)

Cinta yang engkau berikan 
Pada seorang teman
Itu tanda sempurnanya iman
Bila dengan tulus hati 
Kau mencintai
Dirinya bagai diri sendiri

Empati kepada sesama
Buat kita terbiasa melihat dari sisinya
Bagaikan raga yang sama
Sakit dirasa semua tiada merasa beda

Kita hidup berdampingan
Saling membutuhkan
Cinta kasih dan dukungan
Semua akan kau temui
Saat kau mencoba 
Bersama saling peduli

Empati kepada sesama
Buat kita terbiasa melihat dari sisinya
Bagaikan raga yang sama
Sakit dirasa semua tiada merasa beda

Rentangkanlah kedua tanganmu
Tebarkan kedamaian pada sesamamu
Bentangkanlah samudera kasihmu
Duka berbagi cerita 
Bahagia kita bersama

Cinta-Nya tak pernah berbeda
Bagi seluruh manusia di mana adanya
Di sana hikmah kasih-Nya berada
Tuk raih kebahagiaan bagi setiap insan

Nilai cinta
Yang kau berikan pada sesama
Nilai cinta
Yang kau bagikan untuk semua

DOWNLOAD NASYID TIAR -TAK ADA BEBAN TANPA PUNDAK (FULL)




Sebelum membahas Lagunya, let’s talk about the singer :: Tiar
Mengenal Baktiar (Tiar,-Red) ketika bergabung di Grup Faith yang pernah menjadi juara #3 FNPI 2009.
Termasuk satu almamater dengan saya di salah satu kampus kedinasan di JurangMangu.

Awal tahun ini, Tiar melaju ke ajang audisi solois dan berhasil memukau dengan nasyid ‘Pertengkaran Kecil’ –karya edCoustic. Lolos ke Semifinal, Tiar memukau juri dengan ciamik membawakan lagu ‘Di Persimpangan Aku Berdiri’ (one of my favourite, too) lagi-lagi karya edCoustic. Alhamdulillah lolos ke Final, dan menjadi satu dari enam pemenang untuk langsung dikontrak oleh Major Label, Forte Records (Aquarius)

Enough for Tiar, untuk lagu ‘Tiada Beban Tanpa Pundak’ yang diciptakan Kang Aden edCoustic ini, sempat akan menang di ajang Cipta Lagu Religi Republika tahun 2009, namun batal. Bersyukur kang Aden mendapatkan Tiar tuk membawakan lagu ini. Cocok banget dengan karakter vocal Tiar yang berat namun soulful abis. Info (iswandibanna.com-Red)


TAK ADA BEBAN TANPA PUNDAK 

Terasa menyesakkan semua yang telah terjadi
Apa yang ku banggakan kini tinggal cerita
Kau uji aku...
Sekilas aku rasa tak kuasa
Namun kusadari dan aku mengerti kuserahkan pada MU



Takkan aku bertanya mengapa harus terjadi
Karna aku yakini tak ada beban tanpa pundak
Kau uji aku karna ku bisa melewatinya
Ini yang terbaik bagi hidupku.. semua hanya ujian
 

Reff :
Biarkan aku oh malam...
Menangis di sepanjang sholatku
Karna hanya Allah yang bisa membuatku tegar
Menjalani semua ini..

Biarkan aku oh malam...
Bersimbah Rahmat dan ampunanNya
Badaipun pasti berlalu menguji imanku
Aku serahkan pada Illahi.. 





BILA INGIN MENDENGARKAN LAGUNYA SILAHKAN (FULL) SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI...



Kamis, 03 Februari 2011

HANTU POHON PISANG (Pernah diikut sertakan pada ajang Scary Moment)

HANTU POHON PISANG

Ini kisah nyata ketika aku masih menginjak jenjang pendidikan kelas 3 SMP di Pesantren, tepatnya di daerah Jatinagor – Sumedang. Daerah perbatasan antara Bandung dan Sumedang ini terkenal oleh masyarakat akan mistis yang menjalar turun temurun dari leluhur dahulu. Namun warga sudah tidak merasa takut lagi bila melihat atau mendengar hal-hal yang berbau jauh dari nalar manusia. Penampakan sering terjadi, malahan kecelakaan sering terjadi juga dikaitkan dengan hal-hal ghoib. Misal, seperti Cadas Pangeran yang terkenal rawan kecelakaan yang terjadi selalu tidak masuk akal. Mobil yang mundur sendiri, dan akhirnya masuk jurang, kendaraan yang jalan sendiri tanpa pengemudi, dan akhirnya masuk juga kejurang. Aku yang sering lewat situ, merasa ngeri, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi bila melihat patung Cadas pangeran, hiiii, makin takut aku untuk melewatinya. Tapi semenjak berkembangnya zaman, semua cerita itu terasa fiktif belaka, walau kenyataannya begitu.
Kisah yang aku alami berawal dari sebuah persiapan acara sebuah pentas seni yang akan dilaksanakan dua hari lagi tepatnya hari minggu (tanggal dan bulannya lupa). Aku beserta teman-teman yang terdiri dari Rudi, Jajang, dan Maman (nama disamarkan) berencana akan menetap selama satu malam di sebuah lab komputer samping masjid yang semenjak pagi hari sudah dikosongkan ruangannya guna untuk kami membuat spanduk acara. Aku dan teman-teman akan bekerja keras semalaman untuk acara pentas seni besok pagi hari.
Setelah selesai sholat Isya, kami bergegas untuk menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk membuat spanduk yang cukup besar, kira-kira ya, 3 x 1 an. Walau acaranya besok hari, tapi kami kelihatan berleha-leha, maklum, siapa sih yang tidak senang begadang gini hari hingga larut malam menjelang subuh. Tampak kesenangan diraut wajah kami ketika melihat kasur empuk beserta bantal guling dengan beberapa buku bacaan dan sempel contoh spanduk yang sudah dibuat sebelumnya oleh salah satu rekan panitia acara, tergeletak marayu kami untuk bermanja-manja tiduran telengkup sambil membuat guratan kertas menggunakan gunting dan silet membentuk pola tulisan yang akan kami pampang di background spanduk berwarna putih itu.
“Eh, kalian semua, begadang begini mendingan ngopi yuk” ujar Jajang yang dari tadi sudah menyiapkan cangkir dan gelas dari dapur sekolah.

“Ya udah, tapi kopinya belum ada nih… siapa yang mau beli?” Tanyaku yang juga sudah tidak tahan ingin ngopi.

Abdi jeung si Maman we nu ka hareup meuli kopina (Saya dengan Maman aja yang ke depan untuk beli kopinya)” ungkap Jajang menawarkan dirinya bersama Maman dengan menggunakan bahasa sunda sambil meminta uang untuk membeli kopi “Mana duitnya, sini” Akhirnya Jajang dan Maman bergegas ke depan.

Nampak jam sudah menunjukan angka 11 malam lewat. Pekarangan masjid sudah nampak sepi. Aku yang masih beranjak asyik menggunting kertas berwarna yang berpola huruf dan angka bersama Rudi menjadi ngeri, karena tidak ada satupun suara yang terdengar sama sekali. Di depan masjid hanya ada sebuah kolam besar yang konon, penghuninya banyak, dan sering menampakan diri sambil memainkan air. Sedangkan pekarangan masjid yang sering dilewati para santri begitu sepi. Kami berdua hanya bias bergumam sambil memakan cemilan yang sudah dipersiapkan, dan sama sekali tidak pernah memandang jendela mengarah ke belakang gedung  yang begitu gelap. Menyeramkan.
Sudah setengah jam lamanya aku dan Rudi menunggu Jajang dan Maman yang sedang kedepan membeli kopi tidak muncul-muncul juga. Tiba-tiba saja pintu lab komputer terbuka paksa “Brakk!!” tersentak aku dan Rudi ketakutan bukan main. Ternyata itu Jajang dan Maman yang sedang berlari ketakutan karena sesuatu hal yang membuat mereka berlari bukan kepalang. Sambil menghela nafas panjang, Jajang dan Maman pun bercerita apa yang sedang terjadi. Memang, Pesantren kami berada di tengah-tengah pemukiman warga, sedangkan untuk menuju ke jalan raya harus melewati jalan-jalan kecil walau tidak begitu jauh nyatanya. Tapi bila malam hari, penerangan begitu minim, hanya beberapa lampu yang bersinar menyinari jalan-jalan itu, nampak begitu menyeramkan, apalagi kalau ada penampakan, pasti langsung kocar-kacir minta ampun. Nah, begitulah yang dialami Jajang dan Maman, mereka berdua bercerita, bahwa di pertingkungan jalan kecil yang tepat berada tidak jauh dari pesantren atau tepat lab komputer yang kami singgahi ini, terdapat tiga buah pohon pisang yang dimana tingginya kira-kira satu setengah meteran, gelap tanpa penerangan, walau disamping terdapat rumah warga, tapi suasananya sudah cukup membuat bulu roma berdiri.
Ceritanya, Maman dan Ujang sedang melewati jalan setapak menuju jalan raya, dan harus melewati daerah tempat tiga pohon pisang itu berada. Ketika tepat berada di bawah pohon pisang tersebut, Maman merasakan hal yang aneh, seperti ada yang memperhatikan. Menoleh kanan kiri yang ada hanya kegelapan yang menyelimuti ketakutan.
“Pokoknya benar-benar serem, deh” ujar Maman sambil merinding menceritakannya. Aku dan Rudi hanya mendengarkan dan membayangkan saja apa yang sedang diceritakannya. Akhirnya Maman dan Jajang bergegas menuju warung kopi yang berada di ujung jalan seberang. Pas, sudah selesai membeli kopi bungkusan, ternyata mereka berdua harus melewati daerah itu lagi, daerah yang dirasakan Maman seperti ada yang memperhatikan. Jajang waktu itu hanya ingin cepet-cepet sampai ke lab komputer. Pas berada di bawah pohon pisang tersebut, tiba-tiba saja Jajang berhenti mendadak. Maman juga ikut berhenti sambil menyuruh Jajang segera jalan kembali, kalau bisa lari sekalian.

“Man, kamu denger sesuatu tidak, seperti ada suara orang” berkata Jajang dengan nada ketakutan.

“Jang, yang bener napa bicaranya, abdi teh jadi takut mendengarnya, udah jalan aja yuk” ajak Maman untuk segera jalan pada Jajang.

Waktu itu, Maman dan Jajang bercerita katanya suara itu seperti suara perempuan, dan suara itu tepat berada dimana tiga pohon pisang yang berjejer itu berada.

Suara itu begitu jelas sekali, dan akhirnya Jajang menoleh ke atas pohon pisang, dan langsung lari terbirit-birit begitu saja, sambil diikuti Maman dari belakang yang juga ketakutan melihat ekspresi wajah Jajang semrautan. Sampai akhirnya pintu lab komputer dibuka paksa oleh Jajang.

Ternyata, ketika Jajang menoleh ke atas pohon itu, ada sosok katanya putih bertengger di pohon pisang tersebut. Hingga esok harinya, akibat kejadian semalam, kami semua kapok lewat situ malam-malam, dan dengar-dengar daerah situ sudah ada penerangan lampunya, jadi siapa saja yang lewat sudah tidak takut lagi. Sampai sekarang masih berfikir, kok, ada ya, hantu di pohon pisang, tanyaku dalam hati. Tapi itu memang benar-benar terjadi pada kami, dimalam yang sunyi itu.

~Azmi S. N~

Rabu, 02 Februari 2011

KERILIPAN CINTA - RABBANI


Hidayah .. Kerlipan Cipta Cintaku 
Harum Rembulan Mawar 
Dingin Dihakis Keseorangan .... 

Aku masih menghitung diri .. 
Kesiangan yang panjang 
Ingin mengisi hati 

Padamu kasih 
satukan aku 
Dengan rahmatmu 
Dengan Kalimah 
Malam Siangku 
Berliku liku 
Duri Dugaan 
Siratan Cinta 

Biar di jemala mentari 
Biar di bahu gunung berapi 
pasrahku abadi untukmu ..untukmu 

Ku kembara setia disisinya ... 
Ku inginkan Bahagia abadi 
ku impikan sentosa dibawaha naungannya 
selamanya



Adakah hidayah itu hadir kembali, memberikan kesempatan padaku kembali,
karena HidyayahMu terbentang luas, ku yakin selalu Engkau menaungi hambaMu yang penuh dosa ini...

WEB KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

Recent Coment

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)
Bagi yang ingin mengulurkan tangan sebagai donatur, silahkan kunjungi grup dan bergabung (Klik Gambar)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More