About this blog

TENTANG KOPAJA (KOmunitas Peduli Anak JAlanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) adalah komunitas yang bergerak dalam memanusiakan anak jalanan melalui pendidikan dan program-program pemberdayaan.

Pesantren Kilat Anak Jalanan (KOPAJA)

Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) memiliki salah satu misi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa anak jalanan. Melalui misi KOPAJA yang satu ini kami mengajak dan merangkul seluruh masyarakat .

Kamis, 07 November 2013

Listening - Inteam - Jatuh Bangun

Komposer & Penulis Lirik: Aden Edcoustic

Duhai... Tuhanku
Jatuh bangun ku menghambaMu
Kadang cinta, kadang ku melupa...
Tega ku menyiksa hidup sendiri...

Duhai... Tuhanku
Untuk yang kesekian kali
Ku bersujud meminta kembali
Hati yang dipijar indah cinta Mu...


Tuhan...
Aku tanpa Mu, hidup ku menderita..
Sunyi hati, kelam jiwa bagai terpenjara

Tuhan...
Biar kan kini, aku dalam rahmatMu
Meski jatuh dan terbangun...
Ku tetap bertahan...

Rabu, 06 November 2013

CATATAN DIARY HATI NAYA

Inilah salahsatu tulisan saya yang belum terpublikasikan, dan belum teredit keseluruhannya.
Silahkan dibaca, dan silahkan dikomentari. terima kasih



     Aku dan Naya memang memliki kesamaan dalam hal menginginkan sesuatu. Baik berupa barang, pakaian, asesoris, dan apa lagi sampai model rambut pun kita samakan. Sejak kecil, aku selalu mengagumi sosok Naya, adikku yang cerdas lagi anggun dalam berpenampilan.

      Banyak prestasi yang telah dia dapatkan. Aku yang sebagai kakaknya begitu bangga. Tidak ada rasa iri di hati ini. Biarlah aku menjadi nomor kedua yang akan disanjung orangtua.

      Di jenjang perkuliahannya pun Naya selalu unggul. Hingga banyak lelaki melirik untuk dijadikan pacar. Tetapi adikku ini sangatlah hati – hati dalam pergaulannya. Apalagi dia sudah menggunakan jilbab setelah lulus Sekolah Dasar. Semakin cantik saja wajah itu. Apalagi daster muslimahnya yang dia kenakan sungguh indah dan anggun di mataku. membuatku makin sayang padanya - adikku yang bak bidadari itu.

      Adikku Naya, dia banyak sekali memberikanku pelajaran berharga. Baik dalam memberikan arahan ilmu agama, sampai berperilaku pun dia selalu mengingatkanku.
      Memang dalam segi keinginan, kita sama. Tetapi dalam segi cara mencintai seorang kita berbeda. Aku yang sebagai perempuan biasa ingin sekali memiliki lelaki untuk menjadi pacar ataupun sebagai pasangan hidup. Namun hingga sekarang belum ada yang pas buatku. Hingga pada akhirnya aku menemukan lelaki yang mungkin pantas untukku. Lelaki itu begitu wibawa. Namun berpenampilan sederhana. Firman, itulah namanya. Ketua ROHIS di kampusku ini memang sudah banyak menarik perhatian gadis – gadis. Dari yang berjilbab, hingga yang tidak berjilbab, semua mengejar untuk mendapatkannya. Luar biasa bukan!,
Sedangkan perasaan Naya terhadap lelaki membuatku bingung. Lelaki seperti apakah yang bisa membuat hati adikku ini luluh. Aku semakin penasaran.

      Di kampus, Naya begitu aktif di organisasi berbasis kerohanian. Begitu juga Firman. Setiap ada kegiatan keagamaan, mereka bedua pastilah menjadi salah satu panitianya. Disetiap kegiatan, Firman selalu membantu pekerjaan Naya. Mengingat Firman merupakan ketua ROHIS, aku yang melihatnya hanya beranggapan biasa saja. Cemburu itu mungkin telah ada, tapi bagiku biasa saja.

     Selama aku bersama dengan Naya, belum pernah aku mendengarnya membahas seorang pasangan hidup. Mungkin adikku ini belumlah siap untuk menjalin kasih dengan seorang.

     Pernah aku menanyakannya“De, perasaan Mbak, kamu belum pernah menyebutkan satu nama pun seorang laki – laki yang mungkin kamu anggap spesial?”

     “Ah Mbak Ifah, biasa aja. Dede belum ada bahasan ke sana” jawabnya sambil membaca sebuah buku novel karya Habiburrahman El-Sirezy.
     “Emangnya kenapa, padahal kamukan cantik loh De, yang pasti banyaklah laki – laki diluar sana yang tertarik dengan kamu. Lagi juga nggak apa – apakan merasakan yang namanya jatuh cinta”
Naya hanya bisa tersenyum padaku. senyumannya itu, membuatku penasaran akan tentang dirinya.
Dulu gadis itu begitu tomboy, berteman dengan laki-laki adalah hal yang sudah terbiasa. Menginjak Sekolah Menengah Pertama, terlihat gadis itu adalah tipe yang periang, dan juga masih saja tomboy. sudah lebih dari lima laki – laki yang di ajaknya berkelahi. luar biasa bukan, tapi itulah Naya semasa kecilnya.

     Pernah ketika di rumah, Naya sempat berkelahi dengan Rudi, anak tetangga sebelah. Aku sendiri melohok saja melihat Naya berkelahi.. Cuma gara – gara kalah main bola dari kelompok Rudi, langsung Naya mengajaknya berkelahi, tapi nyatanya Nayalah yang menang.
    Tapi ketika masuk ke Perguruan Tinggi dan berteman dengan orang – orang yang beragamis, adikku berubah seratus delapan puluh derajat. Dari segi penampilan berbusana, sikap dan tata kramanya, hingga akhirnya Naya memberanikan diri memakai jilbab hingga sekarang.
    Namun apa mungkin, sifatnya yang tomboy itu masih ada hingga sekarang. Atau karena karakter serta penampilan barunya itu membuat adikku Naya belum memikirkan atau merasakan yang namanya jatuh cinta terhadap seorang laki-laki.

***

    Di kampus, Firman membuatku semakin menyukainya saja. Sosok yang taat agama, apalagi rajin ibadahnya. Menjadi idaman banyak perempuan muslimah pada umumnya. Menjadi sosok yang bisa membimbing seorang isteri - Menjadi Imam dalam keluarga.
    Terlintas dalam fikiranku untuk bisa mencoba mendapatkan nomor ponsel Firman, dan akhirnya aku mendapatkannya dari adikku, Naya. Mungkin aku yang sebagai perempuan biasa, tidak mungkin mempunyai harapan untuk bisa mendapatkannya. Minimal berbicara dengannya bagiku adalah hal yang menyenangkan.
    Malam itu, aku tuangkan perasaanku pada adikku, Naya. Dengan semangat bergebu – gebu aku menceritakan perasaanku dengan detail sekali. Adikku ternyata seorang pendengar yang sangat setia. Aku semakin semangat saja. Naya mendengarkan, tersenyum dan mengangguk – ngangguk paham.
    “Ternyata Mbak Ifah sangat mencintainya ya, aku yang sebagai adik mbak akan selalu mendukung” katanya dengan mantap.

     “Benarkah itu de?, duh, Mbak jadi senang banget!” ujarku penuh semangat.
Malam itu, aku memandang langit bertabur bintang penuh harapan bersama adikku, Naya.
     “Cinta itu indah ya De, bagai cahaya rembulan yang begitu romantis dipandang.” Dengan jilbab birunya yang panjang tersibak angin malam dia tersenyum padaku, namun pekatnya malam tidak bisa menipu pandangan mataku. Naya menitikan air mata.

      Aku tidak mengerti dengan kejadian semalam itu. Kenapa adiknya menangis. Hatiku mulai gundah. Takut ada sesuatu yang terjadi dengan Naya.

      Selepas pulang dari kampus, aku langsung menemui Naya. Ingin sekali aku mengajaknya makan bersama, dan saling tukar pikiran. Sekejap, aku langsung menuju ruangan kelasnya, namun tidak ada. Akhirnya aku menuju ruang ROHIS. Ternyata Naya ada di sana, bersama dengan Firman, berdua dalam satu ruang.
     Aku memperhatikan dari luar ruangan. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Sesuatu yang sangat intens. Firman hanya menunduk saja. Sedangkan Naya sedang menjelaskan dengan sangat serius. Hanya beberapa menit saja pembicaraan itu selesai, dan Naya langsung keluar ruangan. Tanpa disadarinya, aku sudah menunggunya di balik pintu luar. Naya langsung kaget melihatku sudah berada di pintu. Begitu juga Firman, dia hanya memandangiku tanpa bergerak sedikitpun.

    Di kantin, aku menanyakan apa yang Naya lakukan di ruangan itu bersama Firman, tapi Naya hanya terdiam sambil menyuapi makanan ke mulutnya, dan tersenyum padaku; Aku semakin penasaran.

***

    Sidang Skripsiku berjalan lancar. Alhamdulillah, aku mendapat predikat Cumload!. Aku begitu besyukur kerja kerasku selama berkuliah tidak sia –sia. Sesampai di rumah, aku langsung memeluk kedua orangtuaku, begitu juga dengan Naya. Dia juga akan disidang tahun depan.
    Kami langsung merayakannya di luar bersama teman – teman, Naya pun aku ajak ikut. Firman juga ada di sana. Lagi – lagi adikku ini sungguh tidak bisa ditebak. Berdiam diri memisahkan diri dari kerumunan teman-temanku hanya untuk melihat – lihat panorama pantai. Aku yang begitu kasihan melihatnya langsung mengajak bergabung kembali.

     Semenjak kelulusan, aku dan Firman ternyata sudah saling berdekatan. Saling berbicara tentang banyak hal. Naya-lah yang mendekatkan aku dengan Fiman. Betapa bahagianya aku memiliki adik sepertinya. Kali ini, aku tidak mau kalah oleh adikku sendiri. aku telah memutuskan memakai jilbab juga. Betapa bangganya aku menggunakannya. Ternyata kehawatiranku tentang mengenakan jilbab hanya pemikiran yang salah. Takut gatallah, gerah, bikin pusing, dan malah hampir terlintas, takut kurang cantik dipandang, tapi kenyataannya sebaliknya, nyaman, dan pasti cantik sekali.

    Setiap kali jalan – jalan dengan Firman, aku selalu mengajak Naya bergabung. Karena aku mulai tahu tentang batasan antara laki –laki dan perempuan di mata Islam itu bagaimana. Berkholwat (berduaan tanpa mahromnya) maka yang ketiganya adalah setan. Naya dan Firmanlah yang mngajarkanku segalanya.

***

   Hari yang aku nantikan akhirnya tiba, sesuatu yang sangat aku tunggu. Bahagianya aku, Firman akan melamarku, hari ini tepatnya ketika dia akan berjanji akan melamarku lima hari yang lalu.
    Aku sudah tidak sabar lagi, dengan wajah yang merona dan mataku yang sudah berpijar pijar bagai bintang kejora. Aku langsung menyuruh kedua orangtuaku mempersiapkan segalanya nanti. Dari penyambutan, hingga acara inti. Harus sudah direncanakan matang – matang. Hari itu aku memang super sibuk. Bagaimana nanti kalau mau nikahnya, lebih sibuk dari sekarang ini.

    Aku mencari Naya, namun belum ketemu. “Kemana adikku ini. Padahal kemarin sudah aku kasih tahu kalau sekarang kakaknya akan dilamar oleh seorang laki – laki yang sejak dulu di idam – idamkan banyak perempuan di kampusnya. Betapa beruntungnya diriku ini.” Batinku terus menyahut kegirangan.
    Di ruangan lain tidak ada, dapur tidak ada., hingga akhirnya di kamarnya pun tidak ada. Kemana dia. Oh Naya, ada apa sebenarnya dengan dirimu. Tiba – tiba mataku tertuju pada sebuah buku diary kecil milik Naya di atas meja belajarnya. Buku itu masih terbuka. Rupanya semalam Naya menulis sesuatu di buku diary-nya. Aku lalu melihat dan membacanya.

    “Apa!?, tidak mungkin….” aku yang membacanya tidak kuat lagi membendung air mata ini. Badanku lemas seketika. Tersungkur duduk bersandar pada lemari pakaian adikku.
     ‘Adikku, adikku Naya……..selama ini mencintai Firman’.

      Aku mulai mengumpulkan tenaga untuk bisa bangkit dari kenyataan ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Naya ternyata mencintai Firman, dan begitu juga sebaliknya, Firman pun mencintai Naya. Jadi selama ini, aku telah memisahkan cinta mereka. Kini sudah jelas sudah, kenapa Naya waktu itu menangis. “Aku telah berbuat jahat, aku telah berbuat jahat!” Jerit hatiku sangat keras. Jilbabku tidak tertata rapih, rambutku terurai bebas. Aku mulai menjabaki rambutku. Aku telah berbuat jahat pada Adikku sendiri. Oh Naya, maafkan kakakmu ini yang telah merebut kebahagiaanmu.

    “Aku, aku harus bagaimana” isakan tangis semakin kencang. Aku harus genggam apapun untuk bisa berdiri.

    Buku diary Naya aku taruh kembali pada tempatnya. Tanganku begitu lemas sekali. Jangan sampai Naya tahu bahwa aku ada di sini apalagi sudah membaca buku diary-nya. Aku pun bergegas keluar dari kamar dan merapihkan pakaian beserta jilbabku.

   Diruang tamu, ternyata Naya sudah ada di sana bercengkrama dengan ayah dan Ibu. Aku langsung cuci muka untuk menghilangkan muka sedihku ini. Aku harus nampak segar, bahagia dihadapan Naya dan orangtua.

    Semua sudah berkumpul, semua sudah disiapkan. Akhirnya yang ditunggu datang juga, Firman beserta kedua orangtuanya dan juga adik perempuannya telah ada didepan pintu rumah. Naya segera mempersilahkan masuk rombongan keluarga tersebut. Firman nampak ganteng sekali dengan pekaian kemeja yang dia kenakan. Sesekali aku mengagumi ketampanannya dan juga wibawanya. Tapi…aku melirik adikku yang dari tadi hanya bisa tersenyum. Sepatah kata pun aku belum dengar dari lisannya. “Ya Allah, tanpa sadar aku telah menyakiti hatinya!.” Batin ini terus menjerit.

    Tibalah pembicaraan antar keluarga dimulai. Awalnya pmbicaraan yang ada hanya basa – basi saja hingga Ayah Firman mulai menyatakan niat kedatangannya pada kedua orangtuaku. Aku mulai gugup. Ada rasa bahagia namun kesedihan yang aku rasakan sangatlah begitu terasa.

    “Saya beserta keluarga berniat atas kedatangan kemari bukan bermaksud bertamu saja, tapi kami ada maksud berniat untuk keperluan lainnya juga, yaitu, mewakili niat anak kami, Firman untuk melamar anak perempuan Bapak yang bernama Afifah Widyanti. Sekiranya Bapak dan Ibu Afifah bisa memaklumi kedatangan kami” tutur Bapak Firman dengan tegas dan tenang - Aku mulai gelisah.

    “Ya, terima kasih atas penuturannya, kami sangat menghormati kedatangan sekeluarga, khususnya Nak Firman yang tampan serta gagah ini untuk melamar putri kami, Afifah. Tapi, kami hanya mendukung kelancaran acara ini, dan selebihnya kami serahkan pada putri kami yang lebih tau jawaban atas apa yang Bapak Firman tuturkan – ayo Nduk” tutur Bapakku dengan santunnya.
    Aku gugup, bingung, hanya diam kaku saja dihadapan mereka yang sedang menantikan jawabanku, khususnya Naya, adikku - akhirnya aku berbicara.

    “Bismillah…a….a..aku. Aku menolak lamaran Firman”

     Bagai Guntur di siang hari, semua terkaget-kaget dan terheran-heran mendengar jawaban atas ajuan pertanyaan lamaran Firman. Apalagi Naya, dia sungguh tidak percaya apa yang barusan aku ucapkan.
    “Apa yang Mbak Ifah ucapkan, Naya, Ibu, dan Bapak sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu Mbak” Naya mengelus-elus dadanya tidak percaya. Sedangkan Firman hanya terdiam saja. Bingung ingin berkata apa.

    “Maaf semuanya telah mengcewakan, khususnya keluarga Firman. Ada hal yang ingin aku tanyakan pada kamu Firman” seketika Firman terkejut.

     “Ya, apa itu, Ifah?”

     “Apa Kamu selama ini mencintai Adikku, Naya. Jawab saja yang jujur. Aku tidak marah? Aku mencoba terus tersenyum dan ikhlas.

      Hening seketika, semua mata tertuju pada Firman.

     “Iya, aku mencintainya” keluargaku dan keluarganya hanya bisa menjadi penonton serta pendengar dari peristiwa yang sedang terjadi ini.

     “Dan, kamu Naya…Mbak tau kamu mencintai Firman, Mbak sudah tahu, sayang. Buku diary-mulah yang telah memberi tahu Mbak. Dan Mbak sudah tahu kenapa waktu itu kamu berdua saja di ruangan kelas. Kamu memaksa Firman untuk mencintai Mbak, bukan” menitilah air mata ini. “Naya, adikku yang Mbak cintai, seharusnya kamu jujur pada Mbak soal kamu mencintai seorang!” aku mencoba tegar.

       Naya hanya bisa terdiam dan menangis, lama kemudian kami berpelukan.

      “Maafkan Naya ya Mbak, Naya sudah tidak jujur pada Mbak” aku menyusutkan air matanya dengan jemariku.
      “Iya tidak apa-apa De, Nah sekarang, kamu harus siap-siap dilamar ya” Aku tersenyum padanya. Dia kaget tapi mampu diredam. “I…iya Mbak”

      Akhirnya Firman melamar Naya. Pernikahannya pun berlangsung lancar. Aku sungguh bahagia melihat Naya begitu cerianya, dia memperlihatkan sosok seorang perempuan yang luar biasa bagi diriku.

***

    “Mbak, aku sudah tidak sabar nih” ujarnya penuh semangat. Aku mencubit pipinya gemas. Kami sedang duduk diatas lonteng rumah orangtua kami. Tempat yang nyaman untuk bisa melihat rembulan sambil bercerita dari hati ke hati.

    “Rembulan malam ini indah sekali ya De”

    “Iya Mbak, lebih bercahaya dari pada sebelumnya. Seperti mbakku ini loh. Besok Mbak sudah siap?”
    “Ah, kamu bisa aja De” aku tertawa sambil bercanda dengan Naya ”Insya Allah sudah De, doakan yang terbaik ya untuk Mbakmu ini” aku tersenyum sambil memandang rembulan.

   Aku sudah menanti akan kedatangan hari esok. Namun hari ini aku akan berpuas diri dengan cahaya rembulan yang telah memberikan semangat baru bagi diriku. Ya, besok aku akan dilamar. Akhirnya akan tiba waktunya untukku. Terima kasih Naya, engkaulah cahaya rembulan itu, sayang.
End.

Penulis : Azmi Syihabuddin Nur.
Nama Pena : Ahmad Khoirul Zulfithor

ENGKAULAH BIDADARI ITU, SAYANG

Alhamdulillah tulisan saya ini Pernah diterbitkan oleh penerbit Hasfa Media dalam antalogi Bunga Serampai - SERINGKUH


berjalan empat tahun kehidupanku sebagai seorang isteri dari seorang suami yang di jodohkan orangtuaku. Dikaruniai tiga orang anak membuatku semakin bekerja keras mengurus segala kebutuhan rumah tangga ini. Suamiku yang hanya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik belumlah mencukupi segala kebutuhan; apalagi ketiga anak kami semuanya sudah bersekolah.

Akupun bekerja serabutan sebagai tukang cuci pakaian ataupun sebagai buruh cuci piringpun; demi keluarga aku tidak peduli. Aku sangat mencintai suamiku. Walau dijodohkan oleh kedua orang tua kami masing – masing tapi aku sudah belajar untuk mencintainya; hingga kini aku selalu mendukung dan menyemangatinya ketika dia dalam kegundahan maupun kebimbangan dalam mengambil keputusan. Masukan demi masukan aku berikan dengan penuh kasih sayang dan tulus. Anak – anak juga demikian, aku yang sebagai ummu darosah; pendidik sekaligus Ibu bagi mereka di rumah; mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan yang lebih. Dipernikahan kami yang ke empat, terasa kerenggangan di antara aku dan suami.

Tidak seperti awal pernikahan dahulu, kecintaan suamiku begitu sangat terasa. Perhatiannya padaku begitu melekat apalagi dengan sentuhan kata – katanya yang puitis, perempuan mana yang tidak tunduk hatinya. Setiap hari bila keluar selalu bersama – sama. Bergandeng tangan seperti orang yang sedang berpacaran pada umumnya. Bagiku sosoknya adalah tipe yang bertanggung jawab dan komitment terhadap keluarga. Namun ada keraguan muncul begitu saja. Ya Allah, aku mencintainya.

 ***

Ponsel suami tiba – tiba terdengar olehku. “Rupanya suami lupa membawa ponselnya ke tempat kerja” ujar batinku. Sepuluh pesan terlihat belum dibaca oleh suamiku. Aku yang penasaran ingin sekali melihatnya. Takut – takut ada berita penting yang seharusnya suamiku tahu.. Tapi karena penasaran aku membukanya. Betapa terkejutnya aku terbelalak mataku melihat siapa pengirimnya dan begitu juga isinya.

Lima pesan terkirim semalam, sedangkan sisanya subuh tadi.

Hai sayang kamu sudah makan belum?
Aku kangen nih say, kamu kemana sih?
Liburan kita jalan – jalan yuk, sekalian beliin aku baju yang bagus.

Membaca beberapa pesan saja sudah membuat badan ini terkulai lemas. Aku tidak menyangka ada perempuan lain di hati suamiku.

“Kurang apa diriku ini” batinku menjerit.

Aku menyangkal selama empat tahun ini aku sudah memberikan konstribusi lebih banyak kepada suami, dukungan moral dan semangat selalu aku sematkan kepada suami. Pekerjaan tambahan demi menambah pemasukan aku jalani karena aku tidak menyesal menikah dengan dirinya, karena aku tahu suamiku adalah suami yang terbaik dari Allah yang pantas aku cintai. Akupun langsung mempertanyakan tentang pesan tersebut kepada suamiku. Namun jangan sampai anak – anak tahu tentang apa yang terjadi. Yang pasti akan menghancurkan harapan mereka terhadap keluarga ini.

“Mas, apa maksud dari pesan ini?” menyodorkan ponsel padanya. Dia melihatnya, dan hanya bisa menghela nafas panjang dengan masygul.

“Saya tanya sekali lagi Mas, ini maksudnya apa, dan siapa Rani itu? Kekasih Maskah?” tubuh ini bergetar, bulir – bulir air mata ingin rasanya tumpah ruah ingin menangis sejadinya. Tapi demi ketegaran, demi kebenaran, aku ingin mendengarnya terlebih dahulu dari llisan suamiku.

Dia hanya terdiam mematung menatap air mataku yang ingin jatuh. Akhirnya dia angkat bicara.

“Dia mantan pacarku waktu SMA, kami sudah berhubungan sebelum kita menikah” Air mata tumpah seketika, aku menjerit – jerit sejadinya. aku tidak percaya, empat tahun bersama ternyata diam – diam suamiku menghianati cintaku.

Jadi selama ini aku mencintai seorang yang tidak pernah memberikan cintanya dengan tulus. Lalu untuk apa aku mencintainya.

***

Sebulan lebih kami tidak saling berbicara. Menegurpun saja tidak. Ketika makan bersama dengan anak – anakpun hanya menampangkan wajah dingin diantara kami. Aku tahu anak – anak sudah mulai curiga dengan kami; kadang mereka bertanya ada apa dengan kami, aku hanya menjawab, “tidak ada apa – apa” memberikan senyuman bagiku adalah cara tepat untuk mengurangi kecurigaan yang berlebihan dari mereka.

 Aku perhatikan ponselnya masih saja berdering di tangannya. Sambil menyembunyikan ponselnya dia membalas pesan itu. Aku tahu, dia masih berhubungan dengan gadis tersebut. Ini sudah menjadi keputusan bulatku. Tidak ada petimbangan lagi. Hanya saja anak – anak, mereka masih membutuhkan sebuah kasih sayangnya.

Sebuah keluarga yang utuh adalah dambaan mereka, tapi itu mugkin tidak bisa terwujud. Hati ini sudah terkhianati dan tersakiti. Biar aku yang menanggung segalanya tentang anak – anak nantinya. Suamiku sedang duduk di depan teras.

Aku bersiap mengutarakan keputusanku padanya. “Saya ingin cerai Mas” suamiku hanya terdiam sambil tersenyum padaku. Aku yang melihatnya menjadi bingung bercampur kesal. “Kenapa Mas tersenyum begitu, apa mungkin Mas sudah menungu saat ini?” bentakku di hadapannya, namun dia tidak bergeming. Tanpa disadari dia sudah berdiri dihadapanku dan memelukku dengan eratnya.

“Maafkan Mas. Mas sudah mengkhianati cinta Dinda. Tolong, beri Mas kesempatan kedua untuk bisa merajut cinta kita menjadi utuh selamanya.” Dia menangis.

“Lalu bagaimana dengan gadis itu Mas, apakah Mas sudah lupa?”

“Mas sudah tidak berhubungan dengannya lagi, dia hanya masa lalu Mas”

“Mas aku mencintaimu”

“Mas juga Dinda” isakan tangisnya terdengar di telingaku. Aku yang awalnya begitu marah tiba – tiba saja luluh begitu saja mendengarnya. Suamiku berbicara tulus, dari hatinya aku tahu itu. Dia mencium keningku.

“Engkaulah bidadari itu sayang” Aku memandangnya lekat – lekat, ponselnya berdering kembali.

(196 KATA)

Tentang saya : AHMAD KHOIRUL ZUL FITHOR adalah nama pena dari AZMI S.N yang juga merupakan nama Facebooknya. Biasa akrab dipanggil AZZAM oleh teman-teman. Beralamat di Jl. Dewi Sartika Bekasi Timur, Kota Bekasi. Masa SMP pernah dididik di sebuah Ponpes Pesantren Modern di Sumedang bernama Ponpes Modern Al-Aqsha yang bertempatkan di daerah jatinangor. Lulus SMA di Bekasi. Aktifitas sekarang adalah menulis, karena menulis sudah disukai dari waktu masih kecil. Beberapa puisi dan cerpen sudah diikutkan ke beberapa lomba termasuk antologi, dan pada tahun 2010 bergabung dengan FLP Jakarta untuk mengembangkan bakatnya untuk menjadi seoarang penulis Profesional sebagaimana yang dicita-citakannya.

Rabu, 24 Juli 2013

Persembahan Cinta (Dari Sahabat Kopaja Äisyah Lsety Lina")

Setiap hela nafas terbias bahagia
Menghirup aroma kebaikan yang makin dekat tercerna
Rintik gerimis kesyukuran pun mengalir penuh suka
Mendamba diri selalu bersama kalian di jalan-Nya



Teruntuk Sahabat sahabat Seperjuangan:


 

Hujan masih berbaris, menunggu waktu untuk menyapa penghuni bumi dengan senyum terindah yang mereka punya. Saya tertegun menatap satu persatu lembar demi lembar foto yang tersimpan rapi dalam memori.

Setahun lalu, kita tak pernah berkata sama. Setahun lalu, Saya, Anda, dia, mereka, masih berpencar dalam pendar menuju-Nya. Titik titik kesyukuran menyeruak setelah perlahan kita menjadi sebuah ikatan dalam setangkai mawar persahabatan. Membentuk komunitas, dalam kesamaan visi memajukan pendidikan anak anak terpinggirkan.

Saya bersyukur Allah mempertemukan kita dalam naungan ukhuwah dan jalan yang sama. Kita yang tadinya tak saling mengenal. Kita yang tadinya mungkin saja pernah berpapasan, dan tak pernah bertegur sapa, akhirnya berjalan beriringan menuju keridhoan-Nya lewat anak anak kecil bermata telaga itu.

Kalian, komunitas yang insya Allah akan selalu dianugerahi rahmat, berkah, dan hikmah hingga nanti, entah apakah kita masih bisa begini atau berpisah pada masanya. Dan yakinlah pada suatu pendapat, bahwa sebenarnya kita telah berteman jauh sebelum kita menyadarinya.

Ya, kita sudah ditautkan dalam untaian pertemanan oleh Allah, mungkin dalam Lauhul Mahfudz, dicatat dengan indah untuk mengemban amanah membimbing anak anak kecil bermata telaga itu menuju kehidupan yang lebih baik. :')

Alhamdulillah. Berjuta sujud tak mampu melukiskan betapa hebat takdir Allah mempertemukan kita dalam pertemuan yang indah, kisah yang indah, dan insya Allah, persahabatan yang indah hingga ke jannah-Nya. Aamiiin.

Terima kasih, atas kesempatan yang Engkau berikan, duhai Penguasa Hati, agar menjaga hati kami dengan menjaga hati hati kecil lainnya untuk berjalan di jalan yang Kau ridhai. Semoga amanah ini bisa kami tunaikan dan kami laksanakan dengan baik. :')

Teruntuk kalian, sahabat sahabat seperjuangan. Terima kasih atas semuanya. Maaf, tidak bisa saya ungkapkan dengan kata kata. Kalian mengajarkan begitu banyak hal pada diri yang papa ini. Tentang arti menerima, memberi, berbagi, dan peduli, menjaga hati, meluruskan hati, dan memelihara diri dari yang tak seharusnya melekat dalam nurani.:')




Keep istiqomah di jalan ini ya, sahabat sahabat pengajar di KOPAJA. Mungkin ini jejak yang bisa saya tinggalkan, dan mungkin bisa jadi kenang kenangan saat kita ditakdirkan berpisah untuk sebuah skenario lain yang lebih indah dari Allah.:')

Teruntuk adik adikku, Anak Anak Kecil Bermata Telaga

 



Belum menulis, dan air mata sudah mengalir mengingat betapa bahagia mata kalian melihat kedatangan kami. Membawa setitik kecil ilmu yang mungkin bisa membawa kalian menuju kehidupan yang lebih baik, khususnya di bidang pendidikan.

Bahkan, hujan deras pun kadang tak menyurutkan langkan menuju mushala kecil di lapak pemulung tempat kalian menimba ilmu bersama kami. Mushala kecil di rumah kalian, Lapak Pemulung.

Hati terenyuh mengingat betapa seorang Asep yang tadinya ngotot tidak mau ngaji, akhirnya luluh, dan berani belajar a ba ta tsa. Sementara teman teman lain yang berumur di bawahnya sudah sampai iqra' 3 sampai 6. Tidak malu untuk bertanya huruf Alif seperti apa. Tidak sungkan meminta bantuan membacakan surat pendek agar bisa dihafal saat shalat, karena ia selama ini malu bertanya kepada orang lain.:')

Tekad hati untuk jeda dan perlahan menjauh untuk menyiapkan diri agar siap berpisah dengan kalian pun runtuh mendengar cerita teman teman lain tentang tingkah polah kalian selama PKBM berlangsung. Kadang lucu, menggemaskan, atau kadang menyebalkan. Yah, itulah dunia kalian. Dunia anak anak. Dan diri harus mengakui, diri ini belum bisa meninggalkan kalian, pergi begitu saja tanpa pamit dan kesan mendalam.

Saya masih mencintai dunia kalian. Dunia yang berisi anak anak kecil bermata telaga penuh pengharapan bahwa diri dan teman teman pengajar lain adalah seorang pahlawan. Yah, pahlawan. Setidaknya pahlawan untuk membuat pendidikan lahir dan batin kalian menjadi sedikit lebih baik. 

Bukan banyak? Belum. Kami memang belum bisa memberikan banyak. Karena yang bisa memberikan banyak hanyalah Allah. Kami hanya ingin mengatakan, betapa kalian telah terlanjur mengakar dalam hati, sebagai sebuah intan yang harus kami jaga, kami bimbing, dan kami bantu semampu kami menjadi insan yang bermanfaat. Untuk siapa saja yang membutuhkan kalian di masa depan.

Teruntuk kalian, anak anak kecil bermata telaga. Yakinlah, kami akan tetap bertahan, terus berjuang membantu usaha kalian mengejar cita dan cinta. Tak perlu muluk mengharap duniawi. Mari bersama saja agar kita bisa menjadi manusia pilihan yang bermanfaat untuk sesama. Dengan peduli. Dengan kasih. Dan dengan ilmu yang kita punya nanti.

Semoga kalian bisa menularkan setetes ilmu yang tak seberapa dari kami kepada adik adik kalian. Anak anak kalian, dan siapapun yang membutuhkan.

Adik adik, catatan ini adalah memoar rasa seorang kakak untuk adiknya yang selalu menatap dengan polos. Sebening telaga. Yang mana kalian selalu mengharap limpahan ilmu penuh suka. Meski kadang kalian tak pernah tahu, betapa tak sabar kami menunggu hari minggu untuk bertemu muka dengan kalian anak anak bermata telaga.:')

Hari ini, saya buatkan catatan te
rindah, tentang saya, Anda, dia, mereka, yang telah menjadi satu dalam KITA. Inilah persembahan cinta di hari penuh cinta. 






*Segi Empat Jakarta, Jeda Rasa, 23713sts

 

Selasa, 23 Juli 2013

Gejolak hati (puisi)

Tidur terlelap menanti,
Senang rasa hati termakan waktu,
Kumenunggumu dipelisir pantai impian, sayang

Adakah kau merasakannya jua,
Rindu purnama menyinari relung jiwa,
Kaulah segala-galanya bagiku.

Ya Robb, lindungilah ia dari fitnah juga kesedihan,
Kuatkanlah ketaqwaannya padaMu,
Aku menunggu sabar di balut mega purnama.


Sungguh indah langit itu,
Kugapai mimpi-mimpimu, sayang,
Mahligainya takdir cinta dipenghujung masa.

Bekasi,
di atas doa dan harapan

Langit biru (puisi)

Hanya bisa memandang langit, ingin kutiupkan angin berlalu bersma kenangan,

Aku memandang langit, begitu tenang, ingin rasanya hati setenang awan biru, terbang 
bebas tanpa hambatan, bersama angin aku ingin berbagi cerita kehidupan di bawah sana.

Mentari hanya bisa tersenyum menyambut impianku, dia hanya mengatakan, "sabar".

Ya Allah ke mana lagi aku harus mencari, setitik embun pagi menyejukan keimananku,
Ke mana lagi kudapati ketentraman hati,

Cobaan badai itu pasti terjadi
Awan mendung penuh kilat menghiasi kehidupan ini.

Ke mana lagi aku mesti berlindung ketika badai itu terjadi, hanya udara dingin menyelimuti diri.

Aku berpasrah akan semua ini, menunggu badai berhenti di persimpangan hidup,

Bunga-bunga pun kembali segar, langit begitu cerah, kehidupan kembali semula.

Di atas bebatuan, menunggu impian,
Bekasi,



Puisi, Belum tau judulnya....

Kata "Selamat tinggal " adalah kata yang tidak pantas seharusnya terlontar,
Bersama Angin berlalu hati ini terbawa suasana pantai,
Deburan ombak itu sedang bercerita mengenai kerasnya kehidupan,
Datang perlahan namun keras menerpa bebatuan hingga terkikis,
Hanya bebetuan yang kokoh saja yang mampu mempertahankan bentuknya,

Aku berdiri tegap, kadang ole
Sekali ku tengok kanan dan kiri, ada beberapa orang bermain ombak dengan cerianya,
Ya, orang tua dan anak-anaknya sedang asik menikmati pantai ini, tepatnya menjelang matahhari terbenam,
Tak seharusnya aku berkata kasar padanya, memorial senja berkelabut di pikiranku,
Aku menunduk, tepian ombak megikis pasir seakan menenggelamkan kakiku dalam,

Senyumannya membuat diriku merasa bersalah, bentakan kata-kata dari lisanku menyapu keceriaanya,
Andaikan waktu bisa kembali mundur, tak akan aku melakukannya,
Kali ini cipratan air laut mengenai wajah; dingin namun ada rasa hangat disetiap sentuhannya-ini bukan air laut,
Laut mulai mengganas, ombak semakin kencang menerpa bebatuan, laut mulai pasang...
Aku berteriak sekencang-kencangnya hingga tak ada satu orang pun mendengarkannya.

Aku yang salah, tak seharunya aku menyakitinya; aku merebahkan diri di atas pantai tak peduli air laut menenggelamkan,

Satu-satu orang mulai pulang, tapi ada yang masih menikmati moment indah meatahari terbenam,
Pasir yang lembut serta gemuruh ombak menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk menentramkan hati,
Aku mulai merenung, bermuhasabah kepada-Nya.. memandang banyak kesalahan tlah diperbuat.
Sedih juga bersalah,

ng oleh terpaan angin laut,
Hujan bisa jadi tidak pernah mengajarkan apa-apa, hanya terus menurun.Selalu, dan pada saat yang sama di kereta terakhir, orang yang sedang didampingi oleh Isterinya,Perasaan dan keinginan yang terus menumpuk tidak memudar di antara keduanya,Meskipun waktu telah berlalu, awan tidak akan jelas dan air mata dari langit masih belum akan berhenti jatuh.

Kusimpan perasaanku padaMu
Walau ingin sekali banyak yang ingin kuungkapkan lebih kepadamu,
tapi mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saat ini,
Aku hanya bisa bercerita dalam diam, ingin sekali aku memperbaiki semuanya,
Matahari sudah terbenam,
Cukup waktu akan menyatakannya, menjadikannya pagi yang sangat indah

Langkah-langkah kecil kita membuat banyak pembelajaran dalam hidup ini,
bersabar dalam pilihan saat ini,
Besok adalah pagi yang sangat cerah yang kunantikan, ku harapkan dirimu juga demikian,
Aku sedang berbicara pada hamparan laut yang sangat luas, begitulah NikmatMu yang tlah Kau berikan,

Aku kembali pulang, meninggalkan pantai yang tenang ini, kembali untuk menyiapkan hari esok,
meninggalkan ukiran senyuman di atas pantai,
suatu saat aku akan kembali lagi, bertemu dengan suasana yang jauh lebih baik

16:00
(Bekasi, 28 April 2013)

Album terbaru ke 3 Edcoustic - L O V E (Official Album Preview) 2013


 Video

Lirik Kau Ditakdirkan Untukku- Inteam ft. Suhaimi & Aden Edcoustic (prelistening version) 
terucap syukurku
aku memilihmu
tuk menjadi teman 
hidup setia selamanya
belahan hati ini
kini telah terisi
aku dan dirimu
mengngikat janji bahagia
dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
aku bahagia 
ku dipertemukan belahan jiwaku
Tuhan bersatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
pegang tanganku
tataplah mataku
engkau ditakdirkan untukku
ikatan suci ini 
selalu ku kan jaga
meniti sakinah
penuh kasih sayang dan rahmat-Nya

Minggu, 07 April 2013

Download Lagu Nasyid Mungkin Ku yang Salah - DodiHidayatullah



Ku anggap ikatan ini
sangatlah berharga
indah dalam naungan cinta
ukhuwah yang telah kita bina

namun mengapa harus begini
teman berjuang rela ingkari
ku sesali semua ini
harus berakhir karena duniawi

ku kembalikan pada Tuhan
takkan ku bela tuk bertahan
biar ku saja yang harus mengalah
bermuhasabah mungkin ku yang salah


Download di Sini



Selasa, 02 Oktober 2012

Download Lagu 'Aku Anak Rohis Bukan Teroris'

Asma Nadia curhat dalam tulisannya di kolom Resonansi Republika terkait stempel ‘Rohis Teroris’ oleh satu stasiun TV. Akibat tayangan itu bbm penuh dengan himbauan protes, juga ajakan melaporkan ke KPI. Belum jumlah mention di twitter maupun tag di facebook untuk menggalang aksi bersama menuntut media tersebut meminta maaf, bahkan dibubarkan.

Tetapi baru-baru ini beliau bertemu dengan sekelompok anak muda -mantan aktifis rohis- yang uniknya memberi respon berbeda. Mereka tidak menghujat atau memaki, tetapi memilih untuk melawan dengan lagu. Melodinya mudah diingat. Liriknya sederhana namun mengembalikan senyum di wajah saya. Senyum yang jika boleh, ingin saya bagi kepada semua aktifis dan alumni rohis yang kemarin sempat terlukai, juga kepada siapa saja:


Aku anak rohis
Selalu optimis
Bukannya sok narsis
Kami memang manis.
Kami aktifis, benci anarkis
Walau kantungku tipis,
bukan teroris.


Ya maksud mbak Asma, telah dibuat sebuah lagu yang dipersembahkan untuk semua adik-adik para pengurus dan anggota Rohis di seluruh Indonesia, juga sebagai kado untuk para pembina, pendukung dan penggiat da'wah di tanah air.


Salut untuk Munsheed United, setelah menelurkan single perdana "Merah Putih", kali ini "Munsheed United" kembali menelurkan single terbarunya "Aku Anak Rohis" dengan versi terbaru.


Lagu ini merupakan inspirasi dari lagu "Anak Rohis" sekitar 14 tahun lalu yang dibawakan oleh Pak Isa Alamsyah - Tim Kaca Diri (Suami Penulis Mba Asma Nadia).Dalam lagu ini Munsheed United juga berkolaborasi dengan Mba Asma Nadia.


Saat mendengar lagu full-version nya langsung disambut dengan aransemen baru yang lebih ceria dan bersemangat dari awal hingga akhir lagu. Ditambah warna vokal Munsheed United yang bervariasi menambah taste lagu ini. Vokal Ryan Setya yang soulful, kang Diky yang unik, manisnya vokal Fiq dan Igoy, melengkingnya Bang Martha, gaharnya Bung Yoga dan ditutup dengan manis vokal Mba Asma. Two Thumbs Up!


Lirik Nasyid:
Reff 1
Aku anak rohis
Selalu optimis
Bukannya sok narsis
Kami memang manis

*Kubuka jendela pagi
Rasakan hangat mentari
Mulai kulangkahkan kaki
Semangat tinggi di hati

*Di sekolah berprestasi
Tak lupa aku tuk mengaji
Sebagai bekal di dunia
Dan akhirat nanti...

Reff 2 :




Kami aktivis
Benci anarkis
Walau kantongku tipis
Bukan teroris

Kepada
Ayah dan bunda
Baktiku selalu tercurah
Agar berkah sertamudah
Jalani semuanya Lillah

Bersama kawan lewati Hariku
Dengan berbagi
Syukuri dan tafakuri
Kebesaran illahi

Interlude :
Walau ku punya jenggot tipis
Tapi ku bangga jadi aktifis
Kumasih bisa berfikir logis
Aku Anak Rohis Anti anarkis



Title : Aku Anak Rohis (New Version)
Singer : Munsheed United feat Asma Nadia
Song : Asma Nadia dan Munsheed United
Lyric : Isa Alamsyah dan Munsheed United
Studio : Studio Bambu Digital Recording
Arranger : Diky Faturokhman
Mixing - Mastering : Studio Bambu

Munsheed United are :

Ryan Setya (solois nasyid Jakarta)
Igoy (solois nasyid Malang - Jawa Timur)
Fiq Aliskandar (solois nasyid Bandung)
Diky Faturokhman (Fatih Nasheed)
Yoga Al-Ghazali (solois nasyid Jakarta)
Indha Marta Rahardja (Fatih Nasheed)
Ramdhan (studio bambu/ann dki jakarta)
Sumber: http://www.iswandibanna.com 

Download Nasyid Terbaru Munsheed United - Merah Putih


Suguhan nasyid nusantara semakin marak terlebih saat momentum Hari Kemerdekaan Negeri ini. Sebuah kolaborasi munsyid-munsyid nusantara yang berbakat, dan berjuang untuk cita-cita negeri.



Lagu berjudul "Merah Putih" merupakan persembahan untuk negeri. Yang melibatkan munsyid-munsyid antara lain, Wiwid "Gradasi" - Fajar Febian - Ryan Setya - Fadly - Diky "Fatih"- Yoga Al-Ghazali - Iwang "Na'am" - Marta "Fatih" - Panji Rama - Gama Fatul - Ramdhan


Lirik patriotik ini adalah hasil karya sang maestro asal Jogja Kang Era Sugiarso. Sedangkan aransemen music adalah hasil racikan Marta dan Diki, keduanya sama-sama besar dalam grup acapella Fatih. Bersyukur negeri ini memiliki Studio Bambu Digital Recording, asuhan Bang Ramdhan yang telah mengolah lagu semangat ini mulai dari Recorded - Mixing - Mastering.


Lagu ini layak menjadi salah satu karya fenomenal tahun ini.


Lirik Munsheed United - Merah Putih


Kudengar jelas semangatmu bicara
tentang rentang bentang
Asa sebuah bangsa


Anginpun bertiup bawa isyarat
Bersama kibaranmu
gagah mengangkasa


Semangatmu itu merasuk jiwaku
Padu alir mengalir di urat nadiku
Denganmu aku pun merasa
Cita yg kupancang tinggi
'kan menjadi nyata ooooh..


Kibar smangatmu temani perjalananku
Tak terlihat lagi aral yg menghadang




Biarkan anganku melesat tinggi

Bersama Merah Putih
Biarkan citaku melayang tinggi

Bersama Merah Putih



Download Nasyid Terbaru: Diky Fatih (Mentari)

Sahabat mari terus tingkatkan kualitas diri di hadapanNya, salah satunya adalah dengan cara bersyukur. Dalam nasyid ‘Mentari’ karya mas Era Jogja dan mas Taqien ini mudah-mudahan bisa mewakili rasa syukur kita untuk menyambut pagi sebagai awal ibadah.


Nasyid yang dipopulerkan grup akapella Fatih 8 tahun lalu sekarang didaur ulang oleh Kang Diky Fathurokhman dalam balutan akustik. Kalau nasyid aslinya dibawakan secara akapella lead vocal Kang Taqien, kali ini lagu ‘Mentari’ disuguhkan dengan warna vocal khas kang Diky. Jujur, saya suka keduanya, versi Fatih (2004) maupun versi baru ini (2012).


Great song, Amazing Lyrics, Gorgeous Arangement also Inspiring Vokals. Nasyid ini layak menjadi koleksi Anda.


Lirik Nasyid Diky "Fatih" Fathurokhman - Mentari (Accoustic Version)


Song by Taqien "Fatih"
Lyric by Era Sugiarso
Music Diky Fathurokhman
Recorded on Studio Bambu Digital Recording
Mixing and Mastering by Studio Bambu Digital Recording


*)
Kulihat mentari
Tersenyum bersinar berseri
Sambuat pagi ini
Awal ibadah kami


Percik embun pagi
Menyapa kalbu insani
Puji dan syukur anugerah illahi
Slalu menemani


**)
Hidupku sekali harus terisi
Dengan ibadah penuh karya
Raih pahala dapatkan ridho tertinggi
:
Bagaikan mentari yang selalu berseri
Tunaikan tugas tanpa keluh
Dengan tulus tunaikan ayat dari Sang Rabbi


Back to *)


Burungpun bernyanyi
Sambut sinar sang mentari
Seolah mengerti
Pesan dari Sang Rabb
i


Kamis, 02 Agustus 2012

Listening Song AZALIA - ALI SASTRA





Alhamdulillah, kali ini, Ali Sastra sudah mengeluarkan Single terbarunya yang berjudul, AZALIA. Lagu yang khusus diciptakan oleh kang Aden Edcoustic yang juga merupakan soundtrack song untuk Novel terbarunya ini mengisahkan tentang keindahan bunga Azalia yang tumbuh hanya disebagian dataran tinggi didunia. 


Bagi yang ingin mendengarkannya, silahkan, di bawah ini :).




~Azalia~



Ku lihat bintang-bintang, tersenyum saksikan kau merekah...
Sang kumbang datang hap, hap hingga perlahan, bunganya merekah... berkembang-kembang.


Warnamu merah-merah 
Semerah danau di katumiri
Aku melangkah tu~wa~ga mendekati
Betapa indahnya ku suka.


Reef:
Detik-detik waktuku kian berlalu
Tak jemu aku memandangnya


Detak-detak jantungku berdenyut selalu
Ku jatuh hati memandangnya.

Selasa, 26 Juni 2012

Download Nasyid Rekomendasi Terbaru - Sujud Panjangku (Adi Pratama)

Sebuah pengakuan dosa selalu datang di akhir. Seorang mukmin sejati seyogyanya melakukan introspeksi setiap saat, diiringi memohon dan bersujud mengais cahayaNya agar kuat menuju ending yang khusnul khotimah. Rasanya nasyid terbaru dari kang Adi Pratama dengan title ‘Sujud Panjangku’ patut menjadi lagu yang mampu menggambarkan semua kondisi tersebut.


Dengan suara tebal dan vocal bass-nya, kang Adi mampu membawakan nasyid balada ini begitu syahdu. Tapi jangan salah, dengan tone suara beratnya ia tetap menyuguhkan lengkingan vocal yang ciamik menambah mellow nasyid kontemplatif ini.


Kang Adi yang juga alumnus kampus STAN ini telah berkiprah go nasional sejak menjadi finalis FNPI tahun 2009 bersama grup nasyid Faith. Kemudian di tahun 2011 ia bergabung di bawah bendera grup barunya ‘Sketsa’ yang sempat menghentak dengan nasyid ‘Tuhan, Aku Selingkuh’.


Baiklah sahabat, nasyid terbaru ini sudah bisa menjadi koleksi Anda dengan gratis dan halal. Silahkan klik Download Nasyid Terbaru Adi Pratama - Sujud Panjangku


Lirik Nasyid Adi Pratama - Sujud Panjangku
written by. Kang Dian Sukmawan Spazi




Dalam sujud panjangku teringat semua dosaku
Yang terbentang dari ujung ke ujung
Hingga tangis tak terbendung


Mengapa aku begini amat sungguh kubenci
Diri yang merana diam pasrah
Tak pantas aku meminta


Tuhan kupangku kedua tangan mohon ampunanMu
Bersujud ku dihadapMu teramat aku malu
Kumohon kembalikan aku pada cahayaMu
Kuatkan hatiku menujuMu

Download nasyid Shoutul Haq - Semua Insan Sama


Semua Insan Sama


Semua Insan Sama
Di hadapan Tuhannya
Tiada yang membedakan
Diantara dirinya

Tapi yang paling mulia
Manusia di sisi Allah
Ialah manusia
Yang bertakwa padaNya

Manusia di dunia
Tak ada yang berbeda
Allah ciptakan sama
Dari segumpal darah

Oleh itu kita
Jangan membeda beda
Kemiskinan dan kekayaan
Sesama kita

Ooo...jadikanlah semua itu
Sebagai bekalan kita di dunia
Sebab Allah berikan rizki pada kita
Dengan adil penuh keridhoan


Rabu, 20 Juni 2012

Pesantren Kilat Anak Jalanan (KOPAJA)


Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) memiliki salah satu misi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa anak jalanan. Melalui misi KOPAJA yang satu ini kami mengajak dan merangkul seluruh masyarakat dari berbagai lapisan untuk turut serta berpartisipasi dalam acara “Pesantren Kilat Ramadhan; Silaturahmi Anak Negeri Menuju Titian Kasih Ilahi”. Kegiatan ini membawa anak-anak jalanan untuk lebih mengenal ciptaan Allah melalui alam dan memupuk tali silaturahmi antar anak jalanan melalui konsep pesantren. Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak jalanan mampu merasakan kebersamaan Ramadhan yang sesungguhnya dan mau lebih mengenal Allah.

Insya Allah kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Hari, Tanggal : Sabtu-Ahad, 28-29 Juli 2012
Waktu : Pukul 10.00-selesai
Tempat : Villa Kathronan
Alamat : Megamendung, Bogor


Bentuk kegiatan yang kami lakukan kali ini berupa Pesantren Kilat dengan berbagai acara yang mampu menumbuhkan sikap peduli dan kompetitif, seperti pemberian materi utama, games edukatif, dan lomba-lomba islami.

Donasi donatur dapat disalurkan ke rekening di bawah ini:
- BRI 426501004118536 a.n. Neng Sri Mardiani
- BSM 7036336425 a.n. Neng Sri Mardiani
- BNI 0135962534 a.n. Lina Setyaningsih
- BCA 6010173581 a.n. Firdhaushia Razaq Karim


CP: Lisfatul Fatinah (085717892235), Ahmad Hubbani (08979714248)

TENTANG KOPAJA (KOmunitas Peduli Anak JAlanan)







KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) adalah komunitas yang bergerak dalam memanusiakan anak jalanan melalui pendidikan dan program-program pemberdayaan.

KOPAJA berdiri pada 8 April 2012 dengan semangat berbagi dan peduli yang dimulai dari perteman sesama pengurus yang mulanya hanya saling kenal di Facebook.

Visi:
Menjadikan anak jalanan (pengamen, pemulung, termasuk fakir miskin dan anak yatim) pribadi yang pembelajar dan generasi yang layak unggul di masyarakat.

Misi:
1. Meningkatkan kualitas iman dan taqwa pada diri anak jalanan.
2. Meningkatkan kualitas moral anak jalanan.
3. Meningkatkan budaya baca tulis di kalangan anak jalanan.
4. Memberikan layanan pendidikan formal dan nonformal kepada anak jalanan.
5. Memberikan program-program sosial kepada anak jalanan.

Tujuan:
Memanusiakan dan memberikan hak-hak anak jalanan sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Kesekretariatan KOPAJA Pusat:
Jl. Kemanggisan Ilir III RT 007 / RW 013, No. 18B,
Palmerah, Jakarta Barat, 11480

No. Rekekening donasi:
BRI a.n. Lisfatul Fatinah 038201014372506
BSM a.n. Erni anggraini 0867044140

Rabu, 06 Juni 2012

Lagu Terbaru Maher Zain - So Soon (with official video)





Maher Zain akhirnya merilis single kedua 'So Soon' dari album teranyarnya 'Forgive Me'. Setelah singel pertama 'Number One for Me' menginspirasi untuk lebih cinta kepada sang Bunda, kali ini Maher Zain menceritakan tentang kematian dan betapa sulitnya kehilangan seseorang.






Lirik Lagu Terbaru Maher Zain - So Soon



Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around
I miss the time you were around
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever


You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon


Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever


There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh

Sumber

Sabtu, 02 Juni 2012

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)



Kisah Perjalanan awal berjuang:  

Bismillahirrahmanirrahim
Teman-teman masih ingat dengan KPAJ Jakarta (Komunitas Peduli Anak Jalanan Jakarta)? Sekarang, singkatannya sudah direvolusi menjadi KoPAJA (supaya mudah disebut dan lebih akrab dengan nama Jakarta identik dengan angkutan umum “kopaja”). Dalam catatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang proses usaha saya untuk mengembangkan KoPAJA.

Lebih dari seminggu yang lalu, saya menghubungi Kak Zaky, kakak kelas saya di MTs N 12 Jakarta. Lebih tepatnya, saya menghubungi Kak Hulaifah, istri Kak Zaky, yang sudah saya anggap kakak sendiri. Melalui pesan singkat saya menanyakan wilayah yang banyak anak jalanannya, namun belum mendapatkan pembinaan. Setelah banyak berbincang, Kak Hulai menyarankan saya untuk ikut bersamanya membina beberapa anak jalanan di Terminal Pulogadung yang sangat kekuranganvolunteer (relawan) perempuan.

Setelah mendapatkan bantuan jaringan dari Kak Hulai, saya niatkan untuk bisa berkunjung ke Pulogadung kamis lalu (27/10). Tapi, karena harus mempersiapkan kepergian saya ke luar kota, saya baru bisa menyempatkan diri ke sana kemarin, kamis 3 November 2011.

Setelah shalat ashar, saya dan seorang teman saya berangkat dari kampus menuju Terminal Pulogadung. Kami berdua turun di pasar sebelum terminal. Ternyata perjalanan masih cukup jauh untuk menuju terminal, lebih dari 500 meter. Karena belum mengenal lingkungan sana, saya menunggu Kak Hulai yang masih dalam perjalan di depan mini market. Kurang lebih setelah setengah jam kami menunggu, Kak Hulai datang dan langsung mengajak kami berdua menuju rumah salah seorang anak jalanan.

***

Kami menelusuri tepian pasar yang ada di dekat terminal. Lalu memasuki gang kecil yang berkelok. Di ujung gang, saat jalanan mulai melebar, Kak Hulai memperkenalkan kami dengan seseorang yang kami panggil Mbak Sumi. Kemudian, Mbak Sumi mengajak kami bertiga melewati gang kecil yang hanya bisa dilewati satu orang. Perlahan-lahan kami kehilangan matahari senja, kami menelusuri gang yang lebih sempit lagi, lebih sesak lagi. Hanya bau kotoran tikus yang tertangkap oleh hidung saya.

Di unjung gang, kami masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana. Di dalam ruangan yang hanya bisa diisi oleh kurang lebih enam orang dengan duduk melingkar, ada satu  lemari pakaian tanpa pintu, satu rak piring, dan dua dipan (satu untuk duduk atau tidur dan yang lain untuk meletakan perabotan rumah tangga).

Di dalam sana Kak Hulai memperkenalkan kami dengan penghuni rumah yang bernama Bu Mari, beliau sedang sakit saat kami datang. Sambil menunggu adzan maghrib, kami berbincang dan mengatakan maksud kedatangan kami ke sana, juga membicarakan apa yang akan kami lakukan selepas maghrib nanti.

Singkat cerita, ba’da maghrib saya dan yang lainnya berangkat ke rumah lain yang lebih luas. Di sana saya bertemu dengan beberapa teman anak jalanan lain yang ingin belajar mengaji. Jumlah mereka ada empat orang. Pertama, namanya Nada, seorang gadis yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP, di suka sekali bercanda dan tertawa. Kedua, namanya Mbak Nida, wanita kurus dengan kulit gelap, yang ini sedikit malu-malu. Ketiga, Mbak Sumi, wanita kurus berkulit bersih yang sehari-harinya bekerja mengasuh anak tetangganya sendiri. Terakhir adalah pemilik rumah, namanya Mbak Nia, wanita lulusan SMA tahun 2007 yang pernah bekerja menjadi satpam.

***

Ini adalah pertemuan kedua mereka dengan Kak Hulai dalam kelas. Saya dan teman saya membantu Kak Hulai untuk mengajarkan baca tulis al-quran. Pelajaran hari ini adalah makhorijul huruf. Sebelum memulai pelajaran, Kak Hulai bertanya, “Nada dan mbak-mbak di sini tahu huruf hijaiyah kan?” Dengan spontan Mbak Sumi menjawab, “Saya mah gak tau tulisan Arab, Mbah Ulai. Ngaji aja seumur-umur kagak pernah.”

Saya benar-benar terkejut saat mendengar jawaban Mbak Sumi. Di usia yang kira-kira sebaya dengan Kak Hulai, ia belum mengenal huruf hijaiyah. Saat mendengar jawaban ini saya baru sadar kenapa saat maghrib tadi saya mengajak Mbak Sumi untuk shalat, ia hanya menjawab dengan senyuman sambil menggaruk-garuk kepala.

Saya tidak bisa membayangkan kepolosan Mbak Sumi yang mengakui bahwa dia belum pernah mengenal huruf hijaiyah sebelumnya. Bagaimana hidupnya selama ini? Tidakkah kedua orang tuanya mengajarkannya agama? Apakah kedua orang tua nya juga tidak mengenal al-quran? Apakah berarti kedua orang tuanya juga tidak shalat? Aiih, serentetan pertanyaan tiba-tiba menjejal di kepala saya.

Meskipun banyak celetukan yang membuat miris, proses belajar tetap belajar dengan lancar. Bahkan, penuh dengan warna. Ada Nada dengan gaya tertawanya yang membahana dan sering membuat saya terkejut. Mbak Sumi dengan kata khasnya “yassalam” setiap salah mengucapkan huruf atau ketika belum bisa juga mengucapkan ‘ain dan kho. Mbak Nida dan Mbak Nia yang cuma bisa senyum-senyum karena tidak bisa mengucapkan beberapa huruf. Seru!

Selesai mengajarkan makhorijul huruf dan member PR kepada teman-teman jalanan, kami memceritakan sebuah kisah tentang keislaman Ummu Sulaim. Di tengah keasikkan mendengarkan cerita, tiba-tiba hujan turun. Cukup deras. Mbak Sumi yang tidak menyadari hujan turun langsung terkejut saat tubuhnya terasa dingin dan dia langsung meminta izin untuk pulang lebih dulu karena takut atap rumahnya bocor.

Indah. Dari balik deretan bus terminal Pulogadung inilah aku menemukan momen indah di awal bulan ini. Mengenal Nada yang selalu tersenyum, Mbak Sumi yang blak-blakkan tapi malu-malu. Mbak Nida dan Mbak Nia yang lebih banyak diam tapi lucu. Beberapa jam sebelum bertemu mereka, saya masih tidak bisa menerka bahwa teman-teman yang akan saya temui adalah seperti mereka, teman-teman yang memiliki semangat luar biasa meskipun di lain sisi banyak yang melihat kekurang mereka.

Ah, banyak cerita bersama mereka yang tidak dapat saya tuangkan dalam kata-kata melalui catatan ini. Entahlah, terlalu indah bersama mereka. Dalam “ruang kelas dadakan” ini, saya menemukan sejumput kasih sayang yang berbeda kepada mereka yang belum saya kenal seutuhnya. Kasih sayang ini datang tiba-tiba. Kalian tahu?  Seperti ada embun yang metes di pipiku. Tes… Dingin seketika, tapi tidak menggigit. Dinginnya menyejukkan. Membuat mata pagi mebelalak. Segar. Lalu perahan embun itu menguap. Tidak menimbulkan panas. Tapi hangat yang menyuburkan semangat.

Ini baru dunia yang luar biasa!

Begitulah aku membatin sepanjang pertemuan dengan mereka. Bukan seberapa besar materil atau moril dalam memberi, tapi sebuah keistiqomahan yang lebih penting dari sederat angka nol dalam rupiah.

Oh iya. Saudara-saudariku, perlu kita sadari bersama bahwa sejatinya mereka tidak membutuhkan belas kasihan dari orang yang merasa lebih dari mereka, tapi kasih sayang dari kita dan rangkulan yang setara dan sederajatlah yang mereka butuhkan.

This is my exceptional live. Where is yours?

-Fatul-
Tanah Merah-Ruang Hijau
Jumat pagi, 4 November 2011



Berawal dari seorang akhwat yang luar biasa, Lisfatul Fatinah Munir dengan sebuah impiannya, dia mampu mendirikan sebuah lembaga komunitas anak-anak jalanan. Yang melihat betapa mirisnya kehidupan anak-anak bangsa yang terpinggirkan oleh pesatnya teknologi dan peradaban zaman. Dengan bermodalkan tekad,  dia berusaha sekuat mungkin dengan mengajak sebagian orang-orang yang tergerak hatinya untuk bersama-sama membangun komunitas tersebut di salahsatu jejaring sosial bernama facebook,  Lisfah dan teman-teman mulai menyusun rancangan berbagai pondasi kegiatan sekaligus launching.


Berbagai usaha telah dilalui, jatuh bangun semangat mereka telah merasakannya. mengadakan berbagai survey tempat guna untuk menampung perkiraan daerah mana yang akan dibina dan di bimbing oleh KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan). Berdasarkan informasi dari salahsatu sahabat/anggota KOPAJA, Lisfah dan teman-teman mengesahkan bahwa akan ada kegiatan BAKSOS di daerah apak pemulung, Kp. Sawah, Jl. Pandan, Gandaria-Kebayoran Baru Jakarta Selatan pada tanggal 15 April 2012, yang sekaligus launching awal perkenalan KOPAJA kepada masyarakat setempat khususnya anak-anak jalanan setempat.


Di bawah naungan Mushola yang cukup sederhana, yang berdiri di sekitar pemukiman tersebut, KOPAJA, mengadakan BAKSOS, dan mulai mendata anak-anak yang usianya masih kisaran 5-8 tahun ke atas akan dibina pada setiap ahadnya. Masukan demi masukan KOPAJA mulai berkembang pesat, anak-anak mulai rutin dibina dan diasuh penuh kasih sayang, KOPAJA bagaikan rumah kedua bagi anak-anak jalanan yang kabarnya sering mangkal di daerah Blok M ini.


Ahad yang indah, pagi-pagi anak-anak begitu ceria mendatangi Mushola guna ingin segera bertemu dengan Kakak-kakak dari KOPAJA. Dengan berbusana muslim/ah (pakaian sumbangan dari rekan-rekan KOPAJA) sungguh membuat mereka sangat menawan, nampak kebahagiaan terpancar darti raut wajah mereka, walau kadang begitu manja dan ingin dimanjakan. Sangat menggemaskan. :)







Membaca, menulis, menghitung dan menggambar adalah kegiatan favorit mereka yang sungguh ingin terus belajar. Dengan asuhan sahabat-sahabat KOPAJA yang membimbing penuh ceria, anak-anak pun berkembang pesat, menjadi putra-putri bangsa yang cerdas, pintar, dan berprestasi, walau masih sekadar memperlihatkan karyanya kepada kami. Pada kenyataannya kebanyakan dari mereka belum mengenyam pendidikan bangku sekolah sedikit pun.


Saya adalah salahsatu relawan KOPAJA merasa terenyuh akan melihat kegigihan akan keingintahuan, keinginan akan terus belajar. Harapan saya pada KOPAJA, semoga anak-anak mampu meraih prestasi dan cita-citanya. Dalam benak mereka masih tersimpan harapan untuk menjadi seorang yang berguna bagi masyarakat dan negara ini. Di tangan merekalah peradaban baru akan terbangun. Untuk itulah kami berharap, sahabat-sahabat Blogger, dan saudara/i seiman dan sehati, untuk mengulurkan bantuan dana atau pun itu dengan ikhlas dan tulus untuk membantu pendidikan mereka.


Bagi yang ingin membantu atau bergabung menjadi anggota/relawan, silahkan bergabung ke Group KOPAJA di : http://www.facebook.com/groups/249396828440850/


Atau bisa hubungi lebih lanjut ke saudara/i:


* Lisfah: 085717892235
(Facebook Lisfatul Fatinah Munir)
http://www.facebook.com/lisfatul.fatinah.munir




*Bagas Triyatmojo: 085694040289
(Facebook Bagas Triyatmojo)
http://www.facebook.com/bagas.triyatmojo



WEB KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

Recent Coment

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)

KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan)
Bagi yang ingin mengulurkan tangan sebagai donatur, silahkan kunjungi grup dan bergabung (Klik Gambar)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More